Jenderal Khalifa Haftar dianggap telah menghancurkan peluang terbaik untuk memecahkan masalah Libya. (Foto: AFP).
Jenderal Khalifa Haftar dianggap telah menghancurkan peluang terbaik untuk memecahkan masalah Libya. (Foto: AFP).

Serangan Tripoli Hancurkan Harapan akan Perdamaian Libya

Internasional konflik libya libya
Arpan Rahman • 12 April 2019 09:04
Tripoli: Sama seperti orang-orang Libya yang mengharapkan terobosan, Jenderal Khalifa Haftar telah menghancurkan peluang terbaik untuk memecahkan masalah Libya. Konferensi nasional yang akan mulai bekerja pada Minggu sudah ditunda, membuat negara kembali ke terpecah-belah, kebuntuan dan keraguan.
 
Selama 18 bulan, Ghassan Salame, perwakilan khusus Sekretaris Jenderal PBB mempersiapkan landasan untuk konferensi ini. Seratus lima puluh dari elit utama Libya diundang ke Ghadames, kota di perbatasan Aljazair untuk memutuskan sebuah piagam nasional.
 
Tujuannya demi mendapatkan mayoritas peserta guna menyetujui jalur politik baru untuk pemilihan umum pada 2019. Ada juga rencana bagi program reformasi ekonomi. Reformasi sektor keamanan juga menjadi agenda, khususnya buat mencoba mengurangi pengaruh milisi yang merusak.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Dengan demikian konferensi akan menyelesaikan perpecahan di negara ini dan menyatukan lembaga-lembaga politik, militer, dan ekonomi.
 
Ini upaya guna memetik pelajaran dari proses yang mengarah ke Perjanjian Politik Libya yang ditandatangani di Skhirat, Maroko pada Desember 2015. Perjanjian itu menciptakan Dewan Presidensi dan Pemerintah Kesepakatan Nasional. Namun otoritasnya tidak pernah diterima oleh pemerintah saingan di timur negara itu.
 
Karena itu, saatnya memecahkan kebuntuan dan mencoba sesuatu yang baru dan berbeda. Pertama, partisipasi dalam konferensi akan menjadi lebih luas: Skhirat dinegosiasikan dan ditandatangani oleh hanya 25 warga Libya; Ghadames akan mencakup pemangku kepentingan sektor politik, suku, ekonomi, dan keamanan. Kedua, substansinya akan lebih luas: Skhirat terutama bersifat politis; Ghadames akan mengintegrasikan politik, ekonomi, dan keamanan.
 
Salame dengan susah payah sudah meletakkan dasar dengan mengadakan serangkaian konsultasi di sekitar Libya dan berbicara dengan semua pemain utama. Dia membantu mengatur pertemuan di Abu Dhabi bulan lalu antara Fayez al-Sarraj, perdana menteri, dan Jenderal Haftar di mana kesepakatan mestinya dicapai.
 
Bersamaan langkah-langkah ini, muncul sejumlah kecil kabar baik tentang ekonomi Libya. Produksi minyak mencapai 1,2 juta barel per hari di bulan November. Pendapatan mengalir ke bank sentral, memungkinkan surplus anggaran disepakati untuk kali pertama dalam beberapa tahun terakhir.
 
Masalah likuiditas sedang ditangani dan pengenaan suplemen valuta asing menurunkan nilai tukar pasar gelap. Pertumbuhan diperkirakan 4 persen tahun ini. Ada aroma optimisme di udara.
 
Kemudian Jenderal Haftar melancarkan serangannya ke Tripoli. Pada awalnya, tampaknya operasi ini dirancang demi memperkuat posisinya sebelum konferensi nasional. Sekarang sepertinya tidak mungkin. Dia unjuk hidung ke PBB, meluncurkan serangannya ketika Antonio Guterres, sekretaris jenderal, tiba di Tripoli dan mengabaikan permintaan kedua pihak supaya menghentikan kampanyenya ketika mereka bertemu di Benghazi.
 
PBB mengutuk serangan terhadap bandara sipil di Tripoli sebagai kemungkinan kejahatan perang. Itu membuat makin sulit membawa Jenderal Haftar kembali ke meja perundingan.
 
Tindakan sederhana menyerang Tripoli telah menghilangkan peluang bagi terobosan -- untuk saat ini. Tetapi konsep menyatukan begitu banyak pemangku kepentingan tetap menjadi pilihan terbaik guna menyelesaikan perpecahan politik, kesukuan, dan ekonomi negara.
 
Apa yang mungkin terjadi? Jenderal Haftar tidak bisa menang. Sementara ia memiliki cukup banyak dukungan rahasia di Tripoli dari warga yang membenci milisi dan menginginkan keamanan, cukup oposisi bersenjata siaga buat berpesta pertumpahan darah.
 
Jika dia dikalahkan, itu tidak akan menyelesaikan masalah: dia masih menguasai timur, sebagian besar selatan dan sebagian besar pelabuhan minyak. Gencatan senjata mungkin menjadi pilihan, tetapi sulit melihat bagaimana hal itu akan menciptakan lingkungan untuk kembali ke proses politik. Terlalu banyak kebencian dan ketidakpercayaan. Dan jika Jenderal Haftar mencoba menggunakan kendali atas instalasi minyak atas nama mengamankan konsesi, ia berisiko merusak satu-satunya kabar baik di Libya saat ini.
 
Demi mencegah perang saudara yang berkepanjangan, para pendukung dan kawan-kawannya perlu membujuknya agar mundur dan kembali ke meja perundingan. Tapi itu tidak mudah.
 
Sementara itu, yang kalah adalah rakyat Libya. Pemandangan paling menyedihkan di sejumlah kota dan ibu kota Libya adalah antrean panjang di bank-bank untuk mendapatkan uang tunai, tumpukan sampah di jalan-jalan, seringnya pemadaman listrik dan preman bersenjata berkeliaran di jalan-jalan. Libya layak mendapatkan yang lebih baik. Dan seluruh dunia tidak mampu menjaga negara yang gagal ini di perbatasan Eropa.
 

(Opini ditulis oleh Peter Millett, Duta Besar Inggris untuk Libya, 2015-18. Dikutip Medcom.id dari Financial Times, edisi Kamis 11 April 2019.)
 

(FJR)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif