Jakarta: Luka batin dan trauma masa lalu menjadi bagian dari teror psikologis yang dialami Karina Salim dan Rachel Amanda dalam film horor Hasut. Bersama Marthino Lio dan Kevin Ardilova, keduanya memerankan karakter yang harus menghadapi ketakutan ketika suara-suara misterius mulai mengusik perjalanan mereka di sebuah hutan.
Berbeda dari horor yang mengandalkan penampakan makhluk gaib, film Hasut membangun ketegangan melalui suara dan kondisi psikologis para karakternya. Ketakutan tidak selalu hadir dalam wujud yang bisa dilihat, tetapi juga melalui sesuatu yang memancing imajinasi dan menggali kecemasan terdalam.
Pendekatan tersebut menjadi pilihan Ilya Sigma yang menjalani debut penyutradaraan film panjang. Penulis skenario yang telah berkiprah di industri perfilman sejak 2010 itu mengangkat tema penyembuhan luka batin sebagai salah satu dasar cerita.
Melalui empat karakter utama, Hasut mengeksplorasi bagaimana trauma yang belum terselesaikan dapat memengaruhi cara seseorang menghadapi situasi yang mengancam. Ketika mereka memasuki hutan dan mendengar suara-suara yang sulit dipercaya, pengalaman masa lalu turut membentuk ketakutan yang mereka rasakan.
Karina Salim dan Rachel Amanda menjadi dua pemeran yang membawa eksplorasi emosional tersebut ke dalam cerita. Bersama Marthino Lio dan Kevin Ardilova, mereka menghadirkan karakter dengan beban psikologis masing-masing, yang perlahan berhadapan dengan ketakutan saat situasi di sekitar mereka semakin tidak menentu.
Bagi Ilya, sumber ketakutan tidak harus selalu diperlihatkan secara langsung kepada penonton. Dia memilih memanfaatkan suara untuk menciptakan ruang bagi imajinasi, sehingga penonton ikut membangun gambaran mengenai ancaman yang sedang dihadapi para karakter.
“Secara personal, aku lebih takut sama sesuatu hal yang aku bayangkan daripada yang aku lihat secara visual atau tampak. Karena ketika suara itu ada ruang di kepala kita, di ruang itu kita membayangkan, seperti apa bentuknya atau dari mana asalnya?” ujar penulis dan sutradara Ilya Sigma.
Pendekatan ini membuat suara menjadi elemen penting dalam membangun atmosfer horor Hasut. Salah satu perangkat yang digunakan untuk membangun ketegangan adalah handy talkie atau HT. Benda yang lazim ditemukan dalam kegiatan produksi film tersebut dimanfaatkan sebagai medium komunikasi yang menghadirkan ketidakpastian.
Ilya mengeksplorasi karakteristik suara HT, mulai dari bunyi statis, gangguan sinyal, hingga frekuensi yang terputus. Unsur-unsur tersebut menciptakan kesan bahwa suara yang terdengar tidak sepenuhnya bisa dipercaya.
“Jadi HT itu menurut aku jadi medium yang sangat menarik. Karena kalau ada suara dari HT terkadang membuat aku berpikir, ‘Ini yang ngomong siapa ya?’ Dan biasanya dari suara-suara yang keluar itu kita sudah membayangkan bentuknya seperti apa,” jelas Ilya.
Di balik pendekatan horornya, Hasut juga menjadi ruang bagi Ilya untuk membicarakan pengalaman personal tentang keraguan dan suara-suara yang memengaruhi seseorang. Baginya, hasutan tidak selalu datang dalam bentuk ancaman yang jelas, tetapi bisa muncul sebagai pikiran yang membuat seseorang meragukan kemampuan dan keputusannya sendiri.
Pengalaman tersebut turut memengaruhi proses kreatif Ilya ketika menggarap film panjang pertamanya sebagai sutradara. Setelah bertahun-tahun berkarya sebagai penulis skenario, dia harus menghadapi keraguan yang berpotensi menghambat langkahnya untuk mengambil tanggung jawab baru.
“Film ini juga menjadi refleksi bagiku secara personal. Aku sudah lama juga sebenarnya di industri film. Dan yang sering menghambat itu sebenarnya ketika hasutan itu masuk ke kepala kita dan kita yakin sekali itu suara kita sendiri. Padahal, itu hasutan-hasutan yang muncul dari luar dan bisa menghambat kita untuk memulai dan melakukan sesuatu. Seperti saat aku membuat film feature pertamaku, aku merasa sepertinya aku tidak perlu mendengarkan hasutan-hasutan itu semua,” ujar Ilya.
Sebelum menggarap Hasut, Ilya telah terlibat dalam sejumlah film dengan genre dan pendekatan cerita berbeda. Beberapa karya yang pernah ditulisnya antara lain Catatan Harian Si Boy pada 2011, Rectoverso: Curhat Buat Sahabat pada 2013, Sundul Gan: The Story of Kaskus pada 2016, dan A Man Called Ahok pada 2018. Dia juga pernah menyutradarai film omnibus Pintu Harmonika pada 2013.
Pengalaman tersebut menjadi bagian dari perjalanan kreatif Ilya dalam mengembangkan cerita yang dekat dengan persoalan manusia. Selain berkarya di perfilman, dia mendirikan Aksara Jiva, ruang kreatif reflektif yang menggabungkan penulisan, penyelidikan diri, dan penceritaan berbasis pemulihan.
Film Hasut ditulis dan disutradarai Ilya Sigma serta diproduksi Tuta Films. Putrama Tuta dan Siera Tamihardja bertindak sebagai produser, sementara Nick Musa menjadi ko-produser. Film ini sedang tayang di bioskop Indonesia.
FOLLOW US
Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan