Keubitbit (Foto: Medcom/Basuki)
Keubitbit (Foto: Medcom/Basuki)

Nyaris Batal ke Kanada, Keubitbit Ungkap Perjuangan Bawa Musik Indonesia ke Panggung Dunia

Basuki Rachmat • 15 Agustus 2026 17:57
Ringkasnya gini..
  • Keubitbit nyaris gagal tampil di Niagara Jazz Festival 2026 karena kendala pendanaan, tetapi akhirnya berangkat ke Kanada H-1.
  • Keubitbit mengungkap perjuangan mencari dana talangan untuk memenuhi kebutuhan keberangkatan ke Niagara Jazz Festival 2026 di Kanada.
  • Setelah tampil di Kanada, Keubitbit berharap sistem pendanaan seniman diperbaiki agar musisi Indonesia lebih mudah membawa musik Nusantara ke panggung dunia.
Bandung: Band etnik modern asal Aceh, Keubitbit, sempat menjadi sorotan setelah perjuangan mereka tampil di Niagara Jazz Festival 2026, Ontario, Kanada, nyaris terkendala persoalan pendanaan.
 
Keubitbit dijadwalkan tampil dalam ajang tersebut pada 4–5 Juli 2026. Namun, kesempatan itu sempat terancam gagal lantaran sebagian besar pendanaan yang mereka peroleh menggunakan skema reimbursement. Artinya, dana baru dapat dicairkan setelah seluruh rangkaian kegiatan selesai.
 
Padahal, sejumlah kebutuhan utama seperti tiket pesawat dan pengurusan visa harus diselesaikan sebelum keberangkatan yang dijadwalkan pada 2 Juli 2026.

Persoalan tersebut sebelumnya disampaikan Keubitbit melalui unggahan di media sosial. Mereka menjelaskan bahwa harus mencari dana talangan agar seluruh kebutuhan keberangkatan dapat terpenuhi tepat waktu.
 
Medcom.id kemudian berkesempatan berbincang langsung dengan para personel Keubitbit setelah mereka tampil sebagai salah satu penampil di Gaia Music Festival 2026 yang berlangsung di The Gaia Hotel, Bandung, Jumat malam, 14 Agustus 2026.
 
Dalam kesempatan tersebut, Aloel selaku vokalis sekaligus bassis Keubitbit menceritakan kembali proses yang mereka lalui hingga akhirnya dapat berangkat ke Kanada. Ia mengatakan undangan tampil di Niagara Jazz Festival 2026 diterima sekitar tiga bulan sebelum hari keberangkatan.
"Sebenarnya tuh kalau kita mundur ke belakang, kita itu kan dapat undangan itu tiga bulan sebelum hari H, which is itu sekitar bulan April dan kita harus berangkat ke Kanada itu pada bulan Juli. Sebenarnya prosedurnya itu standar. Namun memang kendala yang kita miliki adalah bagaimana harus ada sebuah solusi," ungkap Aloel.
 
Menurut Aloel, pemerintah sebenarnya telah hadir memberikan dukungan terhadap kegiatan seni. Namun, ia menilai masih diperlukan ruang diskusi yang lebih luas agar mekanisme pendanaan bagi seniman yang mendapat undangan tampil di luar negeri dapat berjalan lebih efektif.
 
"Alhamdulillahnya pemerintah itu hadir memang di dalam ruang seni ini, namun mungkin masih perlu banyak ruang diskusi dihadirkan agar para tim-tim kesenian yang memang diundang secara khusus—nah ini sebenarnya yang membuat kita punya energinya adalah karena undangan yang didapatkan itu adalah secara pribadi. Jadi tidak melalui agensi ataupun apa pun, memang langsung ber-email kepada official email kita begitu. Dan kita tetap melakukan prosedur yang sebagaimana mestinya. Kita coba untuk mencari penalangan namanya ya, penalangan," lanjutnya.

Keubitbit Berangkat ke Kanada H-1

Keterbatasan waktu membuat Keubitbit harus bergerak cepat mencari solusi pendanaan. Aloel mengungkapkan, proses pencarian dana talangan tersebut bahkan baru mendapatkan titik terang sehari sebelum keberangkatan.
 
"Jadi kita punya total biaya anggarannya sekian-sekian, ya sudah kita coba fight bareng-bareng untuk cari penalangan itu dan alhamdulillah kita H-1. Jadi H-1 sebelum keberangkatan ke Kanada kita baru saja mendapatkan penalangan tersebut. Dan berangkat ke Kanada setelah itu baru kita lakukan pelaporan dan alhamdulillah sekarang sudah selesai semuanya," tutur Aloel.
 
Bagi Aloel, pengalaman tersebut menjadi pembelajaran penting mengenai bagaimana sistem pendanaan bagi seniman yang mendapat kesempatan tampil di panggung internasional dapat dibuat lebih adaptif.
 
Nyaris Batal ke Kanada, Keubitbit Ungkap Perjuangan Bawa Musik Indonesia ke Panggung Dunia
Aloel Keubitbit (Foto: dok. Gaia Music Festival)
 
"Sebenarnya ini menarik sekali, mungkin ada sedikit apa namanya ruang diskusi, sebenarnya kita itu ingin coba mengajak pemerintah hadir untuk bagaimana posisinya ini harus diselaraskan. Artinya seniman ini tidak menjadi beban bagi negara. Seniman tidak menjadi beban bagi negara, dia menjadi sebuah alat transportasi untuk dapat menopang apa pun bentuk produk dari negara kita begitu kira-kira," ujarnya.

Harapan Keubitbit untuk Pemerintah

Keubitbit berharap pemerintah dapat membuka lebih banyak peluang bagi seniman Indonesia untuk memperkenalkan kekayaan budaya dan musik Nusantara ke tingkat internasional.
 
"Saya sebagai seorang seniman saya hanya berharap pemerintah mau membuka banyak peluang, banyak ruang dengan benar-benar memperhatikan bahwa kekayaan Indonesia ini tidak bisa terus-terusan ditulis di atas kertas. Harus dieksekusi secara matang baik di dalam negeri maupun di luar negeri," tutur Aloel.
Sementara itu, Didin Marlin selaku pemain gitar akustik Keubitbit menegaskan bahwa salah satu misi utama mereka adalah membawa kekayaan bunyi Nusantara agar dapat dikenal oleh pendengar dari berbagai belahan dunia.
 
"Salah satu misi Keubitbit adalah bagaimana supaya kekayaan bunyi nusantara ini itu bisa sampai ke pendengar global. Nah jadi ini betul-betul misi yang mungkin tantangannya besar sekali untuk kami seniman-seniman yang masih berproses sekarang ini. Jadi insyaallah mudah-mudahan ke depan program-program yang akan ada di luar negeri maupun di dalam negeri itu kita bisa eksekusi dan bisa menyampaikan seperti tadi yang kita bawakan di Gaya Music Festival," tutup Didin Marlin.
 

 

 

 

 
 
 
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(ELG)




TERKAIT

BERITA LAINNYA