Suar Festival: Sumbu Mas
Suar Festival: Sumbu Mas

Festival Suar Sumbu Mas 2026: Saat Mitos Desa Menjadi Lagu dan Panggung Tak Lagi Berpusat di Kota

Agustinus Shindu Alpito • 20 Juni 2026 07:27
Ringkasnya gini..
  • Festival Suar Sumbu Mas 2026 di Magelang menghidupkan cerita rakyat dan tradisi lisan melalui karya musik populer berbasis budaya desa.
  • Lewat inkubasi kreatif dan konser karya, Festival Suar Sumbu Mas membuktikan cerita rakyat bisa menjadi sumber musik masa kini.
  • Festival Suar Sumbu Mas mempertemukan seniman, akademisi, dan masyarakat untuk mengolah budaya lokal menjadi karya musikal baru.
Jakarta: Festival Suar Sumbu Mas 2026 sukses digelar pada Minggu, 14 Juni 2026, di Dusun Pendem, Desa Banaran, Kecamatan Grabag, Kabupaten Magelang. Festival ini menjadi bagian dari upaya membangun ekosistem seni dan budaya berbasis desa dengan menjadikan cerita rakyat, tradisi lisan, serta pengetahuan lokal sebagai sumber inspirasi dalam penciptaan musik populer.
 
Mengusung tema "Menyemai Kata di Lumbung Nada", festival ini mengajak masyarakat untuk melihat kembali kekayaan cerita rakyat yang hidup di tengah komunitas sebagai sumber gagasan artistik yang tetap relevan dengan kehidupan masa kini. Festival Suar Sumbu Mas berpijak pada keyakinan bahwa cerita rakyat tidak semata-mata menjadi peninggalan masa lalu, melainkan ruang pengetahuan yang terus tumbuh, berkembang, dan dapat dimaknai ulang melalui berbagai medium kesenian.
 
Lebih dalam lagi, festival ini adalah upaya desentralisasi episentrum pertunjukan musik kontemporer yang selama ini identik dengan kota-kota besar saja. Festival Suar memantik sebuah diskursus tentang bagaimana komunitas lokal yang berdaya dalam penciptaan dan penyajian karya musik populer.

Untuk mewujudkan gagasan tersebut, festival menghadirkan sejumlah forum dan diskusi yang mempertemukan seniman, akademisi, jurnalis musik, serta masyarakat dalam percakapan mengenai keterkaitan antara tradisi lisan, sastra, tubuh, dan musik populer. Hadir sebagai pembicara antara lain komposer dan pianis jazz Adi Wijaya, sastrawan sekaligus dosen teater Peri Sandi, komposer dan pianis jazz Sri Hanuraga.
 
Selain menjadi ruang diskusi, Festival Suar Sumbu Mas juga berfungsi sebagai wadah inkubasi kreatif bagi para musisi yang ingin mengembangkan karya berbasis cerita rakyat, mitos, memori kolektif, maupun pengalaman budaya masyarakat setempat. Selama proses inkubasi, peserta mendapatkan pendampingan artistik yang mencakup riset lapangan, eksplorasi musikal, hingga pengembangan komposisi yang berangkat dari konteks sosial dan budaya lokal.
 
Puncak penyelenggaraan festival ditandai melalui Konser Karya Inkubasi, yang menampilkan tujuh karya musik hasil proses pendampingan tersebut. Ketujuh karya lahir dari pertemuan antara riset budaya dan praktik penciptaan musik populer, yang menerjemahkan cerita rakyat ke dalam bahasa musikal yang baru dan lebih dekat dengan audiens masa kini. Melalui konser ini, para peserta menghadirkan beragam pendekatan kreatif dalam mengolah narasi lokal menjadi karya yang komunikatif, reflektif, dan relevan dengan kehidupan masyarakat.
 
Festival juga menghadirkan pertunjukan utama bertajuk "Ayun", sebuah karya musik yang terinspirasi dari cerita rakyat Dusun Pendem. Pertunjukan ini mengolah memori kolektif masyarakat menjadi pengalaman musikal yang mempertemukan tradisi dengan kreativitas kontemporer. Karya tersebut sekaligus menunjukkan bahwa cerita rakyat memiliki kemungkinan untuk terus hidup dan berkembang melalui berbagai bentuk ekspresi artistik.
 
Melalui penyelenggaraan Festival Suar Sumbu Mas 2026, terlihat bahwa desa tidak hanya berperan sebagai ruang pelestarian budaya, tetapi juga sebagai ruang produksi pengetahuan, kreativitas, dan penciptaan karya. Kolaborasi yang terjalin antara masyarakat, seniman, akademisi, dan generasi muda membuka peluang baru bagi pengembangan musik populer yang berakar kuat pada tradisi tanpa kehilangan relevansinya terhadap perkembangan zaman.
 
Penyelenggara berharap festival ini dapat mendorong lahirnya lebih banyak karya musik yang bertumbuh dari kekayaan budaya lokal Indonesia. Dengan demikian, cerita rakyat tidak berhenti sebagai arsip atau kenangan masa lalu, melainkan terus bergerak, ditafsirkan ulang, dan dihidupkan kembali melalui karya-karya yang mampu menjangkau generasi masa kini.

Tentang Festival Suar

Festival Suar merupakan festival musik berbasis desa yang berfokus pada pengembangan karya musik populer melalui eksplorasi cerita rakyat, tradisi lisan, dan pengetahuan lokal. Program ini mempertemukan riset budaya, praktik artistik, dan partisipasi masyarakat untuk mendorong lahirnya karya-karya baru yang berakar pada kehidupan desa, memperkuat ekosistem seni lokal, serta membangun ruang kolaborasi yang berkelanjutan bagi para pelaku seni dan budaya.
 
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(ASA)




TERKAIT

BERITA LAINNYA