medcom.id, Mosul: Seorang utusan khusus pemerintah Amerika Serikat (AS) mengatakan hanya soal waktu sampai pasukan keamanan Irak masuk dan membebaskan kota besar ini, tapi hal itu akan memakan waktu dan bertahap.
Pasukan khusus Irak menguasai stasiun televisi negara di Mosul Selasa 1 November, sewaktu koalisi pasukan tempur yang bersekutu dengan Irak maju terus dengan serangan untuk menghalau ekstremis Islamic State (ISIS) dari kota itu.
Wartawan Kurdi dan Barat yang turut dengan pasukan itu mengatakan, pasukan koalisi mendapat perlawanan keras di dalam kota, menghadapi tembok beton dan bom pinggir jalan yang ditanam oleh para pejuang ISIS untuk memperlambat gerakan maju pasukan Irak.
Militer Irak juga mengatakan, divisi kendaraan lapis baja mendekati kawasan Mosul tenggara, untuk membebaskan desa-desa terpencil dan mengepung kota. Unit-unit koalisi terpisah bergerak menuju Mosul dari utara juga dilaporkan merebut beberapa desa kunci.
.jpg)
Kendaraan militer Irak bergerak ke pertahanan ISIS di Mosul (Foto: AFP).
.jpg)
Kendaraan militer Irak bergerak ke pertahanan ISIS di Mosul (Foto: AFP).
Serangan yang ditunggu lama datang dua minggu setelah koalisi pasukan Irak dan Kurdi, yang didukung oleh milisi Syiah, suku Arab Sunni dan serangan udara pimpinan AS, memulai operasi militer terbesar di negara itu sejak tahun 2003, untuk membersihkan Mosul dari pejuang ISIS.
Di Washington hari Selasa, Utusan Khusus Anti-teror AS, Brett McGurk, menyuarakan optimisme tentang serangan itu.
"Sekarang hanya soal waktu sebelum pasukan keamanan Irak masuk dan membebaskan kota besar ini," ujar McGurk, seperti dikutip VOA Indonesia, Selasa (2/11/2016).
Tetapi ia juga menyerukan kesabaran, memperingatkan bahwa merebut kembali kota itu akan memakan waktu dan bertahap.
ISIS jadikan warga sipil tameng hidup
Sementara itu, di Jenewa, juru bicara Dewan HAM PBB, Ravina Shamdasani mengatakan, pejuang ISIS terus memaksa ribuan warga sipil lebih dekat ke Mosul untuk menjadi perisai manusia bagi ISIS di dalam kota itu.
Shmadasani sebelumnya menyampaikan laporan oleh pihak Dewan HAM PBB pada Jumat 28 Oktober. Menurutnya, Rabu pekan lalu, 232 warga sipil dilaporkan ditembak mati. Di antara jumlah ini, 190 di antaranya adalah mantan pasukan keamanan Irak.
Shamdasani menyebutkan laporan ini sudah dikuatkan dengan fakta sebanyak mungkin. Namun dia mengkhawatirkan bahwa jumlah korban tewas bisa terus bertambah.
Shamdasani menambahkan bahwa pembunuhan dengan gaya eksekusi dilakukan oleh ISIS, sebagai sebuah strategi memaksa mereka yang tinggal di utara Irak untuk masuk ke dalam Mosul.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News