Obama saat menerima Donald Trump di Gedung Putih ketika inagurasi (Foto: EPA).
Obama saat menerima Donald Trump di Gedung Putih ketika inagurasi (Foto: EPA).

Mayoritas Rakyat AS Ingin Barack Obama Kembali Jadi Presiden

Arpan Rahman • 04 Februari 2017 09:27
medcom.id, Washington: Donald Trump sudah 13 hari jadi Presiden. Dan lebih dari setengah orang Amerika merasa kehilangan mantan Presiden Barack Obama. 
 
Sebanyak 52 persen orang Amerika merindukan Obama, sesuai temuan sebuah survei dari Public Policy Polling. Sementara hanya 43 persen yang senang Trump menduduki Gedung Putih.
 
Selanjutnya, 40 persen menginginkan Presiden baru itu dimakzulkan, meningkat dari 35 persen satu pekan yang lalu. Begitulah hasil sebuah jajak pendapat baru seperti dilansir The Independent, Sabtu (4/2/2017).
 
 
Lebih 500.000 orang juga telah meneken petisi oleh kelompok kampanye 'Makzulkan Trump Sekarang' atas dasar dirinya belum menjauhi kerajaan real estat-nya sementara dia menjadi pemerintah.
 
Trump, kendati memenangkan suara elektoral , kalah suara populer mendekati tiga juta orang dan populeritasnya sudah anjlok ke peringkat terendah dalam sejarah Amerika modern. Kedudukan rendah tersebut dipangkunya karena perlawanan atas sejumlah kebijakannya.
 
Hanya seperempat orang Amerika (26 persen) yang mendukung larangan imigrasi, perintah eksekutif yang mencekal hampir segala wisatawan asal tujuh negara mayoritas Muslim selama setidaknya 90 hari.
 
Hanya hampir setengah pendukung Trump yang menyetujui instruksi itu, dan 48 persen meyakini bahwa para pengunjuk rasa di bandara seantero Paman Sam -- serta massa yang berpawai dalam barisan perempuan -- dibayar oleh investor miliarder dan pendukung Hillary Clinton, George Soros.
 
Trump melihat bahwa jutaan pemilih ilegal dibayarnya hingga perolehan suara populer tidak banyak terbagi (mufakatnya 26 persen) dan 54 persen pemilih menentang Amerika membiayai pembangunan tembok sepanjang perbatasan Meksiko. Dinding itu ditaksir menelan biaya sebesar USD14 miliar, Presiden Meksiko Pena Nieto sudah bersumpah tak mau mengganti rugi AS.
 
Tanda tangan janji kampanye Presiden, untuk mencabut dan mengganti Obamacare, membuatnya semakin tidak populer di mata rakyat. Hanya 41 persen pemilih menentang Undang-Undang Perawatan Terjangkau tersebut.
 
Kebijakan tidak populer dimulai sejak dini. Pada hari pelantikannya Trump mau tahu mengapa agensi federal Badan Taman Nasional (NPS) telah menyebar tweet foto-foto kerumunan massa ukuran relatif kecil dalam upacara penyumpahannya dibanding Obama. Kemudian dia menyensor akses media sosial lembaga pemerintah tersebut. Hanya 30 persen pemilih setuju rencana itu.
 
(Baca: Tolak Larangan Imigran Muslim, Jaksa Agung AS Dipecat Trump).
 
Pemimpin strategi dan pendiri Breitbart, Steve Bannon, didukung sangat rendah oleh 19 persen pemilih. Hanya lebih dari sepertiga mereka yang disurvei berpikir bahwa ide bagus menjadikan Bannon anggota tetap Dewan Keamanan Nasional.
 
Jajak pendapat menebar survei terhadap 725 pemilih terdaftar antara 30 dan 31 Januari. Sebanyak 80 persen dari mereka berpartisipasi lewat sambungan telepon rumah. Marjin kesalahan 3,6 persen.
 
 

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(FJR)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan