Hahn, personel Linkin Park yang juga menjadi sutradara dokumenter terbaru band tersebut, Unshatter, mengatakan gagasan itu menjadi salah satu landasan emosional dalam pembuatan film sekaligus proses bermusik mereka setelah kehilangan sang vokalis.
“Bagian terpenting dari semuanya adalah tidak sepenuhnya memperbaikinya, tetapi melakukan semacam perbaikan dan tidak takut menunjukkan bekas luka kalian. Saya pikir itu adalah sesuatu yang kami pikirkan sepanjang perjalanan. Kemudian judul film ini, Unshatter, yang merupakan salah satu lagu kami, juga berasal dari sana. Saya pikir itu menjadi bagian dari etos kami ketika membuat musik. Jadi, rasanya sangat tepat untuk memberikan nama itu kepada film ini,” ujar Hahn kepada BBC News.
Bagi Linkin Park, proses tersebut berjalan bersamaan dengan terbentuknya kembali energi kreatif mereka. Kehadiran vokalis Emily Armstrong menjadi salah satu unsur penting dalam era From Zero. Armstrong bergabung bersama Mike Shinoda, Dave “Phoenix” Farrell dan Brad Delson dalam fase baru perjalanan band.
Hahn mengatakan karakter vokal Armstrong menghadirkan energi yang mereka cari. Ia mengakui terdapat kemiripan tertentu antara energi Armstrong dan Chester, meski keduanya merupakan sosok yang berbeda.
“Ada energi tertentu yang kami miliki, dan energinya [Emily] lebih dinamis dengan cara yang sangat mirip dengan Chester. Mereka adalah dua orang yang berbeda. Kemudian ketika kami melihat percikan itu, kami langsung tertarik kepadanya. Lalu kami berpikir, oke, ini adalah bahan yang benar-benar hilang dari apa yang sedang kami kerjakan,” katanya.
Selain Armstrong, Linkin Park juga memasuki era baru dengan Colin Brittain sebagai drummer. Ia mengisi posisi tersebut setelah Rob Bourdon mengambil jarak dari band setelah kematian Chester dan masa hiatus Linkin Park.
Tidak Harus Memenuhi Ekspektasi Masa Lalu
Kembalinya Linkin Park tentu tidak berlangsung tanpa kritik. Perubahan personel dan arah musik membuat sebagian penggemar mempertanyakan identitas baru band tersebut.
Hahn melihat kritik itu sebagai konsekuensi dari sejarah panjang Linkin Park. Menurutnya, keberhasilan yang telah mereka capai membuat penggemar memiliki gambaran sendiri mengenai seperti apa seharusnya band tersebut.
“Saya pikir kritik datang dari berbagai tempat. Berdasarkan sejarah dan hal-hal hebat yang telah kami lakukan, orang-orang menganggapnya sebagai milik mereka sendiri. Jadi, mudah bagi orang untuk membentuk gagasan tentang apa itu band ini, seperti apa seharusnya, dan apa yang boleh dilakukan oleh band ini. Tetapi pada akhirnya, kalian harus membiarkan sesuatu berjalan apa adanya, dan kemudian sesuatu yang hebat akan muncul darinya,” ujar Hahn.
Baca Juga :
Hiro Murai Cetak Sejarah di Emmy Awards 2026, Sutradara Asia Pertama Menang Serial Komedi
Pandangan tersebut menjadi salah satu konteks penting dalam Unshatter. Dokumenter ini tidak hanya mendokumentasikan kembalinya Linkin Park ke panggung, tetapi juga memperlihatkan proses yang berlangsung sebelum publik kembali melihat mereka sebagai sebuah band.
Unshatter akan tayang di bioskop seluruh dunia mulai 30 September 2026. Film tersebut mengikuti perjalanan Linkin Park sejak sesi rekaman awal pada 2022, proses pembuatan From Zero, hingga kembalinya mereka ke panggung melalui konser di São Paulo, Brasil.
Film ini memadukan arsip langka, rekaman di studio, momen di balik layar, serta penampilan langsung. Penayangannya juga tersedia dalam format standar dan sejumlah format bioskop premium seperti SCREENX, 4DX dan Ultra4DX.
Kehadiran Unshatter juga disertai album live "Unshatter (Live in São Paulo)" yang dijadwalkan dirilis pada 25 September. Sementara itu, versi live "Somewhere I Belong" dari konser São Paulo telah tersedia lebih dulu.
Bagi Hahn, dokumenter tersebut pada akhirnya merupakan rekaman dari satu fase yang sangat spesifik dalam sejarah Linkin Park.
Ia berharap penonton tidak hanya melihatnya sebagai dokumentasi kebangkitan sebuah band, tetapi juga dapat terhubung dengan tema mengenai persahabatan, ketahanan, dan keberanian untuk terus bergerak maju.