Film Cerita Lila (Foto: instagram MVP)
Film Cerita Lila (Foto: instagram MVP)

Platform Hiburan Luar Negeri Siapkan Rp 1,7 triliun untuk 20 Proyek Film Indonesia

Elang Riki Yanuar • 25 Juni 2026 20:51
Ringkasnya gini..
  • Show Token investasi Rp1,7 triliun di Indonesia untuk mendukung industri film lewat teknologi blockchain dan pendanaan berbasis Web3.
  • Show Token menggandeng MVP dan A&Z Films. Empat film Indonesia dipastikan mendapat dukungan pendanaan tahap awal.
  • Show Token ingin mengubah industri perfilman Indonesia dengan sistem Web3 yang transparan serta melibatkan penonton sejak proses produksi.
Jakarta: Perusahaan hiburan berbasis blockchain, Show Token resmi mengumumkan ekspansinya ke Indonesia. Mereka datang membawa komitmen investasi sebesar USD 100 juta atau setara Rp 1,7 triliun untuk memodernisasi ekosistem industri kreatif di Asia Tenggara, khususnya Indonesia
 
Kolaborasi itu bakal diwujudkan dengan menjalin kemitraan strategis dengan sejumlah rumah produksi (PH) lokal seperti MVP dan A&Z Films. Empat film Indonesia perdana yang dipastikan mendapatkan sokongan adalah Cerita Lila dan Sihir Tanah Kubur produksi MVP, serta Pemikat Jiwa dan Munafik produksi A&Z Films.
 
"Kolaborasi strategis ini bertujuan untuk mengintegrasikan potensi besar industri sinema nasional dengan sistem pendanaan terdesentralisasi berbasis Web3 yang transparan, efisien, dan inklusif," kata Chief Operating Officer (COO) Show Token, Joshua Khubani. 

Sejauh ini mereka juga berkomitmen untuk mendukung lebih dari 20 proyek film. Joshua menyebut langkah ini bertujuan mendemokratisasi akses pendanaan industri kreatif di Indonesia.
"Dengan menggandeng para sineas serta PH lokal profesional seperti MVP, A&Z Films, dan beberapa PH lainnya, kami berkomitmen membuka akses yang lebih luas bagi talenta berbakat Indonesia untuk naik ke panggung global, sekaligus memberikan transparansi finansial yang lebih baik bagi ekosistem ini,” kata Joshua.
 
Joshua menyebut sistem berbasis smart contract yang ditawarkan dirancang untuk memangkas birokrasi tradisional dalam pengelolaan anggaran dan pembagian royalti. Dengan sistem otomatis ini, risiko finansial bagi kreator dan rumah produksi diharapkan dapat diminimalisasi.
 
Selain sebagai sarana pendanaan, ekosistem ini memungkinkan penggemar untuk berpartisipasi aktif dalam mendukung film, mulai dari tahap produksi hingga promosi. Pendekatan ini diharapkan mampu membangun loyalitas komunitas yang lebih kuat sekaligus memperluas jangkauan distribusi film nasional ke pasar internasional secara digital.
 
"Kami tidak hanya berhenti pada pendanaan, melainkan membangun loyalitas komunitas yang organik di mana penonton tidak lagi menjadi konsumen pasif, tetapi dapat berpartisipasi aktif mendukung film sejak tahap produksi hingga promosi," ujarnya. 
Melalui kolaborasi kekuatan penceritaan lokal dari PH ternama dan dukungan ekosistem finansial modern, langkah ini diharapkan Joshua bisa menetapkan standar baru industri perfilman nasional yang adaptif terhadap perkembangan teknologi global.
 
"Kami optimis dapat menjadi standar baru bagaimana aset digital bekerja menciptakan nilai nyata," tutupnya. 
 
 
 
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(ELG)




TERKAIT

BERITA LAINNYA