Anggaran besar itu salah satunya dialokasikan untuk menciptakan boneka Ghawiah dengan desain dan teknologi animatronik yang lebih canggih. Boneka tersebut dirancang memiliki gerakan dan ekspresi yang lebih beragam untuk menghadirkan teror yang terasa nyata di layar lebar.
"Soal budget kita enggak bisa spill angkanya pasnya. Tapi bisa bikin berapa film horor? Tiga lah ya. Tapi bukan horor Hitmaker, ya," ujar Rocky Soraya di Jakarta.
The Doll Ghawiah menjadi babak terbaru dalam semesta film horor The Doll. Kali ini, Hitmaker Studios berupaya menawarkan pengalaman berbeda dengan memperbarui tampilan boneka sekaligus meningkatkan teknologi yang digunakan untuk menghidupkan karakter tersebut.
Rocky mengakui, menghadirkan sesuatu yang baru menjadi tantangan tersendiri setelah beberapa film The Doll sebelumnya memperkenalkan boneka yang mampu bergerak dan berbicara. Tim produksi perlu menemukan inovasi agar Ghawiah tidak sekadar mengulang teror dari film-film terdahulu.
Pengembangan boneka Ghawiah melibatkan proses produksi khusus. Rocky mengungkapkan, boneka tersebut dipesan langsung dari Bali, sedangkan teknologi animatroniknya didatangkan dari Amerika Serikat. Biaya pengembangan keduanya mencapai miliaran rupiah.
Rocky menjelaskan bahwa boneka Ghawiah memiliki pembaruan dari segi tampilan, kostum, hingga teknologi animatronik. Perubahan tersebut memungkinkan boneka menampilkan gerakan dan ekspresi yang lebih kompleks dibandingkan versi sebelumnya.
Investasi besar ini diharapkan mampu membuat karakter Ghawiah terasa lebih hidup sekaligus memperkuat ketegangan dalam cerita. Detail gerakan dan ekspresi boneka menjadi elemen penting untuk membangun teror, terutama ketika karakter tersebut berinteraksi dengan para pemain.
Namun, biaya fantastis The Doll Ghawiah tidak hanya digunakan untuk mengembangkan boneka. Film ini juga mengandalkan pembangunan set berskala besar dan pendekatan visual yang dirancang untuk memperkuat suasana mencekam sepanjang cerita.
Dari sisi penyutradaraan, Guntur Soeharjanto dipercaya menggarap film ini dengan pendekatan sinematografi yang berbeda dari film-film The Doll sebelumnya. Atmosfer horor dibangun secara bertahap agar penonton dapat merasakan ketegangan bahkan sebelum sosok boneka diperlihatkan secara utuh.
Menurut Rocky, film ini tidak hanya menghadirkan teror baru melalui boneka yang lebih canggih, tetapi juga mengungkap akar sejarah di balik kejadian mengerikan dalam semesta The Doll. Cerita tersebut diharapkan memberikan perspektif baru bagi penonton yang telah mengikuti perjalanan waralaba horor ini.
The Doll Ghawiah dijadwalkan tayang di bioskop Indonesia pada 29 Oktober 2026.
Sinopsis Film The Doll Ghawiah
Mengambil latar tahun 1988, kisah bermula ketika pasangan suami istri Arya (Darius Sinathrya) dan Evi (Titi Kamal) memutuskan pindah dari Jakarta ke kawasan Babakan Siliwangi, Bandung.Langkah ini diambil bersama kedua buah hati mereka, Gita (Aisyah Aqilah) dan Nala (Laura Moane), untuk merintis lembaran hidup baru usai bisnis keluarga bangkrut. Namun, niat mencari ketenangan justru berubah menjadi teror mistis tiada akhir setelah Nala tak sengaja bertemu anak misterius di dalam hutan yang memberinya sebuah boneka bernama Ghawiah.
Usut punya usut, nama Ghawiah memiliki arti harfiah 'tersesat'. Boneka ini bersemayam jiwa-jiwa terluka yang memicu serangkaian kejadian janggal di rumah baru mereka. Melalui penuturan Laras (Sara Wijayanto), seorang pelayan restoran lokal, terungkap legenda tragis sosok arwah anak bernama Uci yang tewas akibat kecelakaan tabrak lari di Jalan Siliwangi dua tahun sebelumnya.