Sultan Abdullah Shah yang menjabat Yang Dipertuan Agung ke-16 Malaysia. (Foto: AFP).
Sultan Abdullah Shah yang menjabat Yang Dipertuan Agung ke-16 Malaysia. (Foto: AFP).

Sekelumit Kisah Kehidupan Raja Malaysia yang Baru

Internasional malaysia politik malaysia
Arpan Rahman • 24 Januari 2019 16:38
Kuala Lumpur: Selain menjadi anggota dewan FIFA -- yang menjabarkan visi sepakbola global -- ia adalah presiden Asosiasi Hoki Asia dan mantan ketua Asosiasi Sepak Bola Malaysia.
 
Setelah bersekolah di Malaysia, pemain polo yang cemerlang itu melanjutkan studi di Inggris, di mana ia menyepuh ilmu di akademi militer Sandhurst, menurut sebuah biografi yang diterbitkan kantor berita resmiBernama.
 
Baca juga: Sultan Pahang Ditunjuk sebagai Raja Baru Malaysia.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Demikianlah sekilas riwayat kehidupan Raja Malaysia yang baru terpilih, Al-Sultan Abdullah Ria'yatuddin Al Mustafa Billah Shah bin Sultan Ahmad Shah al-Musta'in Billah, seperti dikutip dari laman Straits Times.
 
Bangsawan dari Negeri Pahang
 
Lahir pada 30 Juli 1959 di Pekan, Pahang, Sultan Abdullah dinobatkan menjadi Sultan Pahang pada 15 Januari 2019, menggantikan ayahnya, yang mengundurkan diri. Kemunduran sang ayahandanya diputuskan pada pertemuan Dewan Kerajaan pada 11 Januari.
 
Dia adalah putra pertama dari Seri Paduka Ayahanda Sultan Ahmad Shah dari Pahang dan Seri Paduka Bonda Tengku Ampuan Afzan sebagai anak keempat dari delapan bersaudara. Kakak tertuanya, Tengku Meriam. Tengku Abdullah memulai pendidikannya di St. Thomas School, Kuantan, dan melanjutkan ke Aldenham School dan Davis College, London.
 
Sebelum menjadi Sultan Pahang pada Januari 2019, Abdullah memegang posisi Tengku Mahkota, posisi yang dianugerahkan kepadanya oleh ayahnya pada 1975. Abdullah memegang jabatan itu selama 44 tahun sebelum menjadi Sultan pada Januari 2019. Selain itu, Abdullah juga ditunjuk sebagai Wali Negeri Pahang dua kali, yang pertama ketika ayahnya terpilih sebagai Yang Dipertuan Agong pada 26 April 1979 hingga 25 April 1984. Pada 2016, ketika kesehatan ayahnya memburuk, Abdullah kembali menjabat sebagai Wali Negeri Pahang.
 
Pada 15 Januari 2019, di usia 59, Abdullah didaulat sebagai Sultan Pahang modern keenam menyusul pengunduran diri ayahnya karena sakit. Upacara berlangsung di Istana Abu Bakar, kediaman resmi Sultan Pahang.
 
Dia pertama kali menikah di Istana Bukit Serene, Johor Bahru, 6 Maret 1986, menyunting putri ketiga Sultan Iskandar dari Johor dengan istri pertamanya, Enche' Besar Kalsom Binti Abdullah (Nona Josephine Treverrow) K.D.Y.T.M. Tunku Hajjah Azizah Aminah Maimunah Iskandariah binti Sultan Iskandar Al-Haj, (lahir di Istana Bukit Stulang, Johor Bahru, 5 Agustus 1960). Istrinya kemudian bergelar Tengku Puan sebagai tambahan untuk gelar Paduka Putri Tunku di Johor pada 1986. Dia adalah salah satu saudara perempuan Sultan Ibrahim Ismail Johor saat ini. Mereka dikarunia empat putra dan dua putri.
 
Ia menikah, kali kedua, pada 1991 dengan Cik Puan Julia Rais (lahir di Kota Bharu, Kelantan, 19 Februari 1971), mantan aktris, putri Abdul Rais. Mereka memiliki tiga anak perempuan.
 
Setelah didaulat memberi pesan kuat
 
Dalam pidato kerajaan pertamanya sebagai Sultan Pahang modern keenam pada upacara proklamasi yang dihelat di Istana Abu Bakar, pada 15 Januari 2019 lalu, ia menyampaikan pesan yang kuat menyerukan kerjasama yang lebih besar di antara semua kalangan termasuk pemerintah negara bagian dan masyarakat dalam tawaran untuk membuat negara lebih sejahtera.
 
Sultan Abdullah mengatakan kekuatan negara tergantung pada penguasanya. Kekuatan penguasa negara, katanya, diukur oleh kekuatan administrasi negara dan kesetiaan dari rakyat terhadap penguasa mereka.
 
Untuk mengilustrasikan pendapatnya, Sultan Abdullah mengutip pepatah Melayu kuno: "Kuat berdiri pohon kerana akarnya, kuat akar kerana tanahnya."
 
Ini berarti kekuatan cabang pohon tergantung pada akarnya, dan akar tersebut mendapatkan kekuatan dari tanah.
 
"Dengan mempertimbangkan kenyataan ini, saya menyerukan kepemimpinan negara di setiap tingkatan untuk memberikan layanan terbaik dengan kepercayaan dan tanggung jawab penuh untuk rakyat serta untuk menegakkan ketakwaan setiap saat," cetusnya, seperti dilansir dari laman New Straits Times.
 
"Hanya para pemimpin dengan kualitas-kualitas ini yang akan mencerminkan dan mengevaluasi tindakan dan keputusan mereka, yang telah mereka buat, karena mereka akan diadili (selama Hari Penghakiman) di akhirat," katanya.
 
Kepada rakyatnya, Sultan Abdullah berjanji bahwa ia akan menjadi tempat bagi orang-orang untuk mencari perlindungan selama masa bencana dan kesedihan.
 
"Ayah saya (Sultan Ahmad Shah) memegang teguh prinsip, 'Raja dan rakyat tiada terpisah' (penguasa dan rakyat tidak dapat dipisahkan), yang akan saya teruskan dalam kepemimpinan saya," tegasnya.
 
"Kepada orang-orang terkasih, saya ingin menyampaikan penghargaan saya atas kesetiaan Anda yang terus-menerus dan doa bagi saya. Hanya Allah SWT yang boleh memberikan berkah dan kesejahteraan kepada orang-orang serta melindungi negara Pahang Darul Makmur, yang sangat kita kagumi," katanya.
 
Sultan mengakhiri pidatonya dengan kutipan dari Khalifah pertama, Sayyidina Abu Bakar As-Siddiq, yang berbunyi: "Aku telah diberi otoritas atasmu, dan aku bukan yang terbaik darimu. Jika saya melakukannya dengan baik, bantu saya; dan jika saya melakukan kesalahan, perbaiki saya."
 
"Kebenaran terbesar adalah kejujuran dan kepalsuan terbesar adalah ketidakjujuran. Tetap setia kepada saya selama saya mematuhi Allah SWT dan Rasul-Nya. Dan jika saya tidak menaati Allah dan Rasul-Nya; maka, tidak perlu bagimu untuk menaatiku," pungkasnya.
 

(FJR)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif