Sahil Mulachela (Foto: Instagram.com/sahilmulachela)
Sahil Mulachela (Foto: Instagram.com/sahilmulachela)

Sahil Duo Bahlul Kecam Peran MC Booth Newport di The Sounds Project

Elang Riki Yanuar • 13 Agustus 2026 08:00
Ringkasnya gini..
  • Sahil Mulachela mempertanyakan kinerja MC, LO, dan penanggung jawab acara dalam mencegah tantangan membaca Al-Qur'an berhadiah miras di The Sounds Project.
  • Sahil menilai pengendalian acara seharusnya menjadi tanggung jawab MC ketika pengunjung mengambil alih mikrofon.
  • Polemik challenge Al-Qur'an berhadiah miras di The Sounds Project masuk ranah hukum setelah polisi menangkap dua orang
Jakarta: Penyiar radio sekaligus podcaster Sahil Mulachela ikut menyoroti polemik tantangan membaca ayat Al-Qur'an berhadiah minuman keras (miras) yang terjadi di festival musik The Sounds Project Vol. 9: Beyond Memories. 
 
Insiden tersebut berlangsung pada hari kedua festival di kawasan Ancol, Jakarta Utara, Minggu (9/8).
 
Sebelumnya, pemilik akun @aqueer_ yang mengaku sebagai master of ceremony (MC) dalam kejadian tersebut menyampaikan permintaan maaf setelah video pelafalan Surah Ad-Duha di booth Newport viral di media sosial.

Pria bernama asli Ega itu menjelaskan melalui Threads bahwa dirinya lalai mengendalikan mikrofon ketika seorang pengunjung membuat sayembara membaca Alquran. Ia juga menegaskan bahwa pihak Newport tidak terlibat dalam aksi tersebut.
   

Sahil Pertanyakan Peran MC

Klarifikasi tersebut kemudian mendapat tanggapan dari Sahil. Berbekal pengalamannya selama dua dekade, ia mempertanyakan bagaimana mikrofon dapat diambil alih pengunjung tanpa segera dihentikan.
 
“Ega, saya Professional MC udah dari tahun 2006. Pertanyaan saya, kok bisa ada 'orang lain' yang tiba2 ambil alih MIC MC lalu dibiarin gitu aja?” komentar Sahil melalui akun @sahilmulachela.
 
Sahil menilai seorang MC memiliki tanggung jawab untuk mengendalikan jalannya acara agar tetap sesuai dengan arahan dan konsep yang telah ditentukan. Ia pun mempertanyakan langkah yang seharusnya diambil ketika aksi tersebut mulai keluar dari pedoman acara.
 
“Bukannya MC tugasnya memandu & mengontrol acara sesuai rundown? Kalo ternyata dia bikin gimmick diluar brief dari brand, kok ga anda ambil alih lagi?” tulisnya.
 
Selain MC, Sahil turut mempertanyakan fungsi liaison officer (LO) serta penanggung jawab acara. Menurutnya, pihak-pihak tersebut semestinya dapat melakukan intervensi ketika aksi tersebut berlangsung.
 
“Lalu LO MC nya kemana? Penanggung jawab acaranya kemana? Kok ga melakukan intervensi pada saat ini terjadi? Apakah ini pembiaran?” tambah Sahil.
 
Ia kemudian menegaskan keberatannya terhadap penggunaan ayat suci dalam aktivitas tersebut.
 
“Ayat2 suci kami TIDAK PANTAS DIGANJAR dengan MINUMAN BERALKOHOL!” pungkasnya.  

Polisi Tangkap Dua Orang

Polemik tersebut kini telah masuk ke ranah hukum. Polisi menangkap dua orang yang diduga terlibat dalam kejadian tersebut, yakni perempuan berinisial R dan laki-laki berinisial E. Kendati demikian, polisi belum mengungkap peran masing-masing.
 
Penangkapan dilakukan setelah Tim Hukum Muslim melaporkan dugaan penistaan agama ke Polda Metro Jaya pada Selasa (11/8). 
 
Dalam laporan tersebut, terdapat lima pihak yang dilaporkan, yakni penyelenggara acara, produsen Newport, dua MC, serta seorang pengunjung yang terlihat mengikuti tantangan membaca Surah Ad-Duha.

Awal Mula Kontroversi

Kasus ini bermula dari unggahan akun Threads @jarrkojarr yang mengaku menyaksikan tantangan membaca Surah Ad-Duha dengan hadiah sebotol minuman keras di booth Newport. Saat itu, ia tengah menunggu penampilan Hindia di festival.
 
Unggahan tersebut kemudian viral dan menuai kecaman dari warganet. Aktivitas itu dinilai tidak semestinya dilakukan karena membawa ayat Al-Qur'an ke dalam kegiatan promosi minuman beralkohol.
 
Sejumlah pihak juga ikut memberikan tanggapan, termasuk Majelis Ulama Indonesia (MUI), Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), hingga Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung.  

The Sounds Project dan Newport Minta Maaf

Promotor The Sounds Project sebelumnya telah menyampaikan permintaan maaf dan mengecam penggunaan agama dalam aktivitas tersebut. Mereka juga berjanji menegur pihak sponsor, mengidentifikasi pihak yang terlibat, serta melakukan evaluasi internal agar kejadian serupa tidak terulang.
 
Sementara itu, Newport menegaskan bahwa tantangan tersebut bukan bagian dari program atau strategi promosi mereka. Aktivitas itu disebut muncul secara spontan dari pengunjung.
 
Meski demikian, Newport mengakui adanya kelemahan dalam pengawasan di lapangan, termasuk ketika pengunjung dapat mengambil alih mikrofon tanpa segera dihentikan. Mereka pun menyampaikan permintaan maaf kepada masyarakat, khususnya umat Muslim dan tokoh agama yang merasa terganggu atau terluka akibat kejadian tersebut.
 
(Nyimas Ratu Intan Harleysha)
 
 
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(ELG)




TERKAIT

BERITA LAINNYA