Presiden Filipina Rodrigo Duterte (baju biru) di tengah para pendukungnya. (Foto: AFP).
Presiden Filipina Rodrigo Duterte (baju biru) di tengah para pendukungnya. (Foto: AFP).

Kampanye Anti-Narkoba bawa Duterte Dekati Kemenangan Pemilu

Internasional politik filipina filipina
Arpan Rahman • 14 Mei 2019 16:27
Manila: Para sekutu Presiden Filipina Rodrigo Duterte siap menyambut kemenangan dalam pemilu sela, menurut hasil tidak resmi pada Selasa. Kemenangan ini menandakan persetujuan tegas atas kebijakannya dan membuka jalan bagi rencana paling kontroversialnya.
 
Baca juga: Pemilu Sela Filipina, Posisi Duterte Diyakini Menguat.
 
Perang narkoba Duterte yang mematikan telah menuai kecaman internasional, tetapi merupakan pusat dari daya tarik populis yang sudah melambungkan popularitasnya secara istimewa di antara tokoh Filipina sejak menjadi presiden pada 2016.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Dalam pemungutan suara, Senin, kandidat loyalis pemerintah untuk Senat menuju kemenangan pemilu yang gemilang, menurut data yang dikeluarkan oleh PPCRV, sebuah pemantau pemilu yang dijalankan lembaga Katolik yang diakreditasi pemerintah untuk menghitung suara.
 
Sebanyak 94 persen surat suara dihitung lebih awal pada Selasa, sekutu Duterte berada di jalur untuk mengambil sembilan dari 12 kursi terbuka di majelis tinggi, yang telah menjadi benteng melawan beberapa proposal paling kontroversial presiden.
 
Hasil resmi, lengkap dari komisi pemilihan negara diperkirakan keluar dalam beberapa hari mendatang. Secara historis, 24 senator negara -- yang melayani masa jabatan enam tahun -- memiliki reputasi sebagai orang yang lebih mandiri daripada majelis rendah.
 
Sebagai bagian dari penumpasan narkoba yang menewaskan lebih dari 5.000 orang, Duterte sudah berjanji memberlakukan kembali hukuman mati dan menurunkan usia tanggung jawab pidana dari 15 menjadi 12.
 
Filipina melarang hukuman mati pada 1987, mengembalikannya enam tahun kemudian dan kemudian menghapusnya lagi pada 2006. Dia juga berjanji untuk mengamandemen konstitusi negara demi menciptakan republik federal di mana daerah akan diberi lebih banyak daya buat mengatasi kemiskinan yang berakar dalam di negara itu.
 
Namun, seterunya melihat rencana itu sebagai upaya untuk memperluas cengkeraman pada kekuasaan atau melemahkan sejumlah lembaga demokrasi bangsa.
 
"Pemilu ini baru saja memberi Duterte kekuasaan penuh untuk mendorong pemerintahannya ke kesimpulan logisnya: transformasi lengkap sistem politik negara," analis Richard Heydarian berkata kepada AFP, dikutip dari laman Guardian, Selasa 14 Mei 2019.
 
Baca juga: Janda Filipina Maju di Pemilu Demi Politisi yang Terbunuh.
 
Lebih dari 18.000 posisi dipertaruhkan dalam pemungutan suara, terutama pos-pos lokal, tetapi juga setengah dari Senat dan hampir 300 kursi di Dewan Perwakilan Rakyat.
 
Pemungutan suara menunjukkan ledakan kekerasan terisolasi, yang tidak biasa dalam persaingan berdarah Filipina untuk kursi terpilih. Setidaknya 20 orang tewas dan 24 lainnya luka-luka dalam kekerasan terkait pemilihan menjelang pemilu, menurut hitungan resmi.
 
Militer mengatakan sembilan orang ditembak dan dilukai Senin saat konfrontasi di tempat pemungutan suara di pulau selatan Jolo, yang merupakan markas bagi pemberontak dan klan lokal yang kuat.
 
Jumlah pemilih stabil sepanjang hari dan pemilih di seluruh negeri membanjiri media sosial dengan gambar-gambar kuku mereka yang bernoda tinta, yang dipulas biru sebagai perlindungan terhadap kecurangan pemilih.
 
"Saya memilih banyak kandidat yang disetujui oleh Presiden Duterte karena pemerintahannya benar-benar menunaikan tugasnya," pemilih Myrna Cruz, 51, mengatakan kepada AFP di Manila.
 
"Saya mendukung program mereka, termasuk kampanye anti-narkoba, tapi saya berharap pertumpahan darah akan berhenti," tambahnya, menggemakan dukungan banyak orang Filipina yang bernuansa penumpasan.
 

(FJR)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif