“Pada dasarnya, saya ingin mengajak beliau makan malam,” ungkap Pramono Anung di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Jumat, 23 Oktober 2026.
Namun, niat tersebut diurungkan setelah ia mendapatkan saran dari orang-orang di sekitarnya.
“Banyak orang memperingatkan saya, ‘Jangan lakukan itu.’ Agak berbahaya bagi istri saya,” ucap Pramono Anung.
Syuting Film Extraction: Tygo di Jakarta
Sebelumnya, Lisa BLACKPINK berkunjung ke Jakarta untuk syuting film panjang pertamanya bertajuk Extraction: Tygo pada awal tahun 2026. Proyek film orisinal Netflix ini digarap oleh sutradara Lee Sang-yong dengan naskah karya Cha Woo-jin.
Pramono Anung menilai kehadiran produksi film besar seperti *Extraction: Tygo* menjadi bukti bahwa Jakarta mampu bersaing di kancah internasional. Ia menegaskan bahwa ibu kota selalu terbuka bagi berbagai aktivitas kreatif dunia.
"Jakarta ini sebagai kota global tentunya mempersilakan siapa saja untuk menggunakan Jakarta sebagai aktivitasnya. Termasuk kalau kemudian mendokumentasikan, membuat apa pun itu," kata Pramono Anung kepada awak media, Kamis, 29 Januari 2026.
Ia turut menyampaikan apresiasinya kepada tim produksi yang telah memilih Jakarta sebagai lokasi pengambilan gambar untuk proyek yang melibatkan bintang internasional tersebut.
"Kami berterima kasih kalau kemudian ada penyanyi atau artis dunia yang menggunakan Jakarta sebagai tempat untuk itu," ungkap Pramono.
Promosi Jakarta di Festival Film Cannes
Wakil Gubernur DKI Jakarta, Rano Karno, mengungkapkan bahwa pemilihan kawasan Kota Tua sebagai lokasi syuting bermula dari partisipasi Indonesia dalam Festival Film Cannes. Melalui ajang internasional tersebut, potensi Jakarta sebagai lokasi syuting film kelas dunia mulai dilirik.
"Kenapa mereka syuting di situ? Itu lahir dari Festival Film Cannes (Prancis). Kami tahun lalu, buka booth di Festival Film Cannes. Mei 2025, kami ikut lagi," ungkap Rano Karno pada Januari 2026.
Jakarta Experience Board (JXB) turut mengonfirmasi bahwa terpilihnya Jakarta sebagai lokasi syuting internasional merupakan tindak lanjut dari arahan Rano Karno. Langkah ini menjadi bagian dari strategi untuk memosisikan Jakarta sebagai "Kota Sinema", dengan kawasan Kota Tua sebagai salah satu ikon utamanya.