Archa (Foto: Dok. Archa)
Archa (Foto: Dok. Archa)

Rilis Lagu Berbahasa Ulahahan dari P. Seram, Archa Angkat Isu Kerusakan Laut

Rafi Alvirtyantoro • 05 Maret 2026 10:31
Ringkasnya gini..
  • Kolektif musik Archa resmi merilis lagu "Osobauw" sebagai penghormatan atas karya mendiang Chalvin Jems Papilaya.
  • Single ini menyuarakan kritik mendalam terhadap kerusakan ekosistem laut melalui lirik berbahasa daerah Ulahahan yang reflektif.
  • Proses rekaman vokal dilakukan secara live di gereja untuk menangkap resonansi alami yang memperkuat nuansa intim lagu.
Jakarta: Setelah melalui perjalanan panjang dari panggung ke panggung, lagu "Osobauw" akhirnya resmi didokumentasikan dalam bentuk rekaman pada 27 Februari 2026.
 
Karya ini merupakan ciptaan mendiang Chalvin Jems Papilaya pada tahun 2022 dan pertama kali diperkenalkan ke publik dalam Festival Timba Puri. Sebagai single kedua dari kolektif musik Archa, lagu ini melanjutkan estafet karya mereka setelah merilis "Ten" pada 10 Agustus 2024.  

Makna dan Akar Budaya

Judul lagu "Osobauw" diambil dari bahasa Ulahahan, salah satu bahasa daerah di Pulau Seram, yang berarti "Sumpah". Penggunaan bahasa lokal ini bukan sekadar identitas asal-usul, melainkan sebuah pernyataan sikap yang tenang namun tegas mengenai keterikatan manusia dengan ruang hidupnya.
 
Lagu "Osobauw" merupakan refleksi kritis terhadap kerusakan ekosistem laut yang menderita akibat eksploitasi dan kelalaian manusia. Karya ini menjadi pengingat bahwa bagi masyarakat Maluku, laut adalah napas kehidupan; jika laut hancur, kehidupan masyarakat pesisir pun terancam.

Selain itu, "Osobauw" juga menyoroti rapuhnya hubungan antara manusia dan lingkungan.  

Komposisi Musik Minimalis

Secara musikal, Ardelony Imlabla menyusun komposisi "Osobauw" dengan struktur yang minimalis dan terbuka. Aransemen yang sengaja dibuat sederhana ini bertujuan agar pesan dalam lirik serta kemurnian vokal dapat tersampaikan tanpa tertutup oleh kebisingan instrumen.
 
Sepeninggal Chalvin Papilaya, Archa terus bergerak dengan menggandeng berbagai musisi dan penyair. Dalam versi rekaman ini, vokal dibawakan oleh Theoresia Rumthe dengan penghayatan yang intim dan teduh.  

Proses Produksi dan Rekaman Alami

Proses produksi lagu "Osobauw" dilakukan di studio rumahan milik Mr. E di Air Putri, Ambon. Menariknya, pengambilan vokal dilakukan secara live di Gereja Katolik Maria Mater Misericordiae untuk menangkap resonansi ruang yang alami dan autentik.
 
Sebelum masuk ke dapur rekaman, "Osobauw" telah melanglang buana di berbagai panggung prestisius, antara lain Pertunjukan Sebasta di Negeri Itawaka (2023), LautLoud—Arka Kinari (2023), Indonesian Music Expo (IMEX) di Ubud, Bali (2024), dan Jazirah Rempah di Ambon (2025).  

Konsistensi Identitas Archa

"Osobauw" mempertegas garis musik Archa yang reflektif dan berakar kuat pada budaya Maluku. Single ini menjadi bukti konsistensi mereka dalam menjaga bahasa daerah serta menyuarakan kesadaran tentang hubungan sakral antara manusia dan laut yang tidak boleh terputus.
 

 

 
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(ASA)




TERKAIT

BERITA LAINNYA