Salah satu ruas jalan di Beijing, Tiongkok, yang relatif sepi di tengah mewabahnya virus korona, Selasa 3 Februari 2020. (Foto: AFP/NICOLAS ASFOURI)
Salah satu ruas jalan di Beijing, Tiongkok, yang relatif sepi di tengah mewabahnya virus korona, Selasa 3 Februari 2020. (Foto: AFP/NICOLAS ASFOURI)

Tiongkok Mengakui Kekurangan dalam Merespons Wabah Korona

Internasional virus korona tiongkok
Willy Haryono • 04 Februari 2020 07:16
Beijing: Tiongkok mengakui "kekurangan dan kesulitan" dalam merespons wabah virus korona tipe Novel Coronavirus (2019-nCoV). Pengakuan disampaikan saat sebuah rumah sakit yang dibangun hanya dalam waktu 10 hari mulai menerima pasien virus korona.
 
Berdasarkan data terbaru Komisi Kesehatan Nasional Tiongkok, virus korona nCoV telah menewaskan 425 orang per hari ini, Selasa 4 Februari 2020. Sementara total infeksi di seantero Tiongkok mencapai 19.550.
 
Menurut laporan kantor berita Xinhua, Komite Politbiro Partai Komunis Tiongkok menyerukan adanya perbaikan "sistem manajemen darurat nasional" menyusul adanya sejumlah "kekurangan dan kesulitan dalam merespons wabah (virus korona nCoV)."

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Merupakan hal penting untuk memperkuat supervisi pasar, dan melarang serta memberantas segala bentuk perdagangan hewan liar secara ilegal," ungkap komite tersebut dalam sebuah pertemuan pada Senin kemarin.
 
Virus korona nCoV diyakini berasal dari sebuah pasar yang menjual berbagai hewan liar di Wuhan, kota di provinsi Hubei. Virus tersebut muncul pada akhir Desember tahun lalu.
 
Total kematian akibat virus korona di Tiongkok kini telah melampaui korban tewas wabah Sindrom Pernapasan Akut Berat (SARS) pada 2002-2003. Kala itu, SARS menewaskan 349 di pulau utama Tiongkok, sementara secara global angkanya hampir menyentuh 800.
 
Sementara itu, Pemerintah Tiongkok menyerukan komunitas global untuk menyalurkan bantuan, terutama untuk peralatan medis seperti masker operasi, pakaian pelindung dan kacamata pengaman.
 
Sementara itu, sejumlah negara beramai-ramai mengevakuasi warga mereka dari provinsi Hubei. Senin kemarin, Lebih dari 200 warga Australia dievakuasi dari Wuhan dan bertolak pulang dalam penerbangan pesawat maskapai Qantas.
 
Jepang, Amerika Serikat, Jerman hingga Indonesia pun telah mengevakuasi warga masing-masing dari Hubei.
 

(WIL)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif