Melalui unggahan terbaru di akun Instagram pribadinya, Sherina memperlihatkan aktivitasnya saat terjun langsung ke kawasan terdampak kebakaran. Ia berada di lokasi bersama Borneo Orangutan Survival Foundation (BOSF) dan Fakultas MIPA Universitas Palangka Raya.
Pelantun "Simfoni Hitam" itu mengungkapkan bahwa kondisi medan yang dihadapinya kali ini jauh lebih menantang dibandingkan kegiatan rewetting atau pembasahan kembali yang sebelumnya dilakukan di Hiu Putih dan Taman Wisata Alam Galeget Tiawu.
"Jujur buat aku ini adalah terrain yang lebih challenging lagi, karena banyak sekali batang-batang kayu yang di atas gambut yang sangat panas," ungkap Sherina di Instagram, dikutip pada Jumat, 4 September 2026.
Menurut Sherina, proses pemadaman membutuhkan kehati-hatian ekstra. Pasalnya, bara api masih aktif di dalam kawasan gambut sehingga setiap langkah harus didahului dengan proses pendinginan.
"Jadi setiap kali kami melangkah ke depan, kami harus mendinginkan dulu karena masih sangat aktif baranya. Lebih panas lagi," sambungnya.
Sherina Rasakan Sulitnya Padamkan Api di Lahan Gambut
Terjun langsung ke lokasi membuat Sherina memahami betapa beratnya upaya pemadaman karhutla, terutama di kawasan gambut. Ia menyebut api yang sudah dipadamkan dapat kembali menyala di titik lain."Being here, aku merasakan sendiri betapa susahnya memadamkan api. Gambut itu sangat mudah terbakar. Kemudian yang kami padamkan nyala lagi. Kami ke kanan padamkan yang kanan, yang kiri nyala lagi," ucap Sherina.
Pengalaman tersebut juga membuat Sherina memahami beban emosional yang dirasakan para petugas dan relawan yang setiap hari berada di lapangan. Terlebih, kawasan yang terbakar memiliki ekosistem dan keanekaragaman hayati yang sangat berharga.
"Jadi aku mengerti kadang-kadang yang di lapangan rasanya pasti mendekati putus asa, apalagi di area yang sangat mereka cintai, yang memiliki biodiversitas yang luar biasa," tuturnya.
Sherina pun mengaku merasakan langsung dampak kelelahan setelah menjalani aktivitas tersebut selama dua hari. Ia membandingkan kondisi fisiknya pada hari pertama dan kedua dengan perjuangan para petugas yang harus berada di lokasi selama berjam-jam.
"Beda sekali hari pertama dengan hari kedua gitu. Hari kedua staminaku turun. Enggak kebayang mereka yang harus berjam-jam di situ dan melihat tempat yang mereka cintai terbakar," ujar Sherina.
Sherina Ingin Tingkatkan Kesadaran Publik
Lewat keterlibatannya di lapangan, Sherina berharap pengalaman tersebut dapat menjadi cara untuk menyampaikan kondisi nyata karhutla kepada masyarakat. Ia ingin publik tidak hanya melihat peristiwa tersebut melalui layar ponsel, tetapi juga memahami beratnya perjuangan mereka yang bekerja langsung di lokasi."Jadi lagi-lagi aku di sini bersama Pawerful Voice, dengan kacamataku sendiri, dengan lensa perspektifku sendiri, bisa membawa awareness ini, bisa membawa testimoni ini kepada teman-teman yang mungkin melihat dari layar ponsel, bahwa apa yang dilakukan para pejuang lapangan ini sangat melelahkan," tutup Sherina.