Virus Korona berpusat di Wuhan, Tiongkok yang dilaporkan paling banyak warga tercatat tewas. Foto: AFP
Virus Korona berpusat di Wuhan, Tiongkok yang dilaporkan paling banyak warga tercatat tewas. Foto: AFP

Virus Korona Sebarkan Ketakutan dan Rasisme

Internasional Virus Korona tiongkok
Fajar Nugraha • 04 Februari 2020 18:27
Canberra: Virus korona yang mematikan telah menyebar ke seluruh dunia. Namun virus itu tidak hanya membawa penyakit tetapi juga xenophobia, atau tidak suka terhadap orang dari negara lain.
 
Komunitas-komunitas Asia di seluruh dunia mendapati diri mereka tunduk pada kecurigaan dan ketakutan.
 
Ketika seorang pasien di Gold Coast, Australia menolak untuk menjabat tangan ahli bedahnya, Rhea Liang, akibat virus yang telah membunuh ratusan orang, tanggapan pertama petugas medis itu mengejutkan.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Tetapi setelah menulis tweet tentang kejadian itu dan menerima banyak tanggapan, dokter yang dihormati itu mengetahui bahwa pengalamannya terlalu umum.
 
Telah ada lonjakan dalam laporan retorika antiTiongkok yang ditujukan pada orang-orang Asia. Terlepas dari apakah mereka pernah mengunjungi pusat epidemi atau melakukan kontak dengan virus.
 
Turis-turis Tiongkok dilaporkan diludahi di Kota Venesia, Italia, sebuah keluarga di Turin dituduh membawa penyakit itu. Selain itu, para ibu di Milan telah menggunakan media sosial untuk menyerukan agar anak-anak dijauhkan dari teman sekelas asal Tiongkok.
 
Di Kanada, seorang pria kulit putih difilmkan memberi tahu seorang wanita Tionghoa-Kanada "Anda menjatuhkan virus korona Anda" di tempat parkir sebuah mal setempat.
 
Di Malaysia, sebuah petisi untuk ‘melarang orang Tiongkok memasuki negara tercinta’ meraih dukungan hampir 500.000 tanda tangan dalam satu minggu.
 
Insiden-insiden itu adalah bagian dari apa yang dideskripsikan oleh Australasian College for Emergency Medicine sebagai ‘informasi yang salah’. Mereka mengatakan
 
“Virus itu memicu profil rasial di mana banyak sekali asumsi yang dibuat tentang orang-orang Tiognkok atau 'berpenampilan Asia’,” sebut pernyataan pihak Australasian College for Emergency Medicine, seperti dikutip AFP, Selasa, 4 Februari 2020.

Hal umum


Direktur Kesehatan dan Biosekuriti untuk Sains dari lembaga penelitian Australia CSIRO, Rob Grenfell mengatakan ini adalah fenomena umum.
 
"Dengan wabah dan epidemi sepanjang sejarah manusia, kami selalu berusaha menjelek-jelekkan himpunan bagian tertentu dari populasi," katanya, membandingkan perilaku itu dengan 1.300-an orang Eropa abad pertengahan yang dilanda wabah, tempat orang asing dan kelompok agama sering disalahkan.
 
"Tentu itu muncul di Tiongkok. Tapi itu bukan alasan untuk benar-benar menjelek-jelekkan orang Tiongkok,” ujar Grenfell.
 
Dalam komentar untuk British Medical Journal, dokter Abraar Karan memperingatkan perilaku ini bisa membuat orang dengan gejala virus korona takut untuk mencari perawatan.
 
Claire Hooker, seorang dosen kesehatan di University of Sydney, mengatakan tanggapan dari pemerintah mungkin menambah prasangka.
 
Hingga saat ini virus korona telah menewaskan 427 orang di Tiongkok. Sementara 20.604 lainnya dilaporkan terinfeksi virus tersebut.
 


 

(FJR)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif