The Jansen (Foto: Instagram @rayhanali_)
The Jansen (Foto: Instagram @rayhanali_)

The Jansen Menyeberang ke Post-Punk, Babak Baru dari Album Romantisasi Impulsif

Agustinus Shindu Alpito • 22 Juli 2026 12:04
Ringkasnya gini..
  • The Jansen merilis album Romantisasi Impulsif sebagai penutup trilogi dengan eksplorasi musik post-punk yang berbeda dari karakter 70s punk mereka.
  • Tata dan Adji mengaku sengaja mengusung nuansa post-punk, breakcore, dan dance demi memperkuat konsep cerita serta atmosfer.
  • Meski bereksperimen dengan warna musik baru, The Jansen menegaskan akar 70s punk tetap menjadi fondasi utama dalam album Romantisasi Impulsif.
Jakarta: Unit punk asal Bogor, The Jansen, kini kembali menelurkan album studio penuh bertajuk Romantisasi Impulsif. Album yang berisikan 12 trek ini menjadi penutup trilogi yang sebelumnya dibuka lewat Banal Semakin Binal (2022) dan dilanjutkan dengan Durja Bersahaja (2024).
 
Menariknya, dalam karya penutup trilogi ini, duo yang kini tinggal digawangi oleh Cintarama Bani Satria alias Tata (vokal/gitar) dan Adji Pamungkas (bas) tersebut melakukan manuver eksplorasi musik yang cukup signifikan. Mereka berani menyeberang ke ranah post-punk, meninggalkan zona nyaman aransemen 70s punk berkecepatan tinggi dengan formula dua atau tiga kord yang selama ini lekat sebagai identitas utama dari The Jansen.
 
Saat disambangi Medcom.id di Rumah Makan Sinar Gakong di kawasan Wijaya, Jakarta Selatan, pada Selasa, 21 Juli 2026 kemarin, para personel The Jansen membedah secara gamblang mengenai evolusi pola audio di album baru ini.
 
"Yang baru tuh Adji mulai mencoba mengajak apa ya, kalau saya sih bahasanya naikin tahun. Dulu kan saya mengaku 70s Punk, terus akhirnya mulai beralih ke late 70s sampai akhirnya sekarang Post-punk ya. Post-punk 79-80-an," ujar Tata.

"Karena kita lumayan ngambil sound-sound The Cure cukup kental di sini," saut Adji menimpali.
Tata menerangkan bahwa keputusannya menyetujui pergeseran ke warna post-punk murni demi merelisasikan visi lirik dan karakter cerita yang telah ditulis oleh sang adik. Karena materi lagu kali ini ingin mengusung tone perayaan atau pesta, aransemen 70s punk dinilai kurang fleksibel untuk menyajikan ketukan yang lebih bernuansa dancey.
 
"Kalau kita masih pakai 70s Punk kayaknya kurang dapet nih dance-nya. Ya udah akhirnya saya amini dan saya dikasih beberapa referensi band-band post-punk, oh depresif dan gelap gitu ya ternyata, memang bener nih cocok. Bahkan Joy Division aja kan masih 70-an akhir sebenarnya, makanya New Wave kan. Terus kayak saya mikir perayaan tapi yang dirayakannya itu soal kematian itu kan cukup mewakili si post-punk itu sendiri gitu, gelap tapi musiknya bisa untuk ya pecah gitu-gitulah," lanjut Tata.
 
The Jansen Menyeberang ke Post-Punk, Babak Baru dari Album Romantisasi Impulsif
 
Guna menerjemahkan ekspektasi aransemen post-punk yang sarat akan eksplorasi scale gitar unik, The Jansen tidak menggarapnya sendirian. Mereka memboyong Stefanus 'Epan' Yonatan, gitaris dari unit egg punk Tarrkam, untuk mengeksekusi scale gitar bernuansa Tionghoa, Spanyol, dan Timur Tengah, sebuah pendekatan yang sejalan dengan konsep sosio-ekonomi dan sejarah jalur perdagangan di Indonesia yang mereka usung di album Romantisasi Impulsif.
 
Di departemen drum The Jansen mendapat suntikan energi dari musisi skena Jawa Barat, yakni Daryl Gema (drummer Patrivia), Ayu, serta unit musik anyar bernama Sousade.
 
"Karena ini ketukannya cukup baru ya untuk The Jansen dan kebetulan kita ketemu Daryl dari Patrivia yang akhirnya dalam waktu satu malam rekaman, dia bisa ngerekam apa yang Adji mau dan yang saya juga mau. Terus kalau gitar kita minta tolong ke Epan Tarrkam, dia bisa menerjemahkan scale-scale gitar Chinese-nya, Spanyol-nya, danTimur Tengah-nya. Terus untuk di backing vocal ada Ayu, sebenarnya ada satu lagi band baru yaitu Sousade. Ya cukup membantu di warna vokal, jadi unsur-unsur gurun pasirnya dapet lah," tutur Tata.
 
"Cukup berdinamika aransemen di album ini," sahut Adji.
 
Meski banyak bereksperimen, Tata dan Adji menegaskan bahwa keseluruhan album tetap dirancang agar memiliki benang merah yang utuh dari awal hingga akhir.
 
"Ada babak-babaknya lah, ada intronya, ada klimaksnya, ada dramaturginya gitu," ungkap Adji.
Meski kini merambah lanskap post-punk, The Jansen menegaskan bahwa mereka sama sekali tidak menanggalkan akar musik yang telah membesarkan nama mereka. Eksplorasi baru ini dipandang sebagai sebuah fase pendewasaan dalam bermusik.
 
"70s Punk-nya kayaknya udah di dalam hati masing-masing aja untuk saat ini. Karena memang album ini, Adji bikin udah utuh secara konsep 'ini ceritanya gini satu buku'. Akhirnya kita mau bikin sesuatu yang memang baru banget, saya juga baru pertama kali bikin apa post-punk, band-bandnya juga baru tahu 'oh ini kayak gini kayak gini, oh warnanya seperti ini'. Baru sih di 'Romantisasi Impulsif'," ungkap Tata.
 
Adji pun menambahkan bahwa fondasi utama lagu-lagu di Romantisasi Impulsif sebenarnya masih mengambil napas 70s punk, namun dibalut dengan pernak-pernik subgenre elektronik dan tarian modern.
 
"Jadi secara aransemennya sebenarnya masih dari 70s Punk tapi ada unsur post-punk-nya dan bahkan kita menambahkan sedikit drum and bass-nya, breakcore dari ketukan drumnya tuh ada breakcore. Jadi agak-agak samba dan dance gitu," kata Adji.
 
Bagi Tata, warna baru tersebut juga merepresentasikan fase pendewasaan The Jansen sebagai sebuah band yang telah cukup banyak melewati perjalanan berliku.
 
"Satu lagi menurut saya, album post-punk ini cukup mewakili sebuah perjalanan pendewasaan. Jadi kita ugal-ugalan, tapi karena di sini adalah POV-nya dewasa, post-punk menarik sih, cukup kalem tapi ada sisi dari sisa-sisa kenakalan-nya gitu di aransemen-nya," tutup Tata.
 
Secara tematik, Romantisasi Impulsif dibangun di atas tiga kata sederhana yang menyimpan makna besar: jika, bila, dan andai. Melalui lirik-liriknya, The Jansen mengajak pendengar merenungkan berbagai kemungkinan hidup, mulai dari harapan akan masa depan, cinta, hingga impian yang kerap berbenturan dengan kenyataan.
 
Album ini menjadi refleksi tentang kehidupan yang penuh ketidakpastian. Di tengah era ketika kepastian terasa sebagai kemewahan, The Jansen mencoba memotret bagaimana manusia sering kali memilih meromantisasi keadaan, bahkan ketika realitas yang dihadapi jauh dari kata ideal.
 
Bagi Sobat Medcom yang penasaran dengan karya terbaru dari The Jansen, album Romantisasi Impulsif kini sudah dapat kalian dengarkan di berbagai platform musik digital.
 

 
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(ASA)




TERKAIT

BERITA LAINNYA