Pihak berwenang Australia mengatakan, perubahan mendadak mereka yang mengabaikan “nol covid-19” demi “hidup dengan covid-19”, didasarkan pada tingginya tingkat vaksinasi orang dewasa dan semakin banyak bukti bahwa Omicron kurang mematikan.
Pembalikan dramatis dinilai mencerminkan tren yang lebih luas. Membuat para pemimpin negara Barat khususnya ragu-ragu untuk mengembalikan kontrol ketat 2020, guna menghindari penurunan ekonomi baru.
Namun, dalam realitas pembatasan covid-19 yang tidak aktif, terjadi peningkatan protes anti-lockdown pada 2021. Sementara minoritas tetap ragu-ragu untuk divaksinasi, menimbulkan pertanyaan tentang bagaimana pandemi dapat berakhir jika tingkat inokulasi stabil.
Hal tersebut tidak semua malapetaka dan kesuraman. Di Afrika Selatan, negara pertama yang melaporkan varian baru, jam malam tengah malam hingga 4:00 pagi waktu setempat dicabut untuk memungkinkan perayaan tetap berjalan.
Pejabat kesehatan setempat mengatakan bahwa penurunan infeksi dalam seminggu terakhir menunjukkan puncak gelombang saat ini telah berlalu.
Para ahli berharap tren itu akan direplikasi di tempat lain. Selain itu, 2022 dapat diingat sebagai fase pandemi baru yang tidak terlalu mematikan.
Di samping itu, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah memperingatkan tentang masa-masa sulit di masa depan.
“Saya sangat prihatin bahwa Omicron, yang lebih menular, beredar pada saat yang sama dengan Delta, menyebabkan tsunami kasus,” tutur Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus.
“Ini dan akan terus memberikan tekanan besar pada petugas kesehatan yang kelelahan, dan sistem kesehatan di ambang kehancuran,” pungkasnya. (Nadia Ayu Soraya)
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News