Kapal Fleur de Passion digunakan untuk penelitian, pemetaan laut serta budaya dan kultur. (Foto: Ocean Mapping Expedition/Youtube).
Kapal Fleur de Passion digunakan untuk penelitian, pemetaan laut serta budaya dan kultur. (Foto: Ocean Mapping Expedition/Youtube).

Fleur de Passion, Kapal Penyapu Ranjau era Perang Dunia

Internasional perang dunia ii indonesia-swiss
Sonya Michaella • 04 April 2018 15:48
Jakarta: Duta Besar Swiss untuk Indonesia, Yvonne Baumman mengaku terkesima dengan alam Indonesia, termasuk garis pantai yang cukup panjang di negara ini.
 
(Baca: Kapal Swiss Era PD II Singgah di Pelabuhan Jakarta).
 
Jakarta menjadi salah satu kota tempat singgah kapal Fleur de Passion, kapal penyapu ranjau era Perang Dunia II yang dibangun Jerman pada 1941 silam. Pernah direnovasi Prancis dan kini menjadi milik Swiss setelah direnovasi ulang pada 2003.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Saya sangat terkejut karena seperti yang Anda tahu Swiss dikelilingi daratan. Kemampuan berlayar kapal-kapal Swiss tidak ada apa-apanya dibandingkan Indonesia yang memiliki garis pantai yang cukup panjang," kata Dubes Baumman di atas Fleur de Passion, Rabu 4 April 2018.
 
"Bahkan kapal ini adalah kapal terbesar yang pernah dimiliki Swiss," tambah dia lagi.
 
Ketika ditemukan, kondisi kapal ini cukup buruk. Pihak yayasan ekspedisi memutuskan untuk merenovasi sebagian besar badan kapal. Mereka juga mengubah kapal ini menjadi kapal layar dan dikembangkan untuk mampu berlayar dengan tujuan ekspedisi.
 
"Renovasi berjalan selama 6,5 tahun dari 2003 hingga 2009 dan diawasi langsung oleh pihak-pihak di Jenewa," imbuh dia.
 
Fleur de Passion, Kapal Penyapu Ranjau era Perang Dunia
Dubes Swiss Yvone Baumman untuk Indonesia (kiri) di atas kapal Fleur de Passion (Foto: Sonya Michaella).
 
Sejak 2009, kapal dikerahkan untuk navigasi ke Samudera Pasifik. Pada 2013-2014, diputuskan bahwa kapal akan digunakan untuk proyek yang lebih berguna yakni penelitian, pemetaan laut serta budaya dan kultur.
 
Memulai perjalanan dari Spanyol, sebelum ke Jakarta, kapal ini sempat singgah di Brasil, sejumlah pelabuhan di Benua Amerika.
 
Memasuki Pasifik, Fleur de Passion sempat singgah di Samoa dan Solomon lalu ke Brisbane, Australia dan tiga pelabuhan lainnya di Negeri Kanguru.
 
Di Asia, Fleur de Passion singgah di Cebu, Filipina, Ternate, Singapura, Kuching, Malaysia serta Jakarta. Dari ibu kota, kapal akan berlayar menuju Afrika dan akan mengakhiri perjalanan di Maroko sekitar April atau Mei 2019 mendatang.
 
Setiap dua bulan, penumpang dan kru akan diganti. Pergantian penumpang dan kru ini disebut proses untuk mengenal kultur dan budaya dari negara lain.
 

(FJR)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif