Kapal induk Rusia, Admiral Kuznetsov ditarik dari Suriah (Foto: Sky News).
Kapal induk Rusia, Admiral Kuznetsov ditarik dari Suriah (Foto: Sky News).

Rusia Tarik Kapal Induk dari Suriah

Fajar Nugraha • 06 Januari 2017 18:30
medcom.id, Damaskus: Rusia mulai mengurangi kehadiran pasukannya di Suriah. Mereka mulai menarik kapal induk dari wilayah Suriah.
 
Kapal Induk Admiral Kuznetsov akan menjadi yang pertama keluar dari wilayah konflik. Tetapi tidak diketahui apakah jet tempur yang ada di Kuznetsoc akan ditinggalkan di Suriah atau dibawa kembali.
 
"Sesuai dengan keputusan Komandan Tertinggi Angkatan Bersenjata Rusia, (Presiden) Vladimir Putin, Kementerian Pertahanan Rusia mulai untuk mengurangi kehadiran pasukan di Suriah," ujar Panglima Angkatan Bersenjata Rusia Jenderal Valery Gerasimov, seperti dikutip Sky News, Jumat (6/1/2017).
Putin sebelumnya sudah sepakat untuk mengurangi kehadiran pasukannya di Suriah menyusul kesepakatan gencatan senjata antara pemberontak Suriah dan Pemerintah Suriah. 
 
Kapal Induk Admiral Kuznetsov memulai tugasnya di Suriah pada pertengahan November. Hal itu menjadi pertama kali kapal induk tersebut dikerahkan dalam perang.
 
Selama bertugas, kapal induk ini sudah kehilangan dua pesawat tempurnya yakni MiG 29 dan SU 33. Kedua jet tempur itu jatuh di Laut Mediterania pada November dan Desember 2016.
 
Selama ini Rusia menjadi pendukung utama dari Presiden Suriah Bashar al-Assad. Sejak 2015, Rusia meningkatkan kekuatannya di Suriah untuk mendukung Assad dan menargetkan operasi di Aleppo.
 
Pasukan loyalis Assad akhirnya berhasil mengalahkan pasukan pemberontak di Aleppo Desember 2016 lalu. Hal itu dianggap sebagai kemenangan terbesar dalam lima tahun terakhir.
 
Menyusul kemenangan itu Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB) mengadopsi resolusi yang mendukung gencatan senjata menghentikan sementara perang saudara di Suriah. Gencatan senjata ini merupakan yang keenam kalinya dalam perang Suriah.
 
(Baca: DK PBB Dukung Gencatan Senjata, Pemberontak Suriah Ancam Menolak).
 
Resolusi DK PBB ini mendesak pendistribusian bantuan kemanusiaan secara cepat, aman dan tidak mengalami gangguan di seluruh Suriah.
 
Selain itu, resolusi mengantisipasi pertemuan Pemerintah Suriah dan perwakilan oposisi di Astana, Kazakhstan pada akhir Januari. Perbicaraan ini merupakan yang pertama dalam satu tahun dan dimediasi oleh Rusia, Turki dan Iran.
 
 

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(FJR)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan