Sultan Abdullah Shah menggantikan posisi Sultan Muhammad V sebagai Yang Dipertuan Agung ke-16. (Foto: AFP).
Sultan Abdullah Shah menggantikan posisi Sultan Muhammad V sebagai Yang Dipertuan Agung ke-16. (Foto: AFP).

Rotasi Tetap Menjadi Acuan Pemilihan Raja Malaysia

Internasional malaysia politik malaysia
Arpan Rahman • 25 Januari 2019 07:09
Ipoh: Pakar hukum konstitusi Malaysia, Abdul Aziz Bari, membantah anggapan bahwa jika ada perubahan dalam Kesultanan suatu negara bagian, bahwa Sultan yang baru akan dipindahkan ke akhir daftar untuk pemilihan Yang Dipertuan Agung (YDPA).
 
Baca juga: Sultan Pahang Ditunjuk sebagai Raja Baru Malaysia.
 
Dia tidak setuju dengan mitranya Prof Shamrahayu A. Aziz, yang dilaporkan mengatakan bahwa Pasal 4(2)(b) dari Jadwal Ketiga Konstitusi Federal menyatakan bahwa ketika "ada perubahan dalam Penguasa suatu negara, bahwa negara akan ditaruh ke akhir daftar".

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Mengapa Sultan Pahang harus masuk daftar buncit hanya karena dia yang paling junior?" tanya Abdul Aziz, yang juga merupakan anggota komite eksekutif negara bagian Perak.
 
Dia katakan ketika diwawancarai Malay Mail bahwa Shamrahayu sudah mengabaikan apa yang terjadi pada tahun 2002 ketika Raja Perlis menjadi Agung meskipun dia bukan yang paling senior pada waktu itu.
 
"Ketika Sultan Selangor meninggal pada tahun 2002, Raja Perlis naik tahta," katanya, seperti disitir dari laman Malay Mail, Jumat, 25 Januari 2019.
 
Abdul Aziz berkata, saat ini, penunjukan Yang Dipertuan Agung bersifat rotasi. "Tidak masalah jika kamu muda atau junior. Selama masa jabatan Anda tiba, Anda jadi raja,” tambahnya.
 
Abdul Aziz memperingatkan agar tidak menjauh dari tradisi mematuhi rotasi. "Itu akan menjadi akhir dari monarki," katanya.
 
Ditambahkan, ketika Shamrahayu menafsirkan ketentuan tersebut, dia lupa bahwa ada ide di baliknya yaitu bahwa kehadiran kerajaan untuk melayani suatu tujuan.
 
"Ini tidak seperti presiden. Anda berbicara tentang federasi," tambahnya, mencatat bahwa ketentuan tersebut tidak dapat ditafsirkan secara terpisah.
 
Baca juga: Sekelumit Kisah Kehidupan Raja Malaysia yang Baru.
 
Dia menunjukkan bahwa dalam putaran pertama, setelah kemerdekaan Malaysia pada 1957, Penguasa Negri Sembilan menjadi Yang Dipertuan Agung pertama diikuti Selangor, Perlis, Terengganu, Kedah, Kelantan, Pahang, Johor, dan Perak, yang mencerminkan negara-negara anggota pendiri asli.
 
"Selama putaran kedua rotasi, Negri Sembilan menjadi Agung diikuti oleh Selangor, Perlis, Terengganu, Kedah, dan Kelantan dengan baris berikutnya adalah Pahang," katanya.
 
Sultan Muhammad V mengundurkan diri sebagai Agong pada 6 Januari, hanya menjabat selama dua tahun 24 hari dari mestinya lima tahun masa jabatannya. Konferensi Penguasa bersidang pada Kamis 24 Januari 2019, telah memilih Sultan Abdullah Shah dari Pahang sebagai Yang Dipertuan Agung yang baru.
 

(FJR)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif