Sutradara Hanung Bramantyo rilis first look film Descendants of the Sun versi Indonesia di Ideafest 2026 (Foto: Medcom/Basuki)
Sutradara Hanung Bramantyo rilis first look film Descendants of the Sun versi Indonesia di Ideafest 2026 (Foto: Medcom/Basuki)

Hanung Bramantyo Awalnya Ngira Ditawari Adaptasi Parasite, Ternyata Descendants of the Sun

Basuki Rachmat • 05 September 2026 20:25
Ringkasnya gini..
  • Hanung Bramantyo mengungkap tawaran adaptasi Descendants of the Sun versi Indonesia bermula dari kunjungannya ke Korea Selatan usai sukses Miracle in Cell No. 7.
  • Hanung Bramantyo memilih Descendants of the Sun dari sejumlah IP Korea karena tertarik mengadaptasi konflik nilai antara profesi dokter dan militer ke konteks Indonesia.
  • Pertemuan Hanung dengan Barunson E&A, rumah produksi Parasite, membuka peluang adaptasi IP Korea hingga akhirnya ia memilih Descendants of the Sun untuk versi Indonesia.
Jakarta: Sutradara Hanung Bramantyo mengungkap cerita di balik keterlibatannya dalam proyek adaptasi serial drama Korea populer Descendants of the Sun ke versi Indonesia. Menariknya, tawaran tersebut bermula dari kunjungannya ke Korea Selatan setelah kesuksesan film Miracle in Cell No. 7 versi Indonesia.

Cerita tersebut disampaikan Hanung saat menjadi pembicara dalam sesi Ideatalk bertajuk Descendants of the Sun, Localized: When Global Stories Find Local Souls pada hari kedua Ideafest 2026 di Jakarta International Convention Center (JICC), Jakarta Pusat, yang digelar pada Sabtu, 5 September 2026.

Sesi tersebut turut menghadirkan Reza Rahadian, Dian Sastrowardoyo, dan Eva Celia yang dipercaya Hanung menjadi pemeran utama dalam proyek film Descendants of the Sun versi Indonesia. Film ini diproduksi oleh rumah produksi milik Hanung, Dapur Film.

Hanung menuturkan, kesempatan tersebut bermula ketika dirinya mendapat undangan untuk berkunjung ke Korea Selatan dari sejumlah rumah produksi di Negeri Ginseng. Kala itu, ia baru saja menyelesaikan Miracle in Cell No. 7 (2022), film adaptasi dari karya Korea Selatan berjudul sama yang pertama kali dirilis pada 2013.

Menurut Hanung, undangan tersebut datang ketika dirinya tengah berada di gedung MD Pictures. Pihak Korea Selatan ingin bertemu dengannya untuk membahas pengalaman mengadaptasi karya Korea ke dalam konteks Indonesia.
"Pernah di satu gedung di MD Pictures gitu kan, dia di lantai 9, saat kami semua kalau produksi itu di lantai 8. Terus saya ditelepon, 'Sukses, selamat buat Miracle in Cell No. 7. Boleh enggak kamu saya undang ke Korea?'" cerita Hanung.

Ia kemudian menerima undangan tersebut dan diberi tahu bahwa sejumlah rumah produksi Korea Selatan ingin bertukar pengalaman dengannya mengenai proses adaptasi.

"'Oh, boleh aja.' Ada beberapa teman dari production house di Korea pengin ketemu sama kamu, pengin ngobrol-ngobrol, pengin cerita pengalaman sharing tentang adaptasi yang kemungkinan kerja samanya dan sebagainya," ungkapnya.

Hanung pun akhirnya berangkat ke Korea Selatan. Di sana, ia bertemu dengan sejumlah rumah produksi besar, termasuk CJ dan Barunson E&A. Dalam pertemuan tersebut, Hanung banyak membahas kesamaan budaya Indonesia dan Korea yang menurutnya menjadi salah satu alasan karya-karya Korea mudah diterima masyarakat Indonesia.

"Akhirnya saya berangkat ke sana, saya ditemukan di beberapa PH, ada CJ, ada Barunson, ada yang bikin Exhuma itu, saya ketemu sama mereka semuanya. Terus saya cerita bahwa budaya Indonesia, Korea, Asia hampir sama. Kita semua menyanjung yang namanya ibu, terus kemudian kita menyukai kedekatan sama cita-cita yang berhubungan sama family, relasi antara ibu sama anak, ayah sama anak, terus relasi antara kakak sama adik, kita sama."

"Itu kenapa saat ini drama-drama K-Pop diminati di Indonesia karena seperti halnya kita melihat teman-teman kita, saudara kita, atau diri kita sendiri dalam versi yang berbeda dengan apa yang disajikan di K-Drama gitu kan. Salah satu contoh adalah Miracle in Cell No. 7," tutur Hanung.  

Hanung Bertemu Rumah Produksi Film Parasite

Salah satu pertemuan yang paling membekas bagi Hanung adalah ketika dirinya bertemu dengan Barunson E&A, rumah produksi di balik film Parasite (2019) arahan sutradara Bong Joon-ho.

Film tersebut memang tengah menjadi perbincangan hangat kala Hanung berkunjung ke Korea Selatan. Parasite sendiri berhasil mencetak sejarah di Academy Awards (Oscar 2020) dengan menjadi film berbahasa non-Inggris pertama yang memenangkan penghargaan kategori bergengsi yakni Best Picture.

Hanung mengaku sempat penasaran dengan tawaran IP yang akan diberikan Barunson E&A. Ia bahkan sempat berharap proyek yang ditawarkan bukan Parasite karena merasa tantangan adaptasinya akan sangat besar.

"Terus pada saat saya bertemu dengan Barunson, pada saat itu Parasite masih anget banget gitu kan, dan dia menceritakan banget bagaimana dia menyukai sebuah cerita-cerita yang sangat personal. Dan Barunson kemudian menawarkan intinya adalah, 'Anu pengin melakukan adaptasi atau remake atau apa pun dari cerita kita dibawa ke Indonesia dan kita pengin bekerja sama di situ'" ungkapnya.

Hanung mengaku lega ketika mengetahui Parasite bukan salah satu IP yang ditawarkan kepadanya. Dari beberapa pilihan yang tersedia, justru Descendants of the Sun yang langsung menarik perhatiannya.

"Wah, saya seneng banget gitu kan. Jangan sampai, saya sudah dalam hati, 'Jangan Parasite ya yang ditawari,' stres saya langsung. Akhirnya enggak, ternyata menawarkan beberapa IP, salah satunya Descendants of the Sun. Saya bilang, 'Ini aja deh, Descendants of the Sun'" cerita Hanung antusias.

Alasan Hanung Akhirnya Memilih IP Serial Descendants of the Sun

Hanung kemudian menjelaskan alasan dirinya memilih Descendants of the Sun. Menurutnya, hubungan antara karakter dokter dan anggota militer menawarkan konflik nilai yang menarik untuk dibawa ke dalam konteks Indonesia.

"Kenapa? Karena ini adalah relasi yang sangat menarik yang belum pernah ada di Indonesia, adalah relasi antara dua dunia, dua pekerjaan yang berbeda, dua keyakinan yang berbeda. Jadi kebetulan di sini memang dokter sama militer gitu kan. Dan keyakinan mereka itu yang menarik buat saya. Dokter dituntut untuk bagaimana caranya mengorbankan, kalau perlu mengorbankan dirinya untuk menyelamatkan orang lain. Itu dokter. Sementara kalau militer dituntut bagaimana caranya agar supaya negara ini selamat, meskipun itu harus mengorbankan orang lain," tuturnya.

Bagi Hanung, perbedaan prinsip tersebut memiliki relevansi kuat jika diterjemahkan ke dalam konteks masyarakat Indonesia. Ia melihat dua profesi tersebut membawa cara pandang berbeda mengenai pengorbanan, keselamatan, hingga keyakinan.

"Nah, dua keyakinan ini kalau di Indonesia itu ibaratnya beda agama gitu. Nah, ini yang kemudian buat saya menarik untuk saya adaptasi karena teman-teman tahu sendiri kan, saya selalu suka tema-tema yang sifatnya itu keyakinan, religiositas, terus sejarah, itu kan soal ideologi, soal keyakinan. Di sini saya merasa saya harus membuat itu karena saya pengin bicara ke negeri saya tentang dua hal itu," tutup Hanung Bramantyo.









 

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(ELG)




TERKAIT

BERITA LAINNYA