Menjadi konser terbesarnya sejak Babak Penutup: Untungnya, Hidup Harus Tetap Berjalan tahun lalu, pertunjukan ini bukan hanya memperkenalkan album baru, tetapi juga mengajak penonton bernostalgia lewat lagu-lagu yang membesarkan namanya.
MARBLES Panaskan Panggung

Suasana konser mulai memanas sekitar pukul 19.15 WIB lewat penampilan pembuka dari MARBLES. Girl group rookie besutan A-List Entertainment itu tampil enerjik membawakan koreografi penuh semangat.
Daniella, Quilla, Tiffany, Kyka, dan Beverly turut memperdengarkan “Catch Me”, single terbaru mereka yang bahkan belum resmi dirilis. Kelima member mengungkapkan bahwa ini menjadi kali pertama lagu tersebut dibawakan secara langsung di atas panggung.
Penampilan MARBLES ditutup dengan lagu debut “Hompimpa” yang sukses membuat penonton semakin antusias menyambut penampilan utama malam itu.
Bernadya Bawa Penonton Tenggelam dalam Album Baru

Setelah jeda singkat, Bernadya akhirnya muncul di atas panggung dan langsung mengajak penonton memasuki dunia Semoga Hanya di Mimpi. Pada Act 1, ia membawakan seluruh lagu dari album terbarunya secara berurutan.
Nuansa melankolis langsung terasa saat “Laut yang Tenang” mengalun, lalu berlanjut ke “Peluk Aku Sekarang”, “Kita Buat Menyenangkan”, hingga “Menyenangkan Mengenalmu”.
Visual panggung ikut memperkuat emosi setiap lagu. Saat “Rabun Jauh” dan “Belum Sempat Kenal” dibawakan, kain transparan dipasang di sisi kanan dan kiri runway sehingga menciptakan efek buram yang seolah menggambarkan makna kedua lagu tersebut.

Kejutan pertama malam itu hadir usai “Sebelum Jadi Panjang”. Rendy Pandugo naik ke atas panggung untuk mengiringi “Tolong Bilang Ini Mimpi” dengan permainan gitarnya.
Kehadiran Rendy terasa spesial karena ia juga terlibat sebagai penulis lirik sekaligus mengisi hampir seluruh instrumen dalam versi rekaman lagu tersebut, mulai dari piano hingga drum.
Penampilan itu sekaligus menutup Act 1. Sempat muncul anggapan dari sebagian penonton bahwa konser telah usai setelah seluruh lagu album baru selesai dibawakan. Namun, Bernadya kembali ke panggung dengan kejutan berikutnya.
Nostalgia Bersama Lagu-Lagu Lama

Act 2 menjadi momen nostalgia bagi Bersenadya, sebutan untuk para penggemar. Bernadya kembali menyanyikan deretan lagu dari EP serta album debut yang telah lebih dulu melekat di hati pendengar.
Ia membuka segmen ini dengan “Apa Mungkin”, lalu melanjutkan ke “Kata Mereka Ini Berlebihan”, “Sinyal Sinyal”, hingga lagu yang menjadi salah satu penanda perjalanan kariernya, “Sialnya, Hidup Harus Tetap Berjalan”.
Penonton pun kompak bernyanyi sepanjang pertunjukan dan membuat suasana berubah dari syahdu menjadi penuh kehangatan.
Tenxi Datang, Suasana Langsung Berubah

Momen paling tak terduga hadir menjelang akhir konser. Saat producer tag “Oh, What Jemsii!” terdengar dari pengeras suara, sorak penonton langsung pecah.
Tenxi kemudian muncul di atas panggung dan mengubah aransemen “Untungnya, Hidup Terus Berjalan” menjadi versi hipdut yang penuh hentakan. Lagu yang biasanya identik dengan nuansa mellow mendadak berubah menjadi pesta kecil hingga membuat seluruh pengunjung Tennis Indoor bergoyang bersama.
Setelah euforia itu mereda, Bernadya menutup konser dengan “Lama-Lama”, meninggalkan malam yang dipenuhi campuran haru, nostalgia, sekaligus kegembiraan.
Sentuhan Era 2000-an dari Edy Khemod

Di balik keseluruhan konsep pertunjukan, terdapat sentuhan kreatif Edy Khemod yang dipercaya sebagai creative director konser ini.
Bernadya sebelumnya mengungkapkan bahwa drummer Seringai tersebut merupakan sosok yang paling tepat untuk menerjemahkan nuansa awal 2000-an yang menjadi benang merah album Semoga Hanya di Mimpi ke dalam sebuah pertunjukan.
Menurut Bernadya, album tersebut memang banyak terinspirasi oleh estetika dan atmosfer era 2000-an. Karena itu, ia ingin konsep tersebut diwujudkan oleh seseorang yang benar-benar mengalami masa itu, bukan sekadar mengenalnya lewat referensi.
(Nyimas Ratu Intan Harleysha)
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda