Bernadya dengan kolaborator di album Semoga Hanya Di Mimpi (Foto: Medcom/Basuki)
Bernadya dengan kolaborator di album Semoga Hanya Di Mimpi (Foto: Medcom/Basuki)

Bernadya Ungkap Cerita Emosional di Balik Album Semoga Hanya Di Mimpi

Basuki Rachmat • 26 Juni 2026 22:14
Ringkasnya gini..
  • Bernadya merilis album Semoga Hanya Di Mimpi yang berisi luapan ketakutan dan harapan agar semuanya hanya menjadi mimpi.
  • Album terbaru Bernadya mengusung nuansa pop era 2000-an dengan inspirasi dari karya Audy dan sentuhan visual khas Kamakura.
  • Bernadya menggandeng banyak produser untuk menghadirkan warna musik era 2000-an yang tetap terasa jujur di album Semoga Hanya Di Mimpi.
Jakarta: Penyanyi dan penulis lagu Bernadya resmi merilis album penuh keduanya bertajuk Semoga Hanya Di Mimpi via JUNI Records pada Rabu, 24 Juni 2026. Lewat album ini, solois asal Surabaya tersebut menuangkan berbagai kegelisahan dan ketakutan yang selama ini menghantuinya, terutama mengenai rasa bahagia dan ketenangan dalam hidup.
 
Dalam sesi jumpa pers album & showcase Semoga Hanya Di Mimpi di kawasan TB Simatupang, Jakarta Selatan, Jumat, 26 Juni 2026, Bernadya menjelaskan makna di balik judul album yang dipilihnya.
 
Menurut penyanyi berusia 22 tahun itu, frasa Semoga Hanya di Mimpi merupakan harapan agar seluruh ketakutan yang ia tuangkan ke dalam lagu-lagunya tidak pernah benar-benar terjadi di kehidupan nyata.

"Karena itu ada di salah satu lirik di trek satu, dan itu adalah harapanku karena trek-treknya adalah isi ketakutanku yang aku harap itu cuma ada di mimpi. Mudah-mudahan nggak beneran. 'Semoga Hanya Di Mimpi' ketakutanku," tutur Bernadya.

Terinspirasi Estetika Era 2000-an

Tak hanya dari sisi musikal, Bernadya juga memberikan perhatian besar terhadap konsep visual album. Bersama JUNI Records, ia memilih Pantai Kamakura, Jepang, sebagai lokasi pemotretan artwork album.
 
Namun, Bernadya menegaskan bahwa tujuan utamanya bukan untuk menghadirkan identitas Jepang secara eksplisit, melainkan mengejar nuansa visual khas era 2000-an yang menurutnya sulit ditemukan di tempat lain.
 
"Cerita di balik kenapa pemilihannya Kamakura? Mungkin itu dan juga keseluruhan visualnya. Keseluruhan visualnya, sebenarnya kita tuh plan-nya nggak mau ngejar Jepang-nya banget sih sebenarnya. Cuma ada beberapa warna-warna yang cuma ada di Jepang gitu lho. Kayak hijaunya Jepang beda, birunya Jepang beda," ujarnya.
 
"Kita nggak mau sebenarnya orang ngerasain itu Jepang juga. Kita punya aim-nya adalah 2000-an gitu warnanya. Cuma entah kenapa warna-warna itu bisa didapatkannya di sana gitu," lanjut Bernadya.

Banyak Terinspirasi Musik Audy Item

Dari sisi musikalitas, Semoga Hanya di Mimpi menawarkan warna yang berbeda dibandingkan karya-karya Bernadya sebelumnya. Album ini banyak dipengaruhi musik pop Indonesia awal 2000-an dengan dominasi instrumen organik yang dipadukan sentuhan elektronik secara subtil.
 
Bernadya mengungkapkan salah satu referensi utamanya adalah karya-karya Audy pada era awal 2000-an.
"Jadi aku berangkatnya karena aku lagi emang tuh sering dengerin musik kak Audy Item yang 2004. Terus aku juga merasa waktu itu trek terakhir di album yang sebelumnya, 'Untungnya, Hidup Harus Tetap Berjalan', orang banyak bilang ini terdengar nostalgia terus orang jadinya somehow terbawa ke masa itu 2000-an, band-band tahun segitu," ucap Bernadya.
 
Ia kemudian mengajak sejumlah produser dengan latar belakang musikal yang berbeda untuk menerjemahkan semangat musik era 2000-an dari sudut pandang masing-masing.
 
"Terus aku kayak 'Oh seru ya kalau kita berangkat dari sini jadi bener-bener nuansa 2000-an' gitu. Sudah sempat oke. Oke deh kita berangkat mengerjakan 2000-an. Mungkin 2000-an itu luas banget ya ternyata. Jadi makanya aku mengajak banyak produser untuk mengumpulkan 2000-an berdasarkan perspektif produser macam-macam masing-masing produser semuanya. Ya nggak apa-apa ternyata hasilnya warna-warni tapi ini kayak surprisingly orang menangkap maksudku," lanjutnya.
 
Meski lahir dari banyak perspektif, Bernadya merasa album tersebut tetap terdengar jujur dan memiliki identitas yang utuh.
 
"Yang aku suka tuh rasanya semuanya tuh nggak terlalu 'Katro in a good way' gitu. Kayak semua orang tuh mencoba-coba, semua orang mencoba-coba tapi somehow it feels honest," tutup Bernadya.
 
Bagi Sobat Medcom yang penasaran dengan karya terbaru dari Bernadya, Album Semoga Hanya Di Mimpi kini telah bisa kalian dengarkan di berbagai platform musik digital.
 
 
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(ELG)




TERKAIT

BERITA LAINNYA