Festival tersebut lahir dari kolaborasi dua gerakan yang memiliki visi serupa, yakni Timuran Jaksel, yang tumbuh dari komunitas tari Moluccan Soul sebagai ruang ekspresi masyarakat Indonesia Timur di Jakarta, serta Suara Tana Timur, sebuah gerakan yang melihat besarnya potensi perkembangan musik dan kultur Indonesia Timur di Tanah Air.
Berawal dari tongkrongan, sesi jamming musik, dan kegiatan menari bersama di Bajawa Kemang serta kawasan Cibis Park, inisiatif tersebut berkembang menjadi sebuah festival yang mempertemukan komunitas, musisi, kreator, hingga para penikmat musik Indonesia Timur dalam ruang yang inklusif.
Saat ditemui di belakang panggung Pesta Timuran Jaksel di Cibis Park, Jakarta Selatan, Sabtu, 5 Juli 2026, Arie mengaku terharu melihat perjalanan festival tersebut yang kini mampu menghadirkan panggung berskala besar bagi para seniman Indonesia Timur.
Menurut komika asal Baubau, Sulawesi Tenggara itu, perkembangan tersebut menjadi bukti bahwa para pelaku seni dari Indonesia Timur mampu berkolaborasi lintas bidang dan membangun ekosistem kreatif yang kuat.
"Saya pribadi merasa sangat senang melihat perkembangan teman-teman yang sudah bisa berkolaborasi dengan segala macam lini, hingga mampu membawa panggung sebesar ini untuk para penikmat musik genre Indonesia Timur," ujar Arie Kriting.
Arie mengenang, cikal bakal festival tersebut bermula dari kegiatan sederhana. Saat itu, sejumlah musisi dan penari hanya membawa meja, alat musik, lalu berkumpul untuk bernyanyi dan menari bersama. Aktivitas tersebut kemudian menarik perhatian publik, viral di media sosial, hingga akhirnya berkembang menjadi agenda yang rutin diselenggarakan.
Ia juga mengungkapkan bahwa sebagian besar penggagas festival merupakan seniman profesional yang harus meluangkan waktu di tengah kesibukan mereka. Beberapa di antaranya bahkan berdomisili di luar Jakarta, seperti Toton Caribo dan Jacson Zeran yang berbasis di Yogyakarta, hingga seorang DJ yang menetap di Belanda.
Arie mengaku beberapa kali diminta ikut masuk dalam susunan acara maupun menjadi wajah utama promosi festival. Namun, ia memilih menolak karena ingin masyarakat datang untuk menikmati kualitas karya para pelaku seni, bukan karena popularitas dirinya.
"Teman-teman sempat mengajak saya untuk masuk ke dalam susunan acara, tapi saya bilang agar mereka saja yang mengerjakan. Bahkan mereka berkali-kali meminta izin untuk memasang foto saya di poster agar orang-orang datang. Saya bilang tidak usah. Biarlah orang datang karena kemampuan kalian, bukan karena saya," tuturnya.
Baca Juga :
Lagu Indonesia Timur Bawa Revolusi Baru Industri Musik, Ecko Show: Dulu Dapat Sorotan Aja Susah!
Ia bahkan sempat mendapat protes dari Toton Caribo karena hadir di lokasi tanpa namanya tercantum dalam poster acara. Meski demikian, Arie menegaskan bahwa dirinya lebih memilih berkontribusi dari balik layar demi memberikan ruang yang lebih besar kepada rekan-rekannya untuk tampil di depan publik.
Menurutnya, peran orang-orang di balik layar sering kali luput dari perhatian, padahal mereka memiliki kontribusi besar terhadap lahirnya sebuah pertunjukan.
"Menurut saya, bekerja di belakang layar memiliki makna yang jauh lebih besar untuk membantu teman-teman naik ke permukaan. Kadang orang hanya melihat siapa yang ada di atas panggung, padahal orang-orang di balik layar juga bekerja luar biasa," katanya.
Bagi Arie, keberhasilan Pesta Timuran Jaksel memiliki arti yang jauh lebih besar daripada sekadar sebuah festival musik. Ia menilai pencapaian tersebut menjadi simbol kebangkitan masyarakat Indonesia Timur yang selama ini kerap dipandang sebelah mata dalam berbagai aspek.
"Bagi saya, untuk daerah yang sering kali dipandang sebelah mata atau dianggap tertinggal dalam berbagai hal, bisa memiliki pencapaian seperti ini memiliki makna yang sangat besar bagi kami," tutup Arie Kriting.
Pesta Timuran Jaksel tahun ini sukses menghadirkan beragam pertunjukan dari musisi lintas genre asal Indonesia Timur, instalasi seni, area komunitas, kompetisi dance battle, hingga sajian kuliner khas yang merepresentasikan keberagaman budaya dari berbagai daerah di kawasan Indonesia Timur.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda