Ilustrasi Manuk Dadali dari Jawa Barat (Foto: Youtube)
Ilustrasi Manuk Dadali dari Jawa Barat (Foto: Youtube)

Lagu-lagu Daerah dengan Nilai Perjuangan

Hiburan lagu nasional 75 Tahun Indonesia Merdeka
Cecylia Rura • 16 Agustus 2020 07:00
Jakarta: Lagu-lagu nasional kebangsaan dikumandangkan pada bulan perayaan ulang tahun RI. Banyak lagu patriotik yang disuarakan mengenang jasa pahlawan dan perjuangan memerdekakan Indonesia pada 1945.
 
Lagu-lagu daerah tidak hanya menyuarakan keindahan budaya. Beberapa daerah juga memiliki katalog lagu dengan nilai perjuangan. Berikut daftar lagu daerah dengan nilai perjuangan:


1. Manuk Dadali (Jawa Barat)


Lagu Manuk Dadali diciptakan penyiar radio dan televisi Sambas Mangundikarta, pria kelahiran Bandung, 21 September 1926.
 
Arti harfiah manuk dadali yakni burung garuda. Lagu Manuk Dadali memiliki nilai nasionalisme digambarkan lewat burung garuda yang perkasa.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Lirik:
 
Mesat ngapung luhur jauh di awang-awang
(terbang melesat tinggi jauh di awang-awang)
 
Mébérkeun jangjangna bangun taya karingrang
(merentangkan sayapnya, tampil tanpa keraguan)
 
Kukuna ranggoas reujeung pamatukna ngeluk
(kakinya panjang dan paruhnya melengkung)
 
Ngepak mega bari hiberna tarik nyuruwuk
(menyongsong awan sambil terbang dengan cepat)
 
Saha anu bisa nyusul kana tandangna
(siapa yang bisa menyaingi keberaniannya)
 
Gandang jeung perténtang taya bandingannana
(gagah perkasa tanpa tandingan)
 
Dipikagimir dipikasérab ku sasama
(disegani dan disayangi oleh sesama)
 
Taya karempan kasieun lébér wawanénna
(tanpa ragu tanpa takut, besar nyalinya)
 
Refrain:
Manuk dadali manuk panggagahna
(burung garuda burung paling gagah)
 
Perlambang sakti Indonesia Jaya
(lambang sakti Indonesia jaya)
 
Manuk dadali pangkakoncarana
(burung garuda yang paling tersohor)
 
Resep ngahiji rukun sakabéhna
(senang bersatu rukun semuanya)
 
Hirup sauyunan tara pahiri-hiri
(hidup berhimpun tanpa saling iri)
 
Silih pikanyaah teu inggis béla pati
(saling menyayangi tak sungkan mengorbankan nyawa)
 
Manuk dadali ngandung siloka sinatria
(burung garuda adalah lambang kesatriaan)
 
Keur sakumna Bangsa di Nagara Indonesia
(untuk seluruh bangsa di Negara Indonesia)

 

2. Caping Gunung (Jawa Tengah)


Lagu Caping Gunung diciptakan Gesang. Dalam catatan OPAC Perpusnas, lagu ini diterbitkan di Semarang pada 1996 oleh Cipta Suara Semarang.
 
Caping Gunung dipopulerkan penyanyi keroncong Waldjinah. Didi Kempot juga pernah membawakannya dengan versi campur sari.
 
Sejumlah sumber menyebutkan lagu Caping Gunung merupakan bentuk kegelisahan Gesang terhadap masyarakat desa saat itu. Rakyat desa pernah berjuang untuk kemerdekaan, tetapi kemerdekaan itu hanya dirasakan sebagian orang.
 
Lirik:
 
Dhek jaman berjuang
(pada zaman berjuang)
 
Njuk kelingan anak lanang
(aku teringat putraku)
 
Biyen tak openi
(dulu kurawat)
 
Ning saiki ana ngendi
(namun sekarang dia di mana)
 
Jarene wis menang
(katanya sudah merdeka)
 
Keturutan sing digadang
(terpenuhi apa yang diinginkan)
 
Biyen ninggal janji
(dulu dia berjanji)
 
Ning saiki apa lali
(tetapi sekarang apa lupa)
 
Ning gunung
(di gunung)
 
Tak jadongi sega jagung
(aku belikan nasi jagung)
 
Yen mendung
(waktu mendung)
 
Tak silihi caping gunung
(aku pinjamkan caping gunung)
 
Sukur bisa nyawang
(syukurlah dia bisa melihat)
 
Gunung desa dadi reja
(sekarang gunung desa semakin ramai)
 
Dene ora ilang
(hingga tidak akan hilang)
 
Gone padha lara lapa
(kenangan dulu ketika susah)
 

3. Tandu' Majeng (Jawa Timur)


Lagu Tandu' Majeng berasal dari Madura, Jawa Timur. Lagu ini menggambarkan profesi nelayan di Madura yang mempertaruhkan nyawa ketika melaut mencari ikan.
 
Lirik:
 
Ngapote wak lajereh etangaleh
(layar putihnya mulai kelihatan)
 
Reng majeng tantona lah pade mole
(Nelayan pencari ikan tentu sudah pada pulang)
 
Mon e tengguh deri abid pajelennah
(Jika dilihat dari lama perjalanannya)
 
Mase benyak’ah onggu le ollenah
(Hasil ikannya tentu banyak)
 
Duuh mon ajelling odiknah oreng majengan
(Duuh kalau dilihat hidup orang pencari ikan)
 
Abental ombek asapok angin salanjenggah
(Berbantal ombak berselimut angin selamanya/sepanjang malam)
 
Ole olang, paraonah alajereh,
(Ole olang, perahunya mau berlayar)
 
Ole olang, alajereh ka Madureh
(Ole olang, berlayar ke Madura)

 

4. Iraono Sihino Dola/Ono Gauko (Nias)


Iraono Sihino Dola diciptakan Faododogo Zega, warga Nias kelahiran Bo'uso. Dia merupakan guru jemaat du sebuah gereja. Lagu ini diciptakan sekitar tahun 1940-an, mendekati masa kemerdekaan Indonesia.
 
Indonesia pada masa itu melalui penjajahan dua babak dari Belanda dan Jepang. Lagu ini diciptakan dari perasaan saat ditindas pada masa penjajahan.
 
Lirik:
 
Inõtõ iada’a ba zi so ita tenga simane inõtõ mefõna
(masa sekarang tidak sama seperti masa dulu)
 
Tenga femõrõ fedao-dao, faigi gõi wa’auri zato
(jangan hanya tidur dan duduk, perhatikan situasi hidup masyarakat)
 
Ya’aga iraono sihino dõla saohagõlõma mboto na moguna
(kami pemuda pemudi, siap rela korban jiwa dan raga)
 
Tuyu mbaluse awõ doho, he ha lewuõ ha ono gauko
(angkat perisai, tombak dan bambu runcing)
 
Na oi ha sara oi awulo, faya maria fana sesolo
(jika kita berkumpul dan bersatu, meriam sekalipun tidak ada apa-apanya)
 
Moloi nudu ba lakhõmi zato
(dengan bersatu, musuh pasti kalah)

 

 

 
(ELG)
  • Halaman :
  • 1
  • 2
Read All


FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif