Eddie Cahyono raih penghargaan di BIFF 2026 (Foto: dok. kanal YouTube @Busanfilmfest)
Eddie Cahyono raih penghargaan di BIFF 2026 (Foto: dok. kanal YouTube @Busanfilmfest)

Film Ibuku Karya Eddie Cahyono Raih Special Jury Award di Busan Film Festival 2026

Basuki Rachmat • 16 Oktober 2026 11:02
Ringkasnya gini..
  • Sineas Indonesia Eddie Cahyono sukses membawa pulang Special Jury Award di ajang Busan International Film Festival (BIFF) ke-31 2026 lewat film Ibuku.
  • Penghargaan tersebut didedikasikan Eddie untuk para pekerja migran Indonesia, sekaligus bentuk pencapaian janjinya bersama aktris Christine Hakim.
  • Film Indonesia dan Jepang ini menyoroti isu HAM dengan mengangkat kisah seorang ibu yang berjuang menemui putrinya yang divonis mati di Arab Saudi.
Jakarta: Sineas Indonesia, Eddie Cahyono, berhasil meraih penghargaan khusus Special Jury Award melalui film Ibuku (My Mother) di Busan International Film Festival (BIFF) ke-31. Penghargaan tersebut diserahkan dalam malam penganugerahan yang berlangsung di Busan Cinema Center, Korea Selatan, pada Kamis, 15 Oktober 2026.

Ibuku merupakan film produksi bersama Indonesia dan Jepang yang berkompetisi dalam kategori Main Competition BIFF 2026. Film ini menjadi salah satu dari dua wakil Indonesia di kategori tersebut bersama Laut Bercerita (The Sea Speaks His Name) garapan Yosep Anggie Noen. Namun, Laut Bercerita belum berhasil membawa pulang penghargaan dalam ajang tersebut.

Saat menerima penghargaan, Eddie menyampaikan rasa terima kasih kepada pihak festival karena telah memberikan kesempatan bagi proyek film tersebut untuk berkembang sejak pertama kali dipresentasikan dalam Asian Project Market (APM) 11 tahun lalu. Ia juga mengenang janji yang pernah dibuat bersama aktris Christine Hakim untuk mewujudkan film tersebut.

"Saya ingin berterima kasih kepada Busan Film Festival karena film ini pernah dipresentasikan di APM 11 tahun lalu. Sejak saat itu, saya berusaha mewujudkan film ini karena saya dan Christine Hakim pernah berjanji untuk membuatnya bersama," kata Eddie di atas podium saat menerima penghargaan, dikutip dari kanal YouTube @Busanfilmfest pada Jumat, 16 Oktober 2026. 

Eddie kemudian memanggil Christine Hakim yang hadir di antara tamu undangan. Ia menyampaikan rasa bahagianya karena proyek yang telah diperjuangkan selama bertahun-tahun itu akhirnya berhasil diwujudkan.

"Dan akhirnya, kita berhasil, Bu," lanjutnya.

Tak hanya kepada Christine, Eddie juga mendedikasikan pencapaian tersebut kepada para produser yang terlibat dalam produksi Ibuku, yakni Tika Bravani dari ANP Talenta Media dan produser asal Jepang, Shin Yamaguchi.
 

"Terima kasih juga untuk produser saya, Tika Bravani, seorang perempuan pemberani yang membuat semua ini bisa terwujud. Dan tentu saja, untuk Shin Yamaguchi, sosok dengan hati yang begitu indah. Terima kasih, Shin," ujarnya.

Eddie turut mempersembahkan penghargaan tersebut kepada para pekerja migran, khususnya pekerja migran Indonesia beserta keluarga yang harus menjalani kehidupan berjauhan.

"Saya persembahkan film ini untuk para pekerja migran, khususnya pekerja migran Indonesia, karena memang film ini saya buat untuk mereka. Terutama bagi keluarga yang ditinggalkan di rumah. Dan untuk ibu saya di rumah, semoga beliau sedang menonton film ini sekarang," tutupnya.

Ibuku Angkat Kisah Pekerja Migran Indonesia


Dalam kategori Main Competition BIFF 2026, Ibuku dan Laut Bercerita bersaing dengan 11 film lainnya dari berbagai negara untuk memperebutkan sejumlah penghargaan, termasuk penghargaan utama, Busan Award for Best Film.

Edisi ke-31 BIFF juga menjadi momen penting bagi festival tersebut setelah memperoleh status festival kelas A dari Federasi Internasional Asosiasi Produser Film (FIAPF). Pengakuan ini menempatkan BIFF dalam jajaran festival film internasional bergengsi yang memiliki standar seleksi dan kompetisi tingkat tinggi.

Sementara itu, Ibuku mengangkat kisah Sumiati (Christine Hakim), seorang ibu yang berjuang menemui putrinya, Sri (Ayushita), yang dijatuhi hukuman mati di Arab Saudi setelah dituduh membunuh majikannya.

Perjuangan Sumiati untuk bertemu dengan sang anak tidak hanya mengungkap beratnya persoalan yang dihadapi pekerja migran, tetapi juga membuka kembali luka lama dalam hubungan ibu dan anak.

Melalui kisah yang intim dan emosional, film ini turut menyoroti persoalan perempuan, hak asasi manusia, serta nasib keluarga pekerja migran yang kerap harus menanggung dampak dari berbagai persoalan di negara tempat anggota keluarga mereka bekerja.
 

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(ELG)




TERKAIT

BERITA LAINNYA