Rhoma Irama Kisahkan Masa Kelam Rock vs Dangdut

Cecylia Rura 16 Oktober 2018 11:50 WIB
rhoma irama
Rhoma Irama Kisahkan Masa Kelam Rock vs Dangdut
Raja Dangdut Rhoma Irama (Foto: Antara)
Jakarta: Raden Haji Oma Irama atau yang populer dengan nama panggung Rhoma Irama memiliki kisah menarik ketika memperjuangkan musik dangdut. Persisnya pada 1970-an, ketika ia berseteru dengan Benny Soebardja yang saat itu menjadi bagian dari The Giant Step.

"Dangdut versus rock sampai fisik. Semua kan sudah terbuka ya. Konon, Benny Subardja dari The Giant Step berbicara di majalah Aktuil, 'dangdut musik tahi anjing.' Gua balas lagi, 'rock persetan.' (Perseteruan) Sampai pada fisik," ucap pria berusia 71 tahun itu menuturkan kisahnya pada Archipelago Festival, Soehanna Hall SCBD, Jakarta, belum lama ini.

Dia menceritakan, perseteruan tersebut bahkan sampai pada aksi anarkis dari para penikmat musiknya.


"Kalau rock main (manggung), disambitin sama dangduters. Kalau dangdut main, disambitin sama rockers. Makanya, serasa kayak bikin film," tuturnya mengenang.

Ayah dari pedangdut Ridho Rhoma ini pun menceritakan pengalamannya ketika tampil di Lapangan Tegalega Bandung. Puluhan ribu orang saling lempar batu hingga polisi pun tak berkutik menghadapinya.

"Itu orang masyaAllah, puluhan ribu di situ hujan batu. Polisi enggak berani ngapa-ngapain, tapi saya harus fight untuk dangdut," kata Rhoma.

"Panggung dangdut dikencingin sama rockers, kemudian orang dangdut ngelawan pakai setrum," ucapnya melanjutkan.

Momen perseteruan itu menjadi bagian yang membekas dalam benak Rhoma Irama. Musisi yang berkarier di dunia musik sejak awal tahun 70-an itu masih ingat pernah menyaksikan perempuan menjadi korban akibat perseteruan fisik.

"Di Banyuwangi, saya pernah berkelahi fisik. Waktu Soneta perform, ada stadion di tengah lapangan. Enggak semua orang bisa masuk, akses terbatas. Di depan banyak perempuan, ibu-ibu, disambitin dari luar, di depan mata saya. Dhuar! Batu menimpa perempuan. Saya langsung lepas gitar, ke luar, saya lihat ada yang melempari, ribut keroyokan," kata dia.

Perseteruan musik dangdut dan rock menjadi bagian sejarah besar yang tidak terlupakan di panggung hiburan. Pada 1987, perwakilan dari masing-masing grup akhirnya berdamai. Saat itu, Japto Soelistyo Soerjosoemarno yang menjabat Ketua Pemuda Pancasila berhasil mendamaikan kedua kubu.

"Akhirnya, Mas Yapto dari Pemuda Pancasila yang mendamaikan rock dan dangdut. Kalau enggak salah tahun 1987. Japto Soerjosoemarno membuat satu pertemuan antara rock dan dangdut. God Bless sebagai representatif rock. Soneta sebagai representatif dangdut. Sejak saat itu, alhamdulillah masih kontak-kontakan, enggak ada ribut lagi," kata Rhoma Irama.




(DEV)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id