Preskon LaLaLa Festival 2026 (Foto: Medcom/Basuki)
Preskon LaLaLa Festival 2026 (Foto: Medcom/Basuki)

LaLaLa Festival Genap 10 Tahun, Ekspansi ke Manila hingga Cetak Dampak Ekonomi Rp306 Miliar

Basuki Rachmat • 12 Agustus 2026 18:08
Ringkasnya gini..
  • LaLaLa Festival genap 10 tahun dan memperluas jangkauan ke Jakarta serta Manila, sekaligus membawa ekosistem festival Indonesia ke pasar Asia Tenggara.
  • LaLaLa Festival mencatat dampak ekonomi Rp306,93 miliar selama tiga hari, dengan kontribusi besar dari sektor kuliner, akomodasi, dan perdagangan.
  • Memasuki satu dekade, LaLaLa Festival mendapat apresiasi pemerintah karena dinilai berpotensi menjadi wadah pengembangan musisi menuju panggung internasional.
Jakarta: LaLaLa Festival memasuki babak baru dalam perjalanan satu dekadenya. Setelah bertahan selama 10 tahun sejak pertama kali digelar pada 2016, festival musik tersebut kini memperluas jangkauan dengan hadir di dua kota sekaligus, yakni Jakarta, Indonesia, dan Manila, Filipina.
 
Pada penyelenggaraan tahun ini, LaLaLa Festival juga memperkuat ekosistem acaranya melalui kolaborasi dengan Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD dan PK Entertainment. Kerja sama tersebut mencakup berbagai aspek, mulai dari pemilihan talenta, produksi, operasional, hingga pengembangan pengalaman pengunjung.
 
Kolaborasi ini diarahkan untuk memastikan setiap elemen festival dapat terintegrasi dengan baik sehingga memberikan pengalaman yang lebih nyaman bagi para penonton.

LaLaLa Festival Beri Dampak Ekonomi

Tak hanya menjadi ruang pertunjukan bagi musisi dari berbagai negara, LaLaLa Festival juga memberikan dampak terhadap perekonomian di sekitar penyelenggaraan acara.

Berdasarkan data yang dihimpun pihak LaLaLa Festival, sebanyak 69,69 persen pengunjung selama tiga hari penyelenggaraan turut berkontribusi terhadap perputaran ekonomi lokal. Total dampak ekonomi yang dihasilkan tercatat mencapai Rp306,93 miliar.
 
Dalam penyelenggaraannya, LaLaLa Festival juga melibatkan 840 tenaga kerja yang terdiri dari 50 panitia inti, 352 pelaku seni dan budaya, 30 relawan, serta 408 pekerja harian.
 
Perputaran ekonomi tersebut kemudian tersebar ke sejumlah sektor utama. Sektor makanan dan minuman memberikan kontribusi sebesar 42,42 persen, jasa kesenian, hiburan, dan rekreasi sebesar 10,44 persen, penyediaan akomodasi sebesar 21,12 persen, serta perdagangan selain mobil dan sepeda motor sebesar 26,02 persen.  

Carmel Puma Bersyukur LaLaLa Festival Bertahan 10 Tahun

Founder LaLaLa Festival, Carmel Puma, mengaku masih sulit mempercayai perjalanan festival yang dirintisnya sejak 2016 tersebut kini telah memasuki usia satu dekade.
 
Ia pun bersyukur LaLaLa Festival tidak hanya mampu bertahan, tetapi juga mendapat kesempatan membawa konsep festival Indonesia ke pasar internasional melalui penyelenggaraan di Manila.
 
"Unreal, Bro. Nggak pernah kepikiran gua ada di sini 10 tahun gitu, dari 2016 ya loh kita berdarah-darah sampai bisa ketemu orang-orang hebat, bisa kerja sama gitu. Even bawa Indo ke Manila. Kalau bukan karena Tuhan, siapa lagi," ujar Puma saat ditemui dalam sesi doorstop interview di kawasan Cikini, Jakarta Pusat, Selasa, 11 Agustus 2026.

Pemerintah Apresiasi Konsistensi LaLaLa Festival

Perjalanan satu dekade LaLaLa Festival juga mendapat apresiasi dari Kementerian/Badan Ekonomi Kreatif (Kemenekraf) Republik Indonesia.
 
Deputi Bidang Kreativitas Media Kemenekraf RI, Cecep Rukendi, menilai keberlangsungan LaLaLa Festival selama 10 tahun menunjukkan bahwa industri musik Indonesia memiliki peluang bisnis yang besar apabila dikembangkan secara konsisten dan berkelanjutan.
 
"Kami sangat mengapresiasi para promotor musik yang menyelenggarakan Lalala Festival ini sepuluh tahun berturut-turut, berkelanjutan. Ini menunjukkan bahwa dengan segala kelebihan dan kelemahannya, peluang untuk berbisnis industri musik itu sangat terbuka lebar. Kami di pemerintah tugas utamanya ada tiga sebenarnya, yang mana ini kami apresiasi karena satu visi juga dengan teman-teman di Lalala ini," ungkap Cecep.
 
Menurut Cecep, pemerintah memiliki peran dalam membantu pelaku ekonomi kreatif, termasuk membuka akses pasar, meningkatkan kapasitas, hingga memberikan kemudahan dalam penyelenggaraan kegiatan ekonomi kreatif.
"Yang pertama, membantu pelaku ekonomi kreatif, membantu memfasilitasi entah itu akses pasarnya, entah itu akses untuk peningkatan kapasitasnya, maupun akses kemudahannya. Karena misalnya kalau saya lihat di line-up, ada tiga belasan negara yang tampil, yang mungkin membawa barang-barang dan sebagainya. Itu kita bisa kolaborasi dengan Direktorat Jenderal Imigrasi atau Bea Cukai untuk kemudahan visa, barang-barang yang dibawa, dan sebagainya. Termasuk juga kita bantu promosinya melalui rilis di kementerian dan media sosial kami," lanjutnya.
 
Cecep juga melihat LaLaLa Festival memiliki potensi menjadi wadah bagi lahirnya musisi-musisi baru yang mampu berkembang ke tingkat internasional.
 
"Yang kedua, tentu tugas kita juga membangun champion, menciptakan champion. Lalala ini konsisten bikin festival, mempertemukan musisi Indonesia dengan musisi luar negeri, tetapi bukan musisi yang sudah besar banget, melainkan musisi yang terus akan naik kelas. Sehingga nantinya akan menjadi (dalam tanda kutip) inkubator dan akselerator untuk terciptanya musisi-musisi hebat, baik dari Indonesia maupun negara-negara yang lain," tuturnya.
 
Tak berhenti pada pengembangan talenta, Cecep menilai keberlanjutan industri musik juga membutuhkan ekosistem yang sehat dan mampu mendukung seluruh pihak yang terlibat di dalamnya.
 
"Dan yang ketiga, kita mengembangkan ekosistem yang sehat, sportif, dan berkelanjutan. Karena tidak cukup hanya membantu satu per satu musisi atau menciptakan champion, tetapi juga menciptakan ekosistem supaya industri ini tumbuh subur, berkembang, dan berkelanjutan. Terima kasih," tutup Cecep.
 
Memasuki tahun ke-10, LaLaLa Festival 2026 juga menghadirkan deretan musisi internasional yang telah lama dinantikan penggemar musik di Indonesia.
 
Sejumlah nama yang dijadwalkan tampil antara lain Rex Orange County, Steve Lacy, HONNE, Two Door Cinema Club, The Flaming Lips, Kodaline, Dermot Kennedy, FLO, Jordan Rakei, Matt Maltese, Astrid S, Summer Salt, serta puluhan musisi lainnya.
 
Kehadiran para musisi tersebut menjadi bagian dari upaya LaLaLa Festival memperluas pengalaman musik lintas negara sekaligus memperkuat posisinya sebagai salah satu festival musik Indonesia yang mulai membawa identitas dan ekosistemnya ke panggung Asia Tenggara.
 

 
 
 
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(ELG)




TERKAIT

BERITA LAINNYA