Sundanis dan Uiendha (Foto: instagram)
Sundanis dan Uiendha (Foto: instagram)

Lagu "EGP" Viral, Sundanis Bebaskan Diri dari Tekanan di Single "Bad Mood"

Elang Riki Yanuar • 26 Februari 2026 14:11
Ringkasnya gini..
  • Sundanis tak mau terjebak viral EGP, pilih eksplorasi jujur lewat single baru Bad Mood.
  • Dari tawa EGP ke sisi personal, Sundanis gandeng Uiendha di Bad Mood.
  • Sadar viral tak cukup, Sundanis rilis Bad Mood akhir Februari sebagai bukti evolusi karier musiknya.
Jakarta: Nama Sundanis sempat mengguncang dunia digital lewat tawa khas dan frasa "EGP" yang berarti Emang Gue Pikirin. Ungkapan sederhana itu menjelma fenomena viral, diputar jutaan kali, dan menjadi identitas kuat yang melekat pada dirinya sepanjang 2025.
 
Namun di balik ledakan popularitas tersebut, menjadi refleksi penting bagi musisi hip hop asal Bandung tersebut. Kesadaran itu membuatnya berpikir ulang tentang arah perjalanan kariernya di industri musik Indonesia.
 
“Aku menyadari, tawa viral saja nggak cukup untuk menjaga karier musik dalam jangka panjang," katanya. 

Alih-alih mengulang formula yang sama demi mempertahankan atensi publik, Sundanis memilih jalur berbeda. Ia menyadari ekspektasi pendengar begitu tinggi setelah kesuksesan "EGP". Tekanan untuk kembali viral tentu ada, tetapi ia tidak ingin terjebak dalam bayang-bayang karya lama.
Sundanis memutuskan kembali pada fondasi bermusiknya. Ia menulis dengan pendekatan yang lebih jujur, spontan, dan mengalir. Prinsip tersebut menjadi dasar lahirnya single terbaru berjudul "Bad Mood".
 
Proses kreatif lagu ini terbilang singkat. Dalam hitungan jam, lirik dan notasi rampung dikerjakan. Kecepatan itu bukan tanpa alasan. Insting dan pengalaman panjangnya sejak debut pada 2007 menjadi modal utama yang membuatnya percaya diri.
 
Bagi Sundanis, proses yang cepat justru memperlihatkan keaslian rasa. Ia tidak ingin terlalu banyak menghitung potensi respons pasar. Ketika ide terasa kuat, ia memilih merekamnya secara organik tanpa rekayasa berlebihan.
 
Dalam penggarapan "Bad Mood", tantangan terbesar bukan terletak pada teknis produksi. Ia justru cukup selektif dalam menentukan rekan duet. Lagu ini menurutnya membutuhkan sudut pandang perempuan agar emosi yang disampaikan lebih utuh.
 
Pilihan itu akhirnya jatuh kepada Uiendha, model asal Bandung yang dinilai memiliki energi berbeda. Kehadiran Uiendha memberi warna baru dalam dinamika lagu tersebut. 
 
"Harus ada chemistry agar lagunya terasa hidup dan menyatu sempurna,” ucap Sundanis.
 
Jika "EGP" identik dengan sikap santai dan perayaan rasa cuek, "Bad Mood" menampilkan sisi yang lebih personal. Lagu perpaduan hip hop dan sentuhan etnik Sunda ini menjadi ruang eksplorasi emosional yang memperlihatkan spektrum berbeda dari karakter musikalnya.
Single yang dijadwalkan rilis akhir Februari ini menjadi penegasan bahwa perjalanan karier Sundanis tidak berhenti pada satu momen viral. “Bad Mood” menjadi cara baginya mengubah suasana hati yang buruk menjadi karya yang tetap menyenangkan dan memberikan impact. 
 
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(ELG)




TERKAIT

BERITA LAINNYA