Menteri Luar Negeri Retno Marsudi. Foto. Dok. Kemenlu RI
Menteri Luar Negeri Retno Marsudi. Foto. Dok. Kemenlu RI

Menlu Belanda Kembali Sampaikan Maaf ke Indonesia Atas Kekejaman Masa Perang

Marcheilla Ariesta • 23 Februari 2022 12:56
Paris: Menteri Luar Negeri Belanda Wopke Hoekstra mengucapkan permintaan maaf dari pemerintahnya kepada Indonesia atas kekejaman di masa perang. Ia menyampaikan permintaan maafnya melalui Menlu Retno Marsudi di Paris, Prancis.
 
Menlu Retno mengatakan, ia bertemu dengan Menlu Belanda untuk secara khusus membahas mengenai tindak lanjut hasil tinjauan kajian secara institusi. Dari hasil jaian itu, disimpulkan terjadi tindak kekerasan yang ekstrem dan sistematis, serta meluas antara tahun 1945-1949.
 
Baca: PM Belanda Minta Maaf kepada Indonesia Atas Kekejaman di Masa Perang.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Dan dalam kesempatan tersebut, Menteri Luar Negeri Belanda kembali menyampaikan permintaan maaf pemerintahnya," tutur Retno, Rabu, 23 Februari 2022.
 
Pekan lalu, Pemerintah Belanda meminta maaf kepada Indonesia atas kejahatan perang. Hal ini disampaikan Perdana Menteri Mark Rutte kepada Indonesia setelah sebuah penelitian menemukan bahwa tentara Belanda menggunakan kekerasan ekstrem, termasuk terhadap warga sipil, selama perang kemerdekaan Indonesia.
 
Perdana Menteri Belanda Mark Rutte pada Kamis 17 Februari 2022 mengajukan permintaan maaf setelah hasil penelitian panjang atas sejarah besar yang menemukan bahwa Belanda menggunakan kekerasan sistematis dan berlebihan dalam perang kemerdekaan Indonesia tahun 1945-49.
 
Penyelidikan dari tiga lembaga penelitian sejarah bertentangan dengan pandangan lama Pemerintah Den Haag bahwa pasukan Belanda hanya melakukan kekerasan sporadis ketika mereka berusaha untuk mendapatkan kembali kendali atas Hindia-Belanda itu setelah Perang Dunia II.
 
Studi yang memakan waktu lebih dari empat tahun untuk menyimpulkan, kata sumber menunjukkan bahwa kekejaman di Indonesia saat itu dilakukan dengan cara yang sistematis. Penelitian panjang ini dilakukan oleh Royal Netherlands Institute of Southeast Asian and Caribbean Studies (KITLV), the Netherlands Institute for Military History (NIMH) dan the NIOD Institute for War, Holocaust and Genocide Studies.
 
“Ditemukan bahwa bahwa penggunaan kekerasan ekstrem oleh angkatan bersenjata Belanda tidak hanya meluas, tetapi juga sering disengaja,” sebut hasil penelitian itu, yang dikutip oleh Deutsche Welle.
 
“Tindakan kekerasan dimaafkan di setiap tingkatan: politik, militer dan hukum,” imbuh hasil penelitian ini.
 
"Penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar dari mereka yang memikul tanggung jawab di pihak Belanda -,politisi, pejabat, pegawai negeri, hakim dan lain-lain,- memiliki atau dapat memiliki pengetahuan tentang penggunaan sistematis kekerasan ekstrem," kata para peneliti.
 
Hasil penelitian tersebut juga menyebutkan adanya eksekusi di luar hukum, perlakuan buruk dan penyiksaan, penahanan di bawah kondisi yang tidak manusiawi, pembakaran rumah dan desa, pencurian dan perusakan properti dan persediaan makanan, serangan udara yang tidak proporsional dan penembakan artileri, dan apa yang sering merupakan penangkapan massal acak dan penahanan massal.
 
(FJR)



LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif