Pemimpin Korea Utara Kim Jong-un saat tiba di Hanoi, Vietnam. (Foto: AFP).
Pemimpin Korea Utara Kim Jong-un saat tiba di Hanoi, Vietnam. (Foto: AFP).

Melihat Potensi KTT Trump-Kim di Vietnam

Internasional Amerika Serikat-Korea Utara
Arpan Rahman • 27 Februari 2019 18:07
Hanoi: Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan bahwa ketika dia bertemu Kim Jong-un di Metropole Hotel Hanoi pada Rabu malam, potensi kesepakatan menjadi ‘luar biasa’.
 
Baca juga: Tiongkok Mengawasi, Tunggu Kemajuan di KTT Hanoi.
 
Sedikit pihak yang akan membantah hal itu. Sebuah gerak membatasi persenjataan Korea Utara dan mulai mengintegrasikan kembali negara itu ke dalam komunitas internasional, akan menjadi langkah signifikan dari jurang perang nuklir.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Jika masa lalu merupakan panduan, Trump akan menyatakan pertemuan itu kemenangan gemilang apa pun yang terjadi. Terutama pada saat ia tahu bahwa kabar apa pun dari Hanoi akan berbagi layar dengan semburan mantan pengacaranya, Michael Cohen, yang mengatakan hal-hal yang menghancurkan tentang presiden.
 
Karakter Trump, keinginan masa lalunya untuk menyenangkan para penganiaya, dan kesulitan politiknya di dalam negeri telah menimbulkan kekhawatiran bahwa ia mungkin akan memberikan konsesi yang signifikan di Vietnam. Dengan demikian melepaskan pengaruh AS atas Korut.
 
Sebuah laporan tentang rancangan perjanjian yang diterbitkan oleh Vox telah menambah kekhawatiran tersebut. Di situ tersirat bahwa AS akan melonggarkan sanksi sebagai imbalan atas janji yang tidak jelas buat menutup reaktor penghasil plutonium besar di kompleks nuklir Yongbyon.
 
Menurut laporan ini, rincian spesifik tentang penutupan akan didelegasikan kepada sejumlah kelompok kerja, yang memungkinkan Korut menunda sementara tekanan internasional agar berkurang. Laporan Vox belum dikonfirmasi dan baik Trump maupun Kim suka kejutan.
 
Tantangan di Hanoi
 
Menjadi perhitungan adalah apakah pertemuan Hanoi berhasil menambah substansi dalam hasil retorika KTT pertama di Singapura pada Juni. Di sana kedua pemimpin sepakat dengan "denuklirisasi semenanjung Korea" tetapi menafsirkan frasa itu dengan cara yang sangat berbeda.
 
Trump mempresentasikannya sebagai janji Kim melucuti senjata, sementara Kim hanya mengulangi slogan Korut yang mengacu pada proses pelucutan senjata multilateral jangka panjang yang didefinisikan secara samar-samar. Di mana Pyongyang akan dibebaskan dari kendala serta diakui sebagai kekuatan senjata nuklir.
 
Klaim Trump begitu royal mengalihkan perhatian dari hasil positif di Singapura. Moratorium Korut buat uji coba nuklir dan rudal tetap bertahan. Fasilitas telah dibongkar di instalasi uji mesin rudal dan sebuah terowongan dihancurkan di situs uji coba nuklir.
 
Selain itu, penilaian Universitas Stanford menyimpulkan bahwa sementara Korut terus membuat bahan fisil untuk bom lebih banyak, Korut memperlambat kerjanya dalam merancang senjata dan merancang hulu ledak.
 
"Temuan kami menunjukkan bahwa yang terakhir melebihi yang pertama, sehingga secara keseluruhan ancaman berkurang," kata penulis Stanford, seperti disitir dari laman Guardian, Rabu 27 Februari 2019.
 
Sementara itu, pemerintah Korea Selatan telah melakukan pembicaraan sendiri dengan Kim yang mengakibatkan penurunan signifikan dalam ketegangan. Termasuk protokol konkret mengurangi kemungkinan kecelakaan atau kesalahan perhitungan yang mengarah kepada perang.
 
Baca juga: Warga Vietnam Ingin Saksikan Perdamaian Dunia.
 
Tantangan di Hanoi jauh lebih sulit -- tidak hanya untuk memperbaiki atmosfer tetapi juga untuk meningkatkan eskalasi dan persenjataan nuklir selama beberapa dekade terakhir. Itu akan melibatkan pembatasan dan mulai menarik gudang senjata Korut (diperkirakan berjumlah beberapa lusin hulu ledak), buat menyetujui cara memverifikasi pelucutan senjata, dan mulai mencabut sanksi.
 
Inilah beberapa elemen yang mungkin ada dalam perjanjian Trump-Kim di Hanoi. Itu semua akan mencerminkan substansinya atau mencolok dengan tidak dibahas sama sekali.
 

Program senjata nuklir
 

Sejauh ini jeda dalam uji coba nuklir dan rudal bersifat sukarela dan informal. AS akan berupaya mengunci janji tidak ada pengujian sebagai bagian dari perjanjian.
 
Kompleks nuklir di Yongbyon akan menjadi titik tawar paling penting yang dikehendaki. Kim sudah mengatakan kepada Korsel bahwa dia siap mematikan reaktor 5 megawatt di sana, yang merupakan sumber plutonium Korut. Ini juga merupakan sumber utama tritium, yang diperlukan membuat bom termonuklir, atau 'hidrogen'.
 
Reaktor sedang beroperasi lebih dari 30 tahun dan mendekati usang. Korut masih dapat membuat hulu ledak nuklir dengan uranium yang sangat diperkaya, dan Korut dapat memiliki reaktor rahasia di tempat lain. Tetapi penonaktifan dan penutupan reaktor yang nyata dan terverifikasi akan menjadi langkah yang sangat konkret menuju pelucutan senjata.
 
Yongbyon juga merupakan lokasi pabrik pengayaan uranium. Menonaktifkan dan membongkar itu akan menjadi prestasi besar lainnya. AS percaya ada pabrik rahasia lain di tempat lain, dan akan menginginkan itu juga dibahas di meja perundingan, mungkin pada tahap selanjutnya.
 
Rudal
 
AS sedang mencari batasan pada produksi rudal balistik antarbenua (ICBM) yang mampu mencapai benua AS, dan menginginkan ICBM yang ada dibongkar. Ini akan menjadi kenyamanan terbatas bagi sekutu AS di wilayah yang berada dalam jangkauan yang lebih pendek.
 
Verifikasi
 
Kesepakatan pengendalian senjata apa pun tidak berarti banyak tanpa menunjukkan bahwa pelucutan senjata telah terjadi.
 
Paling tidak, Korut diharapkan mengizinkan inspeksi luar dari lokasi uji coba rudal dan nuklir yang sudah mulai dibongkar.
 
Mengizinkan inspektur internasional, Badan Energi Atom Internasional (IAEA) khususnya, kembali ke Yongbyon, akan menjadi langkah yang jauh lebih signifikan.
 

Sanksi
 
AS telah mengisyaratkan siap melonggarkan desakannya bahwa tidak ada sanksi yang akan dicabut sampai Korut melucuti senjata. Itu justru mengisyaratkan pendekatan bertahap di mana beberapa pembatasan akan dicabut bersama langkah-langkah yang diambil oleh Pyongyang.
 
Tangan pemerintah terikat pada banyak sanksi AS yang diamanatkan secara kongres, tetapi dapat membujuk dewan keamanan PBB melonggarkan beberapa langkah internasional, mungkin membolehkan perluasan perdagangan dan investasi antara Korsel dan Korut.
 
Postur militer AS
 
Di Singapura, Trump mengejutkan sekutu AS dengan mengumumkan penangguhan latihan militer bersama dengan Korsel. Itu mungkin diperpanjang sebagai imbalan atas moratorium pengujian Korut.
 
Langkah yang lebih signifikan adalah jika Trump mengumumkan di Hanoi bahwa ia akan menarik kehadiran pasukan AS di Korsel. Itu akan membunyikan lonceng alarm di Kongres dan di Seoul, terutama jika itu dilakukan tanpa berkonsultasi dengan negara-negara sekutu.
 
Hubungan bilateral
 
Secara umum diperkirakan bahwa AS dan Korut akan mengambil langkah ke arah membangun kembali hubungan diplomatik dengan mendirikan kantor penghubung di ibu kota masing-masing.
 
Diperkirakan akan terlihat kemajuan lebih lanjut tentang pemulangan jasad sisa-sisa tentara AS yang terbunuh dalam Perang Korea.
 
Langkah yang lebih substansial adalah deklarasi yang mengakhiri permusuhan sejak 1950 dan pecahnya perang Korea. Konflik itu hanya ditangguhkan tiga tahun kemudian dengan gencatan senjata, tetapi tidak ada perjanjian damai. Sebuah deklarasi bahwa perang akhirnya selesai akan memiliki arti simbolis yang sangat penting bagi kedua Korea.
 

(FJR)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif