Menlu Retno Marsudi di pertemuan darurat negara anggota Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) di Istanbul, Turki. (Foto: Dok.Kemenlu RI).
Menlu Retno Marsudi di pertemuan darurat negara anggota Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) di Istanbul, Turki. (Foto: Dok.Kemenlu RI).

Di KTT OKI, Menlu Paparkan 7 Poin Terkait Penembakan Christcurch

Internasional ktt oki menlu retno lp marsudi Penembakan Selandia Baru
Fajar Nugraha • 22 Maret 2019 18:05
Istanbul: Menteri dari negara anggota Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) melakukan pertemuan darurat membahas masalah penembakan di masjid Christcurch, Selandia Baru. Pertemuan di Istanbul, Turki itu dilakukan pada Jumat 22 Maret 2019.
 
Para menteri pun menyerukan langkah-langkah ‘tulus’ terhadap Islamofobia setelah serangan terhadap dua masjid Selandia Baru yang menewaskan 50 orang.
 
Baca juga: PM Selandia Baru Pimpin Hening Cipta bagi Korban Penembakan.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


“Kekerasan yang digerakkan oleh Islamofobia membutuhkan "langkah-langkah yang tulus, komprehensif dan sistematis untuk mengatasi penderitaan ini," kata para menteri dari Organisasi Kerja Sama Islam dalam sebuah pernyataan.
 
Indonesia yang diwakili Menteri Luar Negeri Retno Marsudi juga berkesempatan melontarkan tanggapannya. Menlu Retno menyampaik tujuh poin mengenai serangan di dua masjid di Christchurch itu.
 
“Pertama, Indonesia mengutuk keras serangan teroris biadab di dua Masjid di Christchurch, Selandia Baru. Kedua, Indonesia mengutuk pernyataan tidak bertanggung jawab, menarik dan ofensif yang dibuat oleh Senator Fraser Anning dari Australia,” ujar Menlu Retno, dalam pertemuan itu, seperti dikutip dari Twitter Menlu RI, Jumat 22 Maret 2019.
 
Poin ketiga yang disampaikan Menlu Retno, terkait posisi Indonesia sebagai anggota DK PBB. Menurutnya, Indonesi bersama-sama dengan Kuwait, memprakarsai pernyataan pers Dewan Keamanan PBB yang menyatakan kecaman terkuat terhadap serangan Christchruch.
 
Keempat, Menlu menyebutkan Christchurch adalah pengingat bahwa tidak ada negara yang kebal dari terorisme. Christchurch adalah bukti kurangnya pemahaman tentang Islam sebagai agama damai.
 
“Kita harus memperkuat nilai toleransi. Hidup berdampingan secara damai hanya dapat dibangun di atas dasar toleransi yang kuat,” tutur Menlu dalam poin kelima.
 
“Kita harus menggandakan upaya dalam mempromosikan dialog antaragama. Christchurch mendorong kami untuk memperkuat kolaborasi global kami dalam mempromosikan dialog,” isi poin keenam yang disampaikan mantan Dubes RI untuk Belanda itu.
 
Baca juga: Azan Berkumandang di Seantero Selandia Baru.
 
Terakhir Menlu meminta kepada umat OKI, karena umat menghadapi tantangan yang sangat besar, OKI harus berdiri teguh dan tegas dalam mengatasi masalah nyata umat, seperti diskriminasi terhadap Muslim dan penindasan terhadap Palestina.
 

“Saya meminta anggota OKI untuk memperkuat komitmen terhadap Kelompok Kontak OKI untuk Perdamaian dan Dialog sebagai platform untuk berurusan dengan Islamofobia dan semua jenis diskriminasi,” tegasnya.
 
Menlu pun menegaskan bahwa OKI harus menjadi mercusuar nyata dari Islam yang damai dan mengejar lebih banyak dialog dan inisiatif damai.
 

(FJR)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif