Lion Air PK LQP Jatuh

Asosiasi Pilot AS Tuduh Boeing Sembunyikan Malfungsi Pesawat

Fajar Nugraha 15 November 2018 10:58 WIB
Lion Air Jatuh
Asosiasi Pilot AS Tuduh Boeing Sembunyikan Malfungsi Pesawat
Salah satu mesin Lion Air PK LQP JT610 yang diangkut dari dalam laut. (Foto: AFP).
Washington: Pertanyaan masih menyelimuti kecelakaan yang dialami oleh pesawat Lion Air PK LQP JT610. Sebuah asosiasi pilot di Amerika Serikat (AS) mempertanyakan pihak Boeing, sebagai manufaktur pesawat yang Jatuh pada 29 Oktober itu.

Saat ini penyelidik tengah menyelidiki apakah sistem yang dibuat untuk mencegah pesawat,-dalam hal ini Boeing 737 MAX-8,- terjebak dalam kondisi stall atau mesin gagal berfungsi, menjadi penyebab kecelakaan fatal tersebut. Allies Pilots Association (APA) menilai ada yang disembunyikan oleh pihak Boeing.

Baca juga: KNKT Susun Strategi Temukan Rekaman Suara di Kokpit Lion Air.


Mesin dari jet penumpang jarak menengah ini dilaporkan lebih berat dibandingkan model sebelumnya. Hal ini menurut APA bisa menyebabkan kegagalan fungsi mesin dalam berbagai kondisi.

“Boeing membuat modifikasi terhadap sistem antistall tanpa menginformasikan pihak maskapai dan awak pesawat. Kami seharusnya mendapatkan pemberitahuan,” ujar Juru Bicara APA, Dennis Tajer, seperti dikutip AFP, Rabu 14 November waktu AS, atau Kamis 15 November 2018 waktu Indonesia.

“Ini sangat konyol. Apa penyebab kejadian itu, harus segera dipecahkan. Boeing harus menjawab semua,” tutur Tajer, yang juga pilot Boeing 737.

Tajer menambahkan, tidak memberikan informasi yang dibutuhkan pilot adalah sebuah pelanggaran dari dunia penerbangan yang memiliki kultur mengutamakan keamanan.

Boeing tidak dapat merespons komentar dari APA ini. Pada Selasa 13 November 2018 Boeing menegaskan saat ini tengah fokus bekerja sama pengan pihak penyelidik. Sementara dalam surat kepada pilot-pilot, APA mengatakan bahwa ‘Emergency Airworthiness Directive’ atau panduan mengatasi situasi darurat dari Boeing tidak memecahkan masalah utama yaitu kesalahan sensor Angle of Attack (AOA) pesawat, yang mengawasi sudut dari hidung pesawat.

“AOA mungkin saja menjadi penyebab dari kecelakaan Lion Air,” sebut Kepala Komite Keamanan APA, Mike Michaelis.

“Kewaspadaan adalah kunci dari masalah keamanan. Saat sadar bahwa anomali ini terjadi dan ada prosedur mitigasi,” jelas Michaelis.

Menukik bukan menanjak

Dalam kasus Lion Air, kerusakan fungsi AOA bisa memicu komputer pesawat mendeteksi kegagalan mesin secara salah dan membuat pesawat menukik bukan meningkatkan ketinggian. Pihak APA mengatakan pilot seharusnya mengambil kendali untuk mencegah jatuh.

“Kam? tidak yakin Boeing secara sengaja menyembunyikan informasi dari konsumennya terkait sistem penerbangan yang menjadi kunci,” menurut pengamat penerbangan Addison Schonland.

Baca juga: Pelatihan Keamanan Lion Air Perlu Direvisi.

Schonland mengingatkan kembali tentang kerusakan indikator kecepatan pesawat, dalam penerbangan sebelumnya dari Lion Air PK LQP ini. Sementara menurut Wakil Presiden Teal Group, Richard Aboulafia menyatakan ada kemungkinan bahwa Boeing meremehkan kondisi anomali dari pesawat, dilihat dari Perubahan cukup kecil dilakukan oleh manufaktur AS itu.

Seorang pilot yang enggan disebutkan namanya menjelaskan bahwa manufaktur seperti Boeing dan Airbus merekomendasinya hanya beberapa pelatihan untuk model pesawat yang mendapatkan pembaharuan tambahan seperti 737-MAX. Ini disebabkan filosofi dan lingkungan kerja pilot yang tidak berubah. Pilot itu menambahkan bahwa 737-MAX hanya memiliki dua sensor bukan seperti saingannya Airbus A320 yang dilengkapi tiga sensor.

Insiden Lion Air PK PK LQP mengundang tanya besar karena pesawat Boeing 737-MAX 8 yang digunakan baru dikirim pada Agustus 2018. Saat ini baru flight data recorder yang baru ditemukan dari pesawat yang membawa 189 orang saat jatuh 29 Oktober Lalu.



(FJR)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id