medcom.id, Mosul: Pasukan khusus Irak mempertahankan posisi mereka di Mosul, sehari setelah memasuki kota yang dikuasai kelompok militan Islamic State (ISIS) untuk pertama kalinya sejak 2014.
Di tengah terbatasnya jarak pandang dari pesawat yang dipimpin Amerika Serikat (AS) dan drone yang mendukung pasukan Irak dalam serangan mereka ke kota terbesar kedua di negara itu.
"Tidak ada serangan baru yang direncanakan untuk Rabu 2 November," ujar komandan pasukan khusus umum Jenderal Haider Fadhil, seperti dikutip Associated Press, Rabu (2/11/2016).
Pihak Baghdad berkata, Selasa 1 November, pasukan elit telah menerobos pinggiran timur dari kubu kota utama ISIS di Irak, mencengkeramkan kukunya di kawasan Jdeidet al-Mufti setelah dua pekan pertempuran. Seraya menggembar-gemborkan pertempuran perkotaan sengit akan berkobar dalam beberapa pekan ke depan.
Satuan pasukan khusus juga memasuki kawasan Gogjali di batas kota dan mengambil alih gedung televisi pemerintah setempat. Berbagai laporan mengatakan, kontak senjata sebagian besar telah lenyap di Gogjali setelah pertempuran sengit, pada Selasa, tapi bunyi senapan sporadis dan tembakan artileri masih sesekali terdengar.
Kekhawatiran telah merebak atas nasib warga sipil, dengan ISIS yang dituduh menggunakan mereka sebagai tameng manusia untuk memperlambat gerak maju aliansi. Dewan Pengungsi Norwegia (NRC), yang bekerja dengan para pengungsi dan warga terusir di wilayah domestik Irak, memperingatkan bahwa lebih dari 1 juta warga sipil yang terperangkap di dalam Mosul berada "dalam bahaya" tatkala tentara Irak maju.
Ketua dewan Irak, Wolfgang Gressmann, mengatakan para pekerja lembaga bantuan itu "sekarang bersiap untuk menghadapi yang terburuk. Kehidupan 1,2 juta warga sipil berada dalam bahaya besar, dan masa depan seluruh Irak sekarang dalam taruhan." Organisasi itu menyebutkan, sekitar 18.000 warga Irak telah meninggalkan rumah mereka sejak awal operasi militer untuk merebut kembali kota ini.
Mosul ditaklukkan dalam serbuan kilat ISIS pada musim panas 2014, jatuh ke tangan militan bersamaan dengan banyak lokasi di dataran Niniveh dan sekitarnya.
Dua pekan lalu, Irak mengumumkan kampanye besar untuk membebaskan kota, yang terakhir menjadi kubu pertahanan perkotaan yang telah dicaplok oleh ISIS dan diduduki selama tahun lalu, termasuk Tikrit, Ramadi, dan Fallujah.
.jpg)
Pasukan Irak terus berupaya menguasai Mosul secara penuh (Foto: AFP).
Pertempuran demi Mosul akan menjadi ujian terberat. Namun untuk pasukan Irak, yang berkumpul di kota bersama Peshmerga Kurdi, pejuang suku Sunni dan milisi Syiah, tugasnya hanya memblokir kemungkinan kelompok militan mundur ke padang gurun di timur Suriah. Koalisi ini didukung oleh kekuatan udara AS dan kalangan penasihat militer di lapangan.
Perkiraan jumlah warga sipil di Mosul telah berfluktuasi antara 1 juta dan 2 juta orang hingga sejauh ini. Mosul kota terbesar dalam kontrol ISIS dan sayap kunci dari kelompok yang memproklamirkan diri --tapi dengan cepat telah surut-- sebagai kekhalifahan.
Bagian timur dari Mosul, yang dibagi oleh sungai Tigris, akan menjadi lokasi yang pertama jatuh dari kontrol ISIS, dan kelompok itu diyakini memasang jebakan di jembatan ke wilayah barat. ISIS diyakini memiliki 5.000-6.000 anggota yang bersembunyi di kota itu, meskipun pejabat AS mengatakan dalam beberapa hari terakhir bahwa para pemimpin senior kelompok itu sudah berusaha melarikan diri.
Perlawanan keras datang dari ISIS
Pasukan khusus Irak menguasai stasiun televisi negara di Mosul. Raihan positif ini dicapai saat koalisi pasukan tempur yang bersekutu dengan Irak maju terus dengan serangan untuk menghalau ekstremis ISIS dari kota itu.
Wartawan Kurdi dan Barat yang turut dengan pasukan itu mengatakan, pasukan koalisi mendapat perlawanan keras di dalam kota, menghadapi tembok beton dan bom pinggir jalan yang ditanam oleh para pejuang ISIS untuk memperlambat gerakan maju pasukan Irak.
Militer Irak juga mengatakan, divisi kendaraan lapis baja mendekati kawasan Mosul tenggara, untuk membebaskan desa-desa terpencil dan mengepung kota. Unit-unit koalisi terpisah bergerak menuju Mosul dari utara juga dilaporkan merebut beberapa desa kunci.
Serangan yang ditunggu lama datang dua minggu setelah koalisi pasukan Irak dan Kurdi, yang didukung oleh milisi Syiah, suku Arab Sunni dan serangan udara pimpinan AS, memulai operasi militer terbesar di negara itu sejak tahun 2003, untuk membersihkan Mosul dari militan ISIS.
ISIS jadikan warga sipil tameng hidup
Sementara itu, di Jenewa, juru bicara Dewan HAM PBB, Ravina Shamdasani mengatakan, pejuang ISIS terus memaksa ribuan warga sipil lebih dekat ke Mosul untuk menjadi perisai manusia bagi ISIS di dalam kota itu.
Shmadasani sebelumnya menyampaikan laporan oleh pihak Dewan HAM PBB pada Jumat 28 Oktober. Menurutnya, Rabu pekan lalu, 232 warga sipil dilaporkan ditembak mati. Di antara jumlah ini, 190 di antaranya adalah mantan pasukan keamanan Irak.
Shamdasani menyebutkan laporan ini sudah dikuatkan dengan fakta sebanyak mungkin. Namun dia mengkhawatirkan bahwa jumlah korban tewas bisa terus bertambah.
Shamdasani menambahkan bahwa pembunuhan dengan gaya eksekusi dilakukan oleh ISIS, sebagai sebuah strategi memaksa mereka yang tinggal di utara Irak untuk masuk ke dalam Mosul.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News