NEWSTICKER
Mahathir Mohamad kini jabat sebagai Perdana Menteri sementara Malaysia. Foto: AFP
Mahathir Mohamad kini jabat sebagai Perdana Menteri sementara Malaysia. Foto: AFP

Mahathir Memegang Kendali Calon Penggantinya

Internasional anwar ibrahim politik malaysia mahathir mohamad
Marcheilla Ariesta • 25 Februari 2020 17:47
Kuala Lumpur: Mundurnya Mahathir Mohamad sebagai Perdana Menteri Malaysia pada Senin 24 Februari 2020 dinilai cukup mengejutkan. Pengunduran dirinya terjadi setelah ada keretakan dalam aliansinya mengenai siapa yang akan menggantikannya.
 
Namun, di akhir hari Mahathir ditunjuk kembali menjadi perdana menteri oleh Raja Malaysia walaupun hanya untuk sementara. Melihat ini, sebagian besar partai dalam koalisinya yang berkuasa berjanji untuk terus mendukungnya sebagai pemimpin.
 
"Apakah itu strategis atau direncanakan masih menjadi perdebatan. Tetapi, pada akhirnya yang terjadi adalah dia menempatkan dirinya pada posisi yang jauh lebih kuat untuk memilih siapa yang dia inginkan dalam pemerintahan dan proses selanjutnya," kata profesor Universitas John Cabot Italia, Bridget Welsh, dilansir dari Bloomberg, Selasa 25 Februari 2020.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Baca: Partai Bersatu Tolak Pengunduran Diri Mahathir Mohamad.
 
Hasil perebutan kekuasaan ini pernah terjadi beberapa dekade lalu antara Mahathir dengan Anwar Ibrahim, presiden Parti Keadilan Rakyat (PKR). Ketidakpercayaan di antara mereka terjadi pada 1990-an, ketika Anwar diusir dari kabinet Mahathir dan ditangkap dengan tuduhan sodomi.
 
Munculnya kembali ketidakstabilan politik mengancam ekonomi Negeri Jiran, di tengah perang melawan virus korona dan perang dagang yang menghambat pertumbuhan. Aset Malaysia mendapat pukulan hingga jatuh ke level terendah dalam hampir enam bulan.
 
Pada pemilihan umum 2018, Mahathir dan Anwar Ibrahim bergandengan tangan untuk kemenangan yang menggulingkan koalisi sebelumnya. Namun, Mahathir berjanji akan menyerahkan kekuasaannya kepada Anwar dua tahun setelah pemerintahannya.
 
Seharusnya, jika sesuai rencana awal, Mahathir mengundurkan diri pada Mei mendatang tepat dua tahun kepemimpinannya kembali. Namun, pada Senin kemarin, secara mengejutkan dia mundur.


Kemelut PKR


Kurangnya kejelasan meningkatkan ketegangan di partai Anwar, PKR. Wakilnya, Azmin Ali, muncul sebagai saingan potensial untuk menggantikan Mahathir.
 
Azmin bahkan secara resmi meninggalkan partai Anwar pada Senin kemarin. Dia mengatakan akan tetap mendukung Mahathir sebagai perdana menteri.
 
Baca: Azmin Ali Klaim Selamatkan Mahathir dari Konspirasi.
 
Saat ini, Mahathir menjalankan tugasnya sebagai perdana menteri interim sampai penggantinya dilantik. Dia membagikan foto dirinya yang sedang duduk di kantornya dengan setelan abu-abu biasa sembari melihat dokumen.
 
"Hanya hari lain di kantor," tulisnya dalam keterangan foto tersebut.
 
Welsh mengatakan, ada beberapa agenda penting hari ini. Seorang pejabat dari istana dijadwalkan memberikan pengarahan singkat dan mengungkapkan rincian mengenai proses pemilihan pemerintah baru.
 
Selain itu, Pakatan Harapan, koalisi yang berkuasa berencana untuk bertemu. Namun, tak jelas apakah Mahathir akan hadir.
 
Kursi di parlemen juga sangat membingungkan. Ada 222 kursi yang dipegang 19 partai. Koalisi Pakatan Harapan yang berkuasa memiliki 130 kursi saat ini.
 
Mengingat pernyataan dukungan yang diperoleh Mahathir dari berbagai partai, ia masih dapat membentuk aliansi baru yang mencakup partai-partai dari kedua sisi garis. Dia bisa menjatuhkan mereka yang tak ia butuhkan dari koalisi yang berkuasa saat ini.
 
Itu bisa berarti, koalisi sebelumnya pada dasarnya hanya bereformasi tanpa membelot. Jika itu terjadi, mungkin Anwar masih berkesempatan untuk mengambil alih kekuasaan dari Mahathir akhir tahun ini.
 
Namun, Mahathir juga bisa bergandengan tangan dengan Azmin dan Organisasi Nasional Melayu Bersatu (UMNO) -yang pernah dipimpinnya dan dilepasnya- untuk membentuk pemerintahan baru. Meski demikian, Anwar bersikeras mengatakan Mahathir meyakinkannya ini tidak akan pernah terjadi.
 
Atau, kemungkinan lainnya oposisi Barisan Nasional, yang memimpin Malaysia selama enam dekade hingga 2018, mengambil alih. Namun, mereka harus meyakinkan kembali hampir semua anggota parlemen yang meninggalkan Pakatan untuk berpaling.
 
"Bagaimanapun, seperti yang telah lama terjadi di Malaysia selama bertahun-tahun, semua mata tertuju pada Mahathir," pungkas Welsh.
 

(FJR)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif