Film The Assassins
Film The Assassins

Film The Assassins Dituduh Distorsi Sejarah Pembunuhan Presiden Korea

Elang Riki Yanuar • 01 Oktober 2026 10:44
Ringkasnya gini..
  • Layar lebar Korea Selatan gempar oleh penayangan film thriller sejarah The Assassins yang mengisahkan tragedi penembakan ibu negara pada tahun 1974.
  • Karya sinematik arahan sutradara Hur Jin-ho tersebut memicu kemarahan publik konservatif akibat plot cerita yang mengisyaratkan keterlibatan negara.
  • Kontroversi politik yang berbuntut pada pelaporan polisi kini mengancam posisi dominasi film tersebut di puncak tangga box office bioskop Korea.
Jakarta: Industri perfilman Korea Selatan kembali diguncang oleh karya sinematik penuh polemik yang mengangkat babak kelam sejarah nasional. Film thriller sejarah berjudul "The Assassins" secara resmi tayang serentak di seluruh bioskop Korea Selatan pada akhir September 2026 untuk menyambut libur panjang Chuseok.

Karya sinematik yang disutradarai oleh sutradara kawakan Hur Jin-ho ini menghadirkan jajaran aktor papan atas seperti Yoo Hae-jin, Park Hae-il, Lee Min-ho, serta Park Jung-min. Namun di balik kemegahan visual dan dominasinya di tangga teratas bioskop, film ini justru memetik gelombang protes keras yang berujung pada eskalasi politik hingga ranah hukum.

Rekonstruksi Tragedi Kelam Agustus Seribu Sembilan Ratus Tujuh Puluh Empat

Alur cerita film "The Assassins" mengakar pada peristiwa nyata yang terjadi pada tanggal 15 Agustus 1974. Kala itu sebuah insiden penembakan fatal mengguncang panggung peringatan Hari Kemerdekaan di National Theater of Korea di kota Seoul. Upaya pembunuhan yang menyasar Presiden Park Chung-hee tersebut menewaskan Ibu Negara Yuk Young-soo setelah diterjang timah panas.

Secara resmi otoritas penyelidik menyatakan bahwa pelaku tunggal pembunuhan tersebut adalah Mun Se-gwang, seorang warga keturunan Korea di Jepang yang bergerak atas perintah pihak Korea Utara. Dalam film ini, fokus narasi mengiringi perjuangan seorang detektif polisi dan jurnalis senior yang mencoba membongkar tabir tersembunyi di balik tragedi tersebut.
 

Isyarat Konspirasi dan Penggunaan Judul Memicu Kemarahan

Gelombang kritik tajam terhadap film ini bersumber dari pemilihan elemen dramatisasi yang dinilai melampaui batas fakta sejarah. Para penonton dan pengamat menyoroti penggunaan kata jamak pada judul film yang seolah menegaskan keberadaan eksekutor lain selain Mun Se-gwang.

Narasi cerita juga menampilkan adegan-adegan yang mengarahkan pandangan penonton pada kemungkinan adanya konspirasi tingkat tinggi di dalam lingkaran lembaga kekuasaan negara maupun badan intelijen. Plot tersebut bahkan secara implisit membentuk opini publik bahwa mantan Presiden Park Chung-hee berpotensi terlibat atau membiarkan tragedi yang merenggut nyawa istrinya sendiri terjadi demi agenda politik tertentu.
   

Laporan Polisi Dan Perseteruan Ideologi Dua Kubu Politik

Eskalasi polemik ini mencapai puncaknya ketika mantan anggota Dewan Kota Seoul dari kubu konservatif People Power Party, Lee Jong-bae, resmi mendatangi Kepolisian Metropolitan Seoul. Ia melayangkan laporan pidana terhadap sutradara Hur Jin-ho, CEO rumah produksi Hive Media Corp Kim Won-guk, beserta para penulis skenario atas tuduhan pencemaran nama baik mendiang presiden dan keluarga yang ditinggalkan.

Langkah hukum tersebut didukung penuh oleh Yayasan Presiden Park Chung Hee Memorial yang menuntut permohonan maaf terbuka serta penghentian total penayangan film di bioskop. Sebaliknya, partai liberal Democratic Party of Korea membela karya sinematik ini sebagai bentuk kebebasan berekspresi dan berekreasi seni yang sepenuhnya menyerahkan penilaian akhir kepada kebebasan publik.

Klarifikasi Rumah Produksi dan Dampak Pada Performa Box Office

Menanggapi tuduhan distorsi sejarah dan isu liar terkait masuknya modal investor dari negara China, pihak Hive Media Corp akhirnya memberikan klarifikasi resmi. Pihak produser menegaskan bahwa film dibuat murni menggunakan modal domestik Korea Selatan dengan memadukan dokumen publik dan imajinasi sinematik tanpa maksud merubah sejarah.

Kendati demikian, sorotan tajam dan seruan boikot terbukti mulai menggoyahkan daya tarik komersial film ini di bioskop. Setelah sempat memimpin perolehan penonton hingga menembus angka satu koma enam juta penonton, posisi puncak "The Assassins" kini tergeser ke peringkat kedua oleh film kriminal "Tazza Song of Beelzebub" serta film animasi Jepang.
 
(Sumber: Instagram @hivemedia_corp)





(Dinda Intan Ramadhani)

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(ELG)




TERKAIT

BERITA LAINNYA