Menurut Lafa, perbedaan karakter musik justru menjadi alasan utama dirinya memilih Bilal dan The Jansen sebagai kolaborator. Ia melihat pertemuan tiga warna musik tersebut sebagai tantangan yang menarik untuk dieksplorasi di studio.
“Nah, pertimbangannya justru karena mereka genre musiknya beda. Kalau genrenya sama kan terlalu ketebak saja. Kalau ini kan jadi ada tantangan. Ada hal yang seru ketika kita di studio, bisa menemukan bagaimana menyatukan kedua entitas ini. Lucunya, ternyata bisa,” ungkap Lafa.
"terabas" merupakan bagian dari Garis Tegak EP, proyek kolaborasi Lafa dengan 12 musisi lintas genre. Proyek tersebut dikerjakan bersama KithLabo dan dirilis secara bertahap.
Garis Tegak sekaligus menjadi penanda dua momentum bagi Lafa dan KithLabo, yakni enam tahun perjalanan KithLabo dan 12 tahun kiprah Lafa sebagai produser musik. EP tersebut berisi enam lagu yang mempertemukan musisi dengan latar musikal berbeda dalam satu proyek yang sepenuhnya diproduseri Lafa.
Sebelum "terabas", Lafa telah merilis "Seperti Angka 8" bersama Feby Putri dan Matter Mos, serta "Bukan Kendalimu" bersama Nadhif Basalamah dan Hursa pada Agustus 2026.
Bagi Bilal, tawaran untuk bergabung dalam proyek tersebut tidak membutuhkan banyak pertimbangan.
“Pas diajakin langsung mau sih. Apalagi bareng The Jansen, ya gas. Gak kebayang sih gue sebelumnya,” kata Bilal.
Adji Pamungkas dari The Jansen mengungkapkan hal serupa. Sebelumnya, The Jansen memang pernah berkomunikasi dengan Lafa karena tertarik mengetahui bagaimana rasanya bekerja dengan produser dari luar band.
“Iya, ketika dapat tawaran buat kolaborasi sama Mas Lafa kayaknya gak pakai pikir panjang buat bilang gas. Dulu kita sempat kontak dengan Mas Lafa karena penasaran bagaimana rasanya diproduserin orang lain, dan Mas Lafa adalah kandidat yang kami inginkan waktu itu. Ya, karena kesibukan masing-masing baru berjodohnya di proyek ini,” ujar Adji.
Berawal dari Obrolan di Teras
Proses pengerjaan "terabas" berlangsung relatif singkat. Lafa, Bilal, dan personel The Jansen memulai proses dengan berdiskusi mengenai kehidupan serta arah musikal yang hendak mereka tuju.
“Kita lebih banyak ngobrol bareng soal kehidupan di teras. Terus ngobrolin juga kayak nanti arah musiknya mau ke mana? Habis itu kita masuk studio, terus Bilal mancing dengan riff intro yang dia mainkan. Lalu kami saling merespons melodi. Setelah itu kita bikin bagan, lalu nulis lirik,” jelas Lafa.
Dalam satu hari, mereka sudah menghasilkan satu draft lagu secara utuh. Pertemuan kedua digunakan untuk merekam instrumen dan vokal, sementara keseluruhan proses hanya membutuhkan tiga kali pertemuan.
Menariknya, perbedaan karakter musik para kolaborator tidak menjadi hambatan selama proses tersebut. Bilal justru melihat adanya benang merah yang muncul secara alami ketika mereka mulai bermain bersama.
“Surprisingly, ternyata gak ada kendala apa pun ya. Ketika kami gonjrengan bareng sih nyambung aja ternyata. Kami lebih banyak sharing referensi musik pas di studio. Ternyata dari semua bunyi-bunyian itu ada benang merahnya,” ujar Bilal.
Ia menilai "terabas" juga tidak membuat masing-masing musisi harus meninggalkan identitas musikal mereka.
“Dan lagu ini pun gak membuat kami jadi keluar dari warna masing-masing. Ini seperti menggabungkan tiga dunia yang berbeda lalu dijahit. Dari verse-nya bagaimana, chorus-nya bagaimana, itu dinamis banget. Pas dijahit sama Lafa terdengar mantep sih,” lanjutnya.
Salah satu titik temu musikal mereka datang dari The Beatles. Lafa mengingat Bilal sempat memainkan intro "I Want You (She's So Heavy)" ketika berada di studio.
“Mmmh, The Beatles sih. Karena Bilal sama The Jansen ketemunya di mana ya? Kayaknya di The Beatles. Aku ingat Bilal sempat mainin intro lagunya 'I Want You (She's So Heavy)' di studio. Mungkin kita terpicu dari situ ya, kayaknya lucu juga bikin satu intro yang unik. Terus kita kembangin lagi bareng-bareng dengan imajinasi masing-masing,” kata Lafa.
“Terabas” sebagai Sikap Menghadapi Hidup
Judul "terabas" berasal dari usulan Bilal yang kemudian disepakati anggota kolaborasi lainnya. Bagi Lafa, kata tersebut merepresentasikan sikap untuk menghadapi berbagai rintangan hidup tanpa terlalu banyak berhenti.
“Itu yang kasih judul sih Bilal. Lalu diamini oleh Tata dan Adji, aku pun ngikut. Maknanya ya sudah hajar saja di hidup yang banyak rintangan ini. Jalani saja karena hal terbaik yang bisa kita lakukan dengan hidup ini kan hajar saja. Terabas saja!” ujar Lafa.
Namun, pesan lagu tersebut tidak hanya mengenai keberanian menghadapi persoalan. Lafa juga memasukkan gagasan mengenai kekuatan batin dan doa sebagai bagian dari cara seseorang melewati berbagai rintangan.
“Kita ini punya kekuatan-kekuatan yang sifatnya nonfisik. Kayak kekuatan batin kalau kita ini bisa melewati banyak rintangan lewat kekuatan doa. Di sini ada penggalan liriknya kan, ‘Kutukanmu biasa saja, doa ibuku luar biasa.’ Ini juga tentang kesadaran kalau Tuhan itu selalu membersamai kita,” jelasnya.
Bagi The Jansen, pengalaman bekerja bersama Lafa juga memberikan ruang eksplorasi baru. Adji mengatakan band tersebut memiliki keterbatasan ketika harus bermain dalam pendekatan musik pop seperti yang dibawa Bilal, tetapi Lafa tidak menjadikan perbedaan tersebut sebagai batasan.
“Sangat menyenangkan bisa diproduserin Mas Lafa. Ini pertama kalinya The Jansen diproduseri orang lain. Ternyata tidak semenakutkan yang kami kira. Bisa dibilang kami memiliki keterbatasan skill untuk bermain musik pop seperti Mas Bilal. Tapi Mas Lafa bisa memberi kebebasan ruang untuk berkontribusi dan nge-push limit kita. Aku sangat menikmati semua prosesnya,” kata Adji.
Bilal sendiri sudah beberapa kali bekerja bersama Lafa dalam proyek musik sebelumnya. Ia menggambarkan kemampuan Lafa beradaptasi dengan berbagai musisi melalui sebuah perumpamaan.
“Kalau gua sudah sering sih kerja bareng sama Lafa. Di album sudah pernah, di beberapa lagu lain juga sering. Selalu menyenangkan. Gua selalu bilang kalau Lafa itu kayak air, sangat fluid ya. Dia bisa bekerja dengan berbagai musisi yang beda-beda warna musiknya. Dan hasilnya selalu top notch!” ujar Bilal.
"terabas" ditulis oleh Lafa Pratomo, Bilal Indrajaya, Cinta Rama Bani Satria, Adji Pamungkas, dan Raissa Faranda. Proses workshop dan rekaman berlangsung di Syaip Studio milik Lafa. Mixing dikerjakan Rama Harto dan Hardy Susetio Palawa di RekamKamar, Jakarta, sedangkan mastering ditangani Dimas Pradipta di Sum It! Studio, Jakarta.
Pada sesi instrumen, Lafa Pratomo, Bilal Indrajaya, dan Cinta Rama Bani Satria memainkan gitar. Adji Pamungkas mengisi bass, Lafa dan Raissa Faranda memainkan keyboard serta piano, Bagas Wisnu Wardhana pada drum, dan Sigit Pramudita mengisi brass section.
"terabas" resmi dirilis pada 15 September 2026 melalui berbagai platform streaming digital, bersamaan dengan video lirik di YouTube. Lagu ini selanjutnya akan dikembangkan dalam format video musik yang akan dirilis melalui kanal YouTube KithLabo.