Pemimpin Korea Utara Kim Jong-un tiba di Vietnam sebelum bertemu Donald Trump. (Foto: AFP).
Pemimpin Korea Utara Kim Jong-un tiba di Vietnam sebelum bertemu Donald Trump. (Foto: AFP).

Tiongkok Mengawasi, Tunggu Kemajuan di KTT Hanoi

Internasional Amerika Serikat-Korea Utara
Arpan Rahman • 27 Februari 2019 17:13
Hanoi: Sorotan lampu akan bersinar terang ke arah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dan pemimpin Korea Utara Kim Jong Un. Tidak jauh dari panggung besar itu, Tiongkok akan mengawasi dengan cermat dan jika semuanya berjalan lancar, pasti dinyatakan bahwa Tiongkok juga telah memainkan peran dalam upaya mempromosikan perdamaian di Semenanjung Korea.
 
Baca juga: Warga Vietnam Ingin Saksikan Perdamaian Dunia.
 
Kim tiba di Hanoi pada Selasa, menempuh perjalanan dengan kereta api dan mobil yang berlangsung lebih dari 60 jam. Membawanya dari Timur Laut Tiongkok ke ibu kota Vietnam.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Demi perjalanannya, Tiongkok sekali lagi memastikan keamanan Kim saat ia bepergian. Buat pertemuan puncak pertama di Singapura, Kim diterbangkan jet sewaan yang disediakan Beijing. Kali ini, dia diberi pengawalan di seluruh negeri, memicu keluhan daring tentang pembatasan lalu lintas yang akhirnya disensor pemerintah Tiongkok.
 
Kereta lambat melintasi Tiongkok
 
Lu Chao, seorang ahli Korea Utara di Akademi Ilmu Sosial Liaoning, mengatakan tidak ada yang aneh dengan pengaturan perjalanan Kim.
 
"Ini hanya salah satu pilihan transportasi," kata Lu. "Dan mungkin karena dia melakukan perjalanan jauh dari utara ke selatan Tiongkok, di seluruh Tiongkok, itu mungkin memberinya kesempatan di sepanjang jalan untuk melihat berbagai bagian negara ini," cetusnya, seperti dinukil dari laman VOA News, Rabu 27 Februari 2019.
 
Dia katakan bahwa sementara ada spekulasi bahwa Kim mungkin berhenti di Beijing dalam perjalanan ke Hanoi, itu tidak perlu karena Kim dan Presiden Tiongkok Xi Jinping bertemu pada awal Januari dan melakukan pembicaraan mendalam tentang KTT Hanoi.
 
"Mungkin setelah pertemuan di Hanoi, dalam perjalanan kembali ke Tiongkok, Kim akan menyampaikan laporan singkat kepada pemimpin Tiongkok," kata Lu.
 
Sedekat bibir dengan gigi lagi
 
Lu menambahkan bahwa komunikasi yang begitu akrab adalah tradisi yang sudah lama terjalin antara kedua negara. Hubungan antara Tiongkok dan Korea Utara sering digambarkan sedekat bibir dan gigi, tetapi selama lima tahun pertama ketika Xi Jinping menjabat, beberapa kalangan merasa hubungan itu telah dihancurkan giginya.
 
Tiongkok bergabung dengan negara-negara lain memberi sanksi kepada Pyongyang dalam menanggapi uji coba rudal dan nuklirnya yang berulang dan baru pada Maret tahun lalu Xi Xiping bertemu dengan Kim untuk kali pertama. Sejak itu, mereka bertemu dalam banyak kesempatan untuk periode waktu yang lama, kata Alexander Neill, seorang pakar senior di Institut Internasional untuk Studi Strategis di Singapura.
 
"Sebagai satu-satunya sekutu nyata Korut, Tiongkok ingin dilihat sebagai pemangku kepentingan utama dalam seluruh inisiatif ini," kata Neill.
 
Sekarang, Beijing merancang koreografi hubungan itu sebagai sesuatu yang lebih dari sekedar tentatif, katanya.
 
"Saya pikir Xi Jinping cukup adil, ingin dilihat tidak hanya sebagai arbiter, tetapi mungkin seseorang yang telah proaktif dalam memulai dialog semacam ini," katanya.
 
Pembuangan Hanoi
 
Namun, seberapa banyak pujian yang dapat diklaim Tiongkok, tergantung pada seberapa besar kemajuan yang dibuat di Hanoi. Dan seberapa banyak kemajuan yang dapat dibuat akan tergantung pada apa yang dapat disepakati keduanya dalam hal denuklirisasi dan langkah-langkah apa yang disiapkan Washington untuk menanggapi itu.
 
Di Tiongkok ada harapan bahwa kemajuan akan dibuat, tetapi jelas bahwa perbedaan besar masih tetap ada, kata Lu Chao.
 
"Untuk KTT ini, sementara kita mungkin tidak percaya bahwa akan ada kemajuan komprehensif, kita berharap bahwa beberapa kemajuan yang menggembirakan akan dilakukan yang menuju ke arah itu," kata Lu.
 
Kemajuan itu setidaknya bisa mengarah pada pelonggaran sanksi, tambahnya. Di AS, muncul kekhawatiran bahwa Presiden Trump mungkin akan menurunkan standar terlalu jauh ketika menyangkut pertanyaan tentang tindakan apa yang mungkin memenuhi syarat Pyongyang untuk menerima pelonggaran sanksi.
 
Kekhawatiran itu juga diutarakan dalam komentar di Tiongkok, kata David Kelly, direktur penelitian di Tiongkok Policy, sebuah kelompok penelitian yang berbasis di Beijing.
 
"Ada banyak elemen sandiwara di (KTT) ini. Semua orang dipijat untuk menmperlihatkan wajah-wajah yang ramah, makan siang nyaman, pertemuan menyenangkan, dan komunike yang bersahabat, tetapi ada banyak detail bagus yang perlu kita lihat dalam komentar (yang menyusul kemudian di Tiongkok)," kata Kelly. "Saya benar-benar tidak melihat Tiongkok kurang peduli tentang masalah Korea," sambungnya.
 
Secara resmi, Tiongkok akan ingin mengklaim sebagai pelindung KTT, pemimpin sirkus ini, tetapi masih harus dilihat apakah Trump mungkin dapat menarik Kim sedikit lebih dekat ke Washington, kata Kelly.
 
Jelas ada kekhawatiran di Tiongkok bahwa itu bisa terjadi, tambahnya.
 
"Inilah yang mereka khawatirkan tahun lalu dan tidak ada alasan untuk berpikir bahwa ketakutan itu telah berakhir," kata Kelly. "Beijing tidak aman dalam cengkeramannya atas Korut seperti yang diklaim dan banyak media percaya," pungkasnya.
 

(FJR)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif