Secara tematik, Romantisasi Impulsif dibangun di atas tiga kata sederhana yang menyimpan makna besar: jika, bila, dan andai. Melalui lirik-liriknya, The Jansen mengajak pendengar merenungkan berbagai kemungkinan hidup, mulai dari harapan akan masa depan, cinta, hingga impian yang kerap berbenturan dengan kenyataan.
Album ini menjadi refleksi tentang kehidupan yang penuh ketidakpastian. Di tengah era ketika kepastian terasa sebagai kemewahan, The Jansen mencoba memotret bagaimana manusia sering kali memilih meromantisasi keadaan, bahkan ketika realitas yang dihadapi jauh dari kata ideal.
Saat ditemui Medcom.id di Rumah Makan Gakong di bilangan Wijaya, Jakarta Selatan, pada Selasa malam, 21 Juli 2026, duo yang kini tinggal digawangi oleh Cintarama Bani Satria alias Tata (vokal/gitar) dan Adji Pamungkas (bass) ini membeberkan makna filosofis di balik tajuk album Romantisasi Impulsif.
"Romantisasi-nya tuh berasal dari meromantisir hidup, sesuatu yang jelek atau yang nggak baik, tapi kita anggap itu baik, itu indah, hal-hal yang kayak gitu. Akhirnya jadi istilahnya kayak toxic positivity gitu dan ditambahin 'Impulsif' jadi kayak toxic-nya tuh toxic banget, double gitu, impulsif. Jadi ya dari secara tajuk pakai 'Romantisasi Impulsif'," tutur Adji.
Tata pun menambahkan bahwa alur penamaan trilogi album ini sepenuhnya merupakan buah pemikiran matang dari Adji yang sudah dirancang sejak era album Banal Semakin Binal (2022).
"Dari album Banal, Durja, sampai yang Romantisasi itu udah Aji duluan yang punya ide. Terus saya mengamini karena konsepnya cukup jelas ya, trilogi. Terus dia juga menjabarkan dari awal bahwa 'Banal' tuh seperti ini, 'Durja' seperti ini, dan penutupnya 'Romantisasi Impulsif'. Ya udah, berhubung apa yang Aji jabarkan itu menarik, akhirnya saya amini dengan 'Romantisasi Impulsif' itu. Terus ketika dikasih draft 12 lagu pun, cerita per lagunya tuh memang kayaknya cocok nih matching sama tajuknya itu," ungkap Tata.
Terinspirasi Sastra "Puisi Mbeling" Remy Sylado Hingga Komedi Stephen Chow
.jpg)
Stephen Chow & Remy Sylado (Foto: Instagram @stephenchow & @remysylado_)
Proses penulisan lirik album ini sebenarnya telah dimulai sejak perilisan Banal Semakin Binal pada 2022. Seperti album-album sebelumnya, Adji bertanggung jawab menulis lirik, sementara Tata menggarap komposisi musik. Seluruh aransemen dikerjakan bersama oleh keduanya selama beberapa tahun.
Dalam membedah diksi, Adji mengakui bahwa gaya penulisan liriknya banyak terpengaruh oleh karya sastra dan musik milik mendiang Japi Panda Abdiel Tambajong, atau yang lebih dikenal dengan nama pena Remy Sylado.
"Album ini banyak terinspirasi dari tulisan dan lagu-lagu Remy Sylado. Waktu itu aku dipinjami buku oleh teman, dan itu jadi trigger untuk menulis beberapa diksi nakal seperti panggilan 'Papi' atau 'Mami'. Nakalnya dapat dan pas untuk menggambarkan kemarahan anak muda. Bahkan sejak era Banal, gaya 'puisi mbeling' beliau sudah jadi referensi utama aku," ungkap Adji.
Selain sastra, film juga menjadi sumber inspirasi penting bagi The Jansen. Adji menyebut karya-karya sutradara sekaligus aktor Hong Kong, Stephen Chow, ikut memengaruhi cara dirinya menulis lagu.
"Pertama kali aku menulis lirik bahasa gaya begitu kan di lagu '7456' di album Banal, itu tercetus pas lagi menonton film Stephen Chow. Dari situ ter-trigger bikin lagu tentang dancing dan party. Makanya ada lirik 'Jangan bilang Jimmy di sini ada party'. Jadi kami berdua memang lumayan dekat dengan dunia film," kenang Adji.
Bassis Band Post-Punk Asal Spanyol Garap Artwork Romantisasi Impulsif
Tak hanya menawarkan pendekatan musikal yang baru, Romantisasi Impulsif juga menghadirkan konsep visual yang berbeda. Adji mengatakan album ini banyak mengangkat pendekatan sosial-ekonomi dengan mengambil inspirasi dari historis jalur perdagangan di Indonesia."Untuk key visual-nya sih si album ini emang kita menggambarkan melalui pendekatan sosio-ekonomi. Jadi ya dalam ekonomi ini kayak aku mengingat jalur perdagangan sejarah di Indonesia, jalur perdagangan ekonomi di Indonesia tuh ya ada dari pedagang Chinese, terus ada pedagang Gujarat, pedagang Spanyol dan Cordoba. Karena tema lirik ini dari sosio-ekonomi, kita coba ambil elemen-elemen itu ke dalam aransemen maupun visual," tutur Aji.
Secara musikal, The Jansen juga mengeksplorasi tangga nada bernuansa Tiongkok. Sementara untuk visual album, mereka menggandeng Jonathan Sirit, seniman sekaligus personel band post-punk asal Spanyol, Belgrado.
"Aransemen musik kali ini lebih banyak ngambil scale-scale Chinese, terus dari key visual-nya kami mengajak salah satu seniman dari Spanyol-nya langsung, yaitu Jonathan Sirit. Dia salah satu personil Belgrado, band post-punk di Spanyol. Dan menurut aku 'Romantisasi Impulsif' tuh sangat-sangat cocok dengan gaya style-nya Jonathan Sirit," lanjutnya.
Proses kolaborasi lintas benua ini bahkan membutuhkan waktu penantian yang tidak sebentar demi mendapatkan estetika visual yang tepat.
"Kami udah kontak Jonathan Sirit tuh satu tahun sebelumnya. Jadi The Jansen tuh dianggurin dulu karena dia lumayan sibuk dalam ngerjain artwork-artwork festival di Barcelona," kenang Adji.
.jpg)
Artwork album Romantisasi Impulsif, karya dari Jonathan Sirit (Foto: dok. The Jansen)
Selain artwork utama untuk album, The Jansen juga menyiapkan identitas visual lain yang akan hadir melalui lini merchandise mereka.
"Ada key visual kayak Arab-Arab gitu, jadi aku ngambil elemen-elemen font-font Arab, tapi sebenarnya belum dirilis, nanti itu berlanjut ke turunan merchandise nanti. Jadi untuk artwork-artwork itu ada kayak unsur-unsur jimat-jimat Arab.
Karena album ini banyak membicarakan kemiskinan, kami (mengibaratkan) ini seperti kita dapat kutukan dimiskinkan sama negara gitu," tuturnya.
Rilisan Fisik Dicetak dari Label Asal Jepang dan Malaysia
The Jansen juga menuturkan bahwa, versi CD dan piringan hitam (vinyl) dari album terbaru mereka kali ini akan diterbitkan oleh Define Records di Jepang, sementara format kaset dirilis melalui Miles Records, Malaysia."Untuk album sekarang dapat kesempatan untuk dicetak CD dan Vinyl sama label Jepang, Define Records. Dan untuk kasetnya sama Miles Records dari Malaysia," tutur Tata.
Menutup obrolan intim di Rumah Makan Gakong malam itu, Adji pun menyisipkan sebuah doa dan harapan sederhana di balik lahirnya karya terbaru dari The Jansen.
"Mengutip lirik dari focus track kami 'jika hidup hanya sekedar berjalan', ya semoga orang di sekitarku terus bertumbuh dan hidup," tutup Adji.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda