Curahan hati tersebut disampaikan aktris berusia 29 tahun itu saat menjadi bintang tamu dalam podcast Suara Berkelas yang diunggah pada 28 Desember 2025. Dalam kesempatan itu, ia menekankan bahwa ukuran kebahagiaan atau penderitaan seseorang tidak dapat hanya dilihat dari pencapaian materi semata.
Produser Sinemaku Pictures itu berargumen bahwa kehidupan setiap orang memiliki tantangannya sendiri, sekalipun secara lahiriah tampak sempurna.
“Kita kan ngga bisa menilai masalah orang dari materi. Oke kita melihat orang itu punya segalanya, punya uang. Tapi ya pasti Tuhan itu adil, Tuhan akan ngasih masalah yang sesuai dengan levelnya dia,” ujar Prilly.
Ia pun membagikan contoh nyata yang sering dialaminya. Saat ia menangis, bukan dukungan yang didapat, melainkan candaan yang menyangkut kondisi ekonominya.
“Aku sering dibecandain kalau misalnya aku lagi nangis, temanku atau apa aku dibecandain ‘Ya lo nangis tapi rumah lo marmer,” kata Prilly menirukan ucapan sahabatnya.
Bahkan ketika ia mencoba bercerita, respons yang diterima justru mengarah pada kemampuannya secara finansial.
“Ya orang-orang gitu, misalkan aku cerita ‘Lo nangis juga besoknya lo juga bisa beli tiket ke Itali, terus lo nangis di Lake Como',” sambung kekasih Omara Esteghlal tersebut.
Menanggapi hal tersebut, bintang film Danur itu menegaskan bahwa fasilitas materiil tidak serta-merta menghapus emosi yang sedang dirasakan.
Baca Juga :
Aktor Veteran Ahn Sung-ki Meninggal Dunia
“Dan aku ngerasa kayak, ya iya sih, tapi bukan berarti gue berhenti nangisnya kan, berarti gue tetap nangis dong. Berarti tetap ada emosi sedih di situ yang harus ditampung dan harus didengar,” paparnya.
Dari pengalaman tersebut timbul perasaan terisolasi dan keraguan terhadap diri sendiri.
“Itu adalah fase-fase retak di mana aku benar-benar merasa sendiri. Aku ngerasa kayak aku itu gak pantes sedih,” ungkap Prilly.
(Maulia Chasanah)
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News