Salah satu pendiri The Ocean Mapping Expedition Samuel Gardaz (Foto: Sonya Michaella).
Salah satu pendiri The Ocean Mapping Expedition Samuel Gardaz (Foto: Sonya Michaella).

Air Laut Kepulauan Seribu Akan Diteliti Mendalam di Jenewa

Internasional indonesia-swiss
Sonya Michaella • 04 April 2018 17:30
Jakarta: Di tengah persinggahan dari tim ekspedisi kapal Fleur de Passion di Jakarta, tim kapal sempat mengambil sampel air laut Kepulauan Seribu dan akan diteliti lebih lanjut di Jenewa, Swiss.
 
(Baca: Kapal Swiss Era PD II Singgah di Pelabuhan Jakarta).
 
Fleur de Passion merupakan kapal penyapu ranjau era Perang Dunia II yang dibangun Jerman pada 1941 silam. Pernah direnovasi Prancis dan kini menjadi milik Swiss setelah direnovasi ulang pada 2003.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Kapal ini telah berlayar dari Sevila, Spanyol pada April 2015 dan kini sedang sandar di Jakarta selama 10 hari sebelum melanjutkan perjalanan ke Afrika.
 
"Sebelumnya kita sudah mengambil sampel air laut dari sini (Kepulauan Seribu). Namun kami belum bisa mengatakan apakah terindikasi baik atu buruk atau mengandung mikroplastik," kata ujar Samuel Gardaz, salah satu pendiri The Ocean Mapping Expedition, tim ekspedisi dari Swiss kepada awak media di atas kapal Fleur de Passion, Rabu 4 April 2018.
 
"Kapal ini memiliki alat sonar untuk merekam aktivitas bawah laut dengan bekerja sama dengan lembaga di Swiss," lanjut dia.
 
Air Laut Kepulauan Seribu Akan Diteliti Mendalam di Jenewa
Kapal ekspedisi Fleur de Passion (Foto: Ocean Mapping Expedition/Youtube).
 

Selain itu, ujar dia, tim ekspedisi ini juga bekerja sama dengan sejumlah universitas di Brisbane, Australia. Tak hanya tim inti, nantinya sejumlah remaja yang memang tertarik dengan alam bebas pun akan ikut perjalanan berikutnya ke Madagaskar.
 
"Akan ada sejumlah remaja yang nanti ikut dalam ekspedisi kami selanjutnya ke Madagaskar," tukas Samuel.
 
(Baca: Fleur de Passion, Kapal Penyapu Ranjau era Perang Dunia).
 
Soal pendanaan, ia mengaku semua berasal dari sumbangan perusahaan, tetapi jumlahnya tidak banyak. “Kami adalah lembaga non profit. Beberapa yang ikut berlayar bersama kami perlu membayar sejumlah biaya,” tutur dia lagi.
 
Memulai perjalanan dari Spanyol, sebelum ke Jakarta, kapal ini sempat singgah di Brasil, sejumlah pelabuhan di Benua Amerika.
 
Memasuki Pasifik, Fleur de Passion sempat singgah di Samoa dan Solomon lalu ke Brisbane, Australia dan tiga pelabuhan lainnya di Negeri Kanguru.
 
Di Asia, Fleur de Passion singgah di Cebu, Ternate, Singapura, Kuching serta Jakarta. Dari ibu kota, kapal akan berlayar menuju Afrika dan akan mengakhiri perjalanan di Maroko sekitar April atau Mei 2019 mendatang.
 
Setiap dua bulan, penumpang dan kru akan diganti. Pergantian penumpang dan kru ini disebut proses untuk mengenal kultur dan budaya dari negara lain.
 

(FJR)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif