Kak Seto (Foto: Instagram @kaksetosahabatanak)
Kak Seto (Foto: Instagram @kaksetosahabatanak)

Kak Seto Angkat Bicara terkait Penanganan Kasus Aurelie Moeremans

Agustinus Shindu Alpito • 14 Januari 2026 13:51
Jakarta: Kak Seto akhirnya menyampaikan penjelasan terbuka menanggapi anggapan bahwa dirinya tidak berperan aktif dalam membantu keluarga Aurelie Moeremans saat kasus dugaan eksploitasi psikologis mencuat.
 
Isu tersebut kembali ramai dibicarakan publik setelah kisah lama itu diangkat ulang pada awal 2026.
 
Melalui unggahan di Instagram Story pada Selasa, 13 Januari 2026, psikolog anak itu meminta masyarakat tidak terburu-buru menarik kesimpulan. 

“Mohon kepada para sahabat semua, kiranya dapat menyikapi kembali pemberitaan terkait kasus tersebut dengan kepala dingin dan hati yang jernih tanpa melintir fakta ke arah pemahaman yang keliru,” tulis Kak Seto. 
 
Terkait tudingan minimnya tindakan nyata, Ketua Lembaga Perlindungan Anak Indonesia itu menyatakan bahwa upaya pendampingan telah dilakukan sesuai peran dan kewenangan yang tersedia kala itu. 
 
“Pada masanya, kami telah berupaya semaksimal mungkin sesuai dengan kemampuan dan tanggung jawab kami saat itu,” jelasnya.
 
Perhatian publik terhadap kasus ini kembali menguat setelah Aurelie Moeremans meluncurkan buku memoar Broken Strings: Fragments of a Stolen Youth. Dalam buku tersebut, ia mengisahkan pengalaman hubungan yang bersifat manipulatif ketika masih berusia 15 tahun dengan seorang pria dewasa berusia sekitar 29 tahun.
 
Pada rentang waktu 2009 hingga 2010, ibu Aurelie, Sri Sunarti, sempat membawa persoalan tersebut ke Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI). Saat itu, KPAI berusaha menjembatani komunikasi antara keluarga dan pihak pria yang bernama samaran “Bobby”, namun proses tersebut tidak berjalan mulus.
 
Kesulitan utama muncul karena kondisi mental Aurelie yang masih berada di bawah pengaruh kuat pelaku sehingga kerap menolak bekerja sama. Selain itu, posisi usia yang hampir memasuki kategori dewasa membuat langkah perlindungan secara hukum menjadi terbatas.
 
Dalam kesaksian terbarunya, Aurelie mengungkap bahwa dirinya sempat menyampaikan keterangan yang tidak sesuai fakta karena berada dalam situasi tertekan. Ia mengaku menerima ancaman serius, mulai dari intimidasi fisik hingga ancaman penyebaran foto pribadi, yang membuatnya memilih bungkam saat diperiksa.
 
Menutup klarifikasinya, pria bernama lengkap Seto Mulyadi itu meminta agar pengungkitan kembali kasus lama tersebut tidak diarahkan pada saling menyalahkan. 
 
“Apabila di tahun 2026 ini ada pihak yang kembali mengangkat kasus tahun 2010 tersebut, kiranya hal itu tidak dijadikan ruang untuk saling menuduh, memfitnah, menyerang secara personal, atau mengubah makna fakta yang sebenarnya,” tegasnya. 
(Maulia Chasanah)
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(ASA)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan