Afgan (Medcom/Basuki)
Afgan (Medcom/Basuki)

39 Lagunya Dipakai untuk Latih AI Tanpa Izin, Begini Tanggapan Afgan

Elang Riki Yanuar • 24 Juni 2026 07:00
Ringkasnya gini..
  • Sebanyak 39 lagu Afgan disebut masuk dataset pelatihan AI tanpa izin, namun ia mengaku tidak terlalu khawatir.
  • Afgan yakin AI tak bisa menggantikan sentuhan manusia yang membuat lagu terasa emosional dan bermakna.
  • Menanggapi lagunya dipakai AI, Afgan bercanda hanya ibunya yang masih sulit membedakan suara asli dan hasil kloning AI.
Jakarta: Industri musik global tengah menghadapi tantangan baru terkait pelanggaran hak cipta digital. Sejumlah karya musik diketahui digunakan tanpa izin untuk melatih model kecerdasan buatan (AI), memicu kekhawatiran para pelaku industri mengenai eksploitasi data kreatif atau scraped data yang dilakukan tanpa persetujuan pemilik hak cipta.
 
Ancaman nyata ini tidak hanya menyasar para pesohor mancanegara, namun juga mulai menggerogoti katalog musik milik musisi lokal.
 
Berdasarkan investigasi mendalam jurnalis The Atlantic, Alex Reisner, melalui basis data interaktif AI Watchdog, puluhan lagu milik raksasa musik Indonesia seperti Dewa 19, Sheila On 7, Hindia, hingga 39 lagu milik Afgan terbukti ikut dicaplok tanpa izin.
 

39 Lagunya Dipakai untuk Latih AI Tanpa Izin, Begini Tanggapan Afgan
(Foto: Tangkapan layar dari situs The Atlantic)
 
Karya-karya mereka teridentifikasi masuk dalam dataset terbaru bertajuk "Sleeping-DISCO-9M" yang berhasil menghimpun sedikitnya 9,7 juta trek musik dari YouTube serta bank lirik Genius.com.
 
Sebagai salah satu solois pop tanah air yang telah melahirkan sejumlah hit populer, Afgan pun menanggapi bahwa hal ini merupakan sesuatu yang tak lagi dapat dikontrol.
 
"Ya lagi-lagi itu sesuatu yang saya nggak bisa kontrol, karena once saya rilis satu lagu atau satu karya, ya itu sudah jadi public domain dan bisa diapapain saja. Bisa di-remix, bisa diedit, bisa di-wah bisa dimacem-macemin. Jadi salah satunya mungkin ya bisa jadi bahan buat AI ngebikin lagu baru gitu dengan suara saya," tutur Afgan saat ditemui Medcom.id di kawasan Melawai, Jakarta Selatan pada Selasa, 23 Juni 2026.
 
Kendati warna vokal khasnya rentan ditiru dan dikloning oleh mesin kecerdasan buatan untuk kepentingan monetisasi pihak lain, penyanyi berusia 37 tahun ini mengaku tidak terlalu ambil pusing. 
Afgan optimistis bahwa pencinta musik hari ini sudah cukup cerdas untuk membedakan mana karya otentik hasil olah rasa manusia dan mana yang sekadar produk instan buatan AI.
 
"Saya sih nggak terlalu worry kalau kayak gitu sih karena pasti semuanya tahu itu hanya apa ya sebatas AI saja, itu bukan satu karya yang saya rilis beneran kan. Jadi orang sekarang sudah bisa membedakan lah yang AI sama yang beneran kan?," lanjutnya.
 
Namun, di tengah keseriusannya membahas isu HAKI, Afgan sempat menyelipkan sebuah candaan mengenai sang ibunda yang kerap terkecoh oleh kecanggihan teknologi kloning suara ini.
 
"Yang suka nggak bisa ngebedain cuma ibu saya sih. Nyokap saya susah ngebedain," tutur Afgan.
 
Lebih jauh, Afgan meyakini bahwa secanggih apa pun teknologi berkembang, sentuhan manusia tetap menjadi elemen utama yang membuat sebuah karya musik memiliki makna dan mampu menyentuh emosi pendengarnya.
"Tapi saya yakin tetap butuh sentuhan manusia gitu. Ya terbuktilah maksudnya semua lagu sekarang yang kita suka, yang selalu kena di hati kita, itu pasti ciptaan manusia. Kalau lagu AI mungkin hanya akan menjadi backsound atau nggak akan menyentuh hati dan selalu punya cerita, itu pasti harus ada sosok manusianya," ujarnya.
 
Karena itu, ia mengaku tidak terlalu mengkhawatirkan kehadiran AI di industri musik. Baginya, teknologi mungkin bisa meniru suara atau pola musik, tetapi belum mampu menggantikan pengalaman emosional dan cerita personal yang lahir dari seorang musisi.
 
"Jadi saya nggak terlalu khawatir sih," tutup Afgan.
 
 
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(ELG)




TERKAIT

BERITA LAINNYA