Wawancara Eksklusif Geisha, Berlayar Tanpa Melumpuhkan Ingatan tentang Momo

Cecylia Rura 09 Agustus 2018 12:25 WIB
indonesia musik
Wawancara Eksklusif Geisha, Berlayar Tanpa Melumpuhkan Ingatan tentang Momo
Formasi terbaru Geisha (Foto: Instagram Geisha Indonesia/Hafizh Weda)
Geisha termasuk salah satu band lokal Indonesia yang merintis kesuksesan lewat anak tangga. Jarang ada yang tahu bagaimana grup yang telah 14 tahun terbentuk sejak para personelnya Narova Morina “Momo” Sinaga, Roby Satria, Ashari “Nard” Aulia, Rahmad “Dhan” Ramadhan, Ahmad “Aan” Rasyid duduk di bangku SMA di Pekanbaru, Riau. Menjadi bintang daerah dari panggung ke panggung hingga dikenal setelah bertanding dalam sebuah festival musik bergengsi di Jakarta.

Bisa dibilang, 14 tahun bersahabat bukan hal sebentar. Ketika vokal ikonik Momo untuk Geisha harus digantikan sosok baru, itu cukup menggagetkan penggemar. Sejak mereka berlima menggunakan nama panggung Geisha, nama Momo lebih sering terdengar, bahkan tak jarang Momo seorang, kerap dipanggil Geisha.

Regina Poetiray, sosok yang didaulat menggantikan Momo mengemban beban yang tak ringan. Tapi bukan berarti tak mampu. Pelan-pelan Geisha membuka lembar baru bersama Regina. Pada pertengahan 2018, Geisha memperlihatkan wajah baru lewat video musik Kering Air Mataku. Meredam berbagai gejolak, baik internal dan eksternal, Geisha mengklaim status Momo tidak keluar - dan tidak akan terganti - dia masih bagian dari keluarga Geisha.


Mencoba mengenal Geisha yang baru, Medcom.id mencoba merangkum wawancara khusus bersama Robby (gitaris), Nard (bassist), Dhan (keyboardist) dan sang vokalis baru Regina tentang perjalanan panjang mereka. Dimulai dari kejayaan di kampung halaman lewat band bernama Jingga, hingga transformasi menjadi Geisha yang kini masuk "jilid kedua."


Bagaimana awal perjalanan Geisha yang dulunya bernama Jingga?

Roby: Dari 2003 kita bentuk Jingga waktu itu bersama-sama dengan Momo juga. Lalu kenapa diganti dengan nama Geisha karena kita sudah mendapatkan informasi nama tersebut (Jingga) sudah ada yang menghakciptakan, sudah tidak bisa dipakai lagi.

Kita berembuk ada beberapa nama yang menjadi pilihan. Pihak Musica punya pilihan, kita juga punya pilihan nama. Ternyata pas digabungin ketemulah nama Geisha. Kita coba cari tahu arti nama Geisha itu sendiri dan apa korelasinya dengan perjalanan karier Geisha.

Ternyata Geisha ini bukan berkonotasi negatif. Dia memang seorang yang dibesarkan untuk menghibur raja. Akhirnya kita berpikir sama persis dengan perjalanan kita. Tugas kita menghibur penggemar, My Geisha.

Nard: Karena untuk menjadi (profesi) Geisha ada sekolahnya. Enggak gampang untuk bisa menjadi seorang Geisha. Dididiklah. Sama kayak Jingga dulu, kita enggak bisa sampai ke fasenya berganti nama jadi Geisha. Masuk ke label kan perjalanannya, banyak banget. Cocoklah sama Geisha karena filosofinya masuk.

Roby: Waktu itu juga sempat khawatir karena vokalis kita perempuan. Konotasi masih negatif. Cuma kita percaya sebuah karya yang disampaikan secara konsisten pasti akan berubah opininya. Sekarang orang-orang kalau dengar Geisha justru konotasinya bukan negatif lagi. Geisha itu adalah band. Dan untuk memperoleh itu memang butuh waktu yang lama.

Kita bikin materi, waktu itu di saat kita mengikuti salah satu festival nasional lalu kita sampai ketemu ending-nya. Kita bikin satu album untuk dipertandingkan akhirnya Geisha yang jadi pemenang.

Dhan: Kita enggak menang. Dari festival itu (A Mild Live Wanted 2007) kita enggak menang. Dari ajang itu ada sembilan band. Setiap regionalnya. Sembilan band itu nasional, satu band yaitu D’Masiv jadi pemenang. Delapan pemenang sisanya ini dikasih kesempatan buat demo yang paling bagus supaya bisa diterima di label Musica.

Istilahnya ada dua band yang diterima di Musica. Akhirnya dari delapan band Geisha yang dipilih Musica.

Roby: Lalu kita produksi satu album. Album pertama kita dengan singel pertama Jika Cinta Dia di tahun 2009. Regina waktu itu masih…

Regina: 10 tahun.

Baca juga: Di Balik Balada Cinta Geisha

14 tahun para personel Geisha tumbuh bersama dalam persahabatan dan musik,  bagaimana kalian merefleksikan awal pertemuan itu?

Roby: Kita asalnya memang satu sekolah dulu.

Dhan: Roby, Nard, Momo satu SMA. Awalnya dulu kita bikin satu band.

Nard: Kita dari zaman SMA udah ikut-ikut festival, parade band. Akhirnya karena kita juga ada studio, dulu drummer kita punya studio.

Roby: Ceritanya jawaranya festival Pekanbaru lah. Menangnya udah enggak bisa dihitung pakai jari. Akhirnya kita masuklah festival nasional. Penasaran. Ternyata, rezekinya juga ada di situ. Di situlah kita memperkenalkan Geisha, waktu itu Jingga. Tapi, kita waktu itu basic-nya band festival, genre yang kita usung awalnya progresif rock.

Nard: Cari jati diri band dulu lah waktu itu, Evanescence, Paramore, Alter Bridge.

Dhan: Kita pernah bawain lagu Alter Bridge, Metallica juga pernah.

Roby: Setelah kita kembali lagi ke Pekanbaru, setelah kalah. Kita bikin rumusan baru. Kita pingin ada di Musica gimana caranya. Berkompetisi lagi untuk satu album. Akhirnya kita coba menurunkan ego, merubah genre.

Kita ingin lagu-lagu kita bisa dinikmati sama semua orang tapi tidak menghilangkan jati diri kita. Karena bagaimana pun juga kita anak festival. Jadi, kita juga butuh menjadi diri kita sendiri di album itu. Akhirnya kita mencoba membuat lagu pop. Di situ transisinya kayak malu-malu juga sebenarnya. Gue punya lagu ini tapi gimana, ya? Karena basic awalnya kita progresif rock.

Jadi, berjalan waktu ternyata kita jodoh dengan Musica Studios lagu lewat Jika Cinta Dia. Lagu ini mendapatkan perhatian teman-teman manajemen Musica Studios. Akhirnya dipilihlah singel itu jadi lagu pertama di album pertama, Anugrah Terindah, tahun 2009. Di situ kami berubah genrenya.

Nard: Waktu itu kita kaget juga, ternyata lagu itu lumayan meledak.

Bagaimana awal perjalanan Geisha menemukan Regina?

Roby: Pertemuannya dikenalkan sama manajemen. Terus prosesnya singkat sebenarnya. Cepat banget karena kita pingin buru-buru.

Prosesnya enggak terlalu lama sebenarnya. Jadi, beruntungnya Tuhan sayang sama kita, ketemua Regina cepat. Jadi, transisinya di saat kita diperkenalkan sama Regina lalu aku juga enggak mau mengambil waktu yang terlalu lama untuk transisi ini karena semakin lama akan semakin banyak PR mengejar ketertinggalan.

Akhirnya setelah kenal sama Regina, kita mengintiplah, stalking Regina, aku juga observasi tentang vokalnya dia.

Jadi, belum tahu ini ceritanya. Kami stalking duluan.

Baca juga: Wawancara Eksklusif Regina, Vokalis Baru Geisha

Dapat dikatakan Geisha menjemput bola dengan mengulik lebih dalam tentang sosok Regina?

Roby: Iya, caranya dia gimana, sih. Chord-chord yang ideal untuk dia. Chord favoritnya dia.

Nard: Kita sampai ngulik semua tentang dia, di YouTube, Instagram. Oh dia bawain lagunya si ini-ini.

Roby: Oh, style-nya kayak gini ya. Kalau mau di Geisha-in kira-kira akan seperti ini. Yang dinyanyikan sama dia itu karakter vokalnya kayak gini, notasi yang seperti ini. Yang dia idela yang nyaman itu seperti ini. Karena sadar enggak sadar, enggak semua yang dinyanyikan dia cocok sama dia sebenarnya. Nah, itu kita coba bedah lagi. Kira-kira kalau kayak yang di Geisha bagaimana, ya?

Notasi-notasi yang dia favoritkan kita coba masukin ke lagu biar nge-blend sama musik Geisha.

Dhan: Jadi, biar enggak cuma Regina aja, maksudnya Regina yang mengikuti kita. Kita juga mengikuti Regina.

Roby: Yang nyaman, yang cocok sama Regina. Kita kan bisa lihat di video-video sebelumnya. Cuma karena memang kebetulan viral dinyanyikan Regina, tapi enggaak cocok sebenarnya notasinya sama dia. Kita coba cari notasi yang paling nyaman lalu kita aplikasikan ke Geisha.

Kapan pertemuan pertama kalian bersama Regina?

Nard: Beberapa bulan lalu sih.

Roby: Enggak boleh dibilang berapa lama tapi yang pasti beberapa bulan lalu.

Apa ekspektasi Geisha dengan kehadiran Regina?

Roby: Geisha punya pendengarnya sendiri. Kita enggak mau mengecewakan penggemar kita. Kita udah punya fan base yang luar biasa besar di Indonesia. Kita enggak mau banting stir untuk menunjukkan sesuatu hingga membuat seseorang (berpikir) ini siapa yang nyanyiin. Kita tetap menjadi diri kita sendiri. Kita tetap menjadi Geisha, sesuai sejak perjalanan awal yang kita lalui selama 14 tahun ini.

Beruntungnya kita ada Regina, ada orang baru, keluarga baru kita membawa influence baru buat kita. Sesuatu yang fresh, yang baru, kita coba aplikasikan ke Geisha dengan bentuk Geisha yang baru. Jadi bukan genre yang baru. Regina menjadi dirinya sendiri di dalam Geisha tanpa harus menghilangkan identitas Geisha-nya.


Formasi baru Geisha dengan Regina (tengah) sebagai vokalis (Foto: Dok. Musica Studios)


Dengan vokalis baru, perubahan apalagi yang ingin ditampilkan oleh Geisha?

Roby: Semua baru, logonya baru. Font-nya baru, look-nya baru, vokalisnya baru. Dia juga multi-talenta menggunakan akustik dan synthesizer. Pendengarnya pun baru. Perndengar lama dan baru digabung menjadi satu.

Dhan: Lagu lamanya pun kita aransemen menjadi lebih baru lagi.

Apakah ada perbedaan dari segi musikalitas?

Roby: Berbeda itu pasti, cuma tidak menghilangkan identitas Geisha. Pembuatan liriknya juga pastinya kita juga mendengarkan musik baru Indonesia, musik baru di luar. Jadi, kita juga lihat pembuatan lagu yang lagi tren itu seperti apa, sih.

Jadi, aku juga enggak mau bank lagu yang lama banget terus dipakai Regina, enggak gitu. Harus di-create ulang.

Kita menyesuaikan dengan lirik-lirik baru bagaimana cara penulis-penulis lagu menulis lirik-lirik di zaman sekarang. Itu juga trend-nya kita ikuti. Membuat kalimat-kalimat sederhana yang enggak lazim.

Bagaimana cara Geisha membangun chemistry dengan Regina, seperti kita tahu jarak usia antara personel Geisha lain dengan Regina cukup jauh?

Roby: Saat perkenalan kita membuat chemistry-nya, hubungan, komunikasi musiknya juga berpengaruh dari kedekatan kita.

Ada faktor yang membuat nantinya Regina akan nge-blend sama Geisha akan banyak faktor sebenarnya. Konser bareng-bareng.

Mungkin banyak referensi tukat-tukaran referensi, di perjalanan nanti mungkin kita dengar lagu-lagu baru. Referensi lagu baru pasti terbentuk.

Vokalis Geisha diganti dengan yang baru. Namun, kalian juga mengklaim Momo tidak keluar. Apa ada kemungkinan Momo berkolaborasi dengan Regina dalam Geisha?

Roby: 
Enggak ada yang enggak mungkin. Karena berita di luar sana yang simpang siur itu, sama sekali enggak benar. Momo tidak pernah dikeluarkan, tidak pernah mengeluarkan diri. Tidak pernah mengeluarkan statement hengkang dari Geisha itu enggak ada.

Makanya kita melihatnya mungkin ini ada orang-orang yang cukup kritis. Yang belum bisa move on dari perkembangan Geisha. Tapi kita menanggapi itu dengan positif. Karena enggak ada yang enggak mungkin.

Suatu saat Momo bersama Regina bernyanyi di satu momen besar, enggak tahu momen itu bisa jadi ada. Kita enggak mau fokus di sana dulu. Kita masih mau membangun chemistry dengan Regina, jadi semuanya mengalir aja, sih.









(ASA)

metro tv
  • Opsi Opsi
  • kick andy Kick Andy
  • economic challenges Economic Challenges
  • 360 360

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id