Film Pelangi di Mars (Foto: instagram)
Film Pelangi di Mars (Foto: instagram)

Pelangi di Mars Ingin Jadi Standar Baru Film Fiksi Ilmiah Indonesia

Elang Riki Yanuar • 16 Maret 2026 08:00
Ringkasnya gini..
  • Film fiksi ilmiah Pelangi di Mars karya Upi Guava dijadwalkan tayang di bioskop mulai 18 Maret 2026 saat libur Lebaran.
  • Cerita Pelangi di Mars mengikuti gadis pertama yang lahir di Mars yang memimpin misi mencari mineral penyelamat krisis air bumi.
  • Diproduksi lebih dari lima tahun, Pelangi di Mars digarap dengan animasi penuh dan teknologi XR berbasis Unreal Engine.
Jakarta: Film fiksi ilmiah Indonesia berjudul Pelangi di Mars dipastikan akan hadir di bioskop pada libur Lebaran 2026. Film yang disutradarai oleh Upi Guava ini dijadwalkan tayang mulai 18 Maret 2026.
 
Menurut Upi, Pelangi di Mars tidak hanya dirancang sebagai satu film tunggal. Sejak awal, proyek ini dipersiapkan untuk memiliki semesta cerita yang lebih luas. Ia berencana mengembangkan kisahnya menjadi sekuel, serial, hingga berbagai bentuk penguatan kekayaan intelektual atau intellectual property (IP).
 
Untuk mewujudkan visi tersebut, film ini dibuat dengan pendekatan animasi penuh. Berbeda dari beberapa proyek sebelumnya yang menggunakan format hybrid, Pelangi di Mars mengandalkan visual animasi untuk membangun dunia futuristik yang lebih kuat.

Upi juga membuka kemungkinan eksplorasi genre lain di masa depan dalam semesta cerita yang sama. Selain petualangan fiksi ilmiah, ia mempertimbangkan untuk mengembangkan cerita dengan sentuhan genre lain seperti horor.
 

Sinopsis Pelangi di Mars

Cerita film ini mengambil latar waktu pada tahun 2100, ketika bumi mengalami krisis air yang sangat parah dan berada di ambang kehancuran. Dalam situasi tersebut, manusia mulai mencari harapan baru di luar planet bumi.
 
Kisahnya berpusat pada seorang gadis berusia 12 tahun bernama Pelangi. Ia menjadi manusia pertama yang lahir dan tumbuh di planet Mars. Setelah kehilangan ibunya, Pelangi harus bertahan hidup dengan bantuan sekelompok robot tua yang menemaninya.
 
Dalam perjalanan hidupnya, Pelangi memimpin sebuah misi penting untuk mencari Zeolith Omega, mineral langka yang dipercaya mampu memurnikan air dan menyelamatkan masa depan manusia.
 
Namun perjalanan tersebut tidak berjalan mudah. Pelangi harus menghadapi berbagai rintangan, termasuk ancaman dari korporasi raksasa bernama Nerotek yang berusaha menguasai sumber air demi kepentingan mereka sendiri.
 
Film produksi Mahakarya Pictures ini menghadirkan sejumlah aktor dari berbagai generasi. Beberapa di antaranya adalah Rio Dewanto, Lutesha, dan Livy Renata, serta Keinaya Messi Gusti yang memerankan karakter utama Pelangi.
 
Selain para pemeran utama, film ini juga melibatkan sejumlah pengisi suara untuk karakter robot, seperti Kristo Immanuel, Gilang Dirga, dan Bimo Kusumo. Sementara gerakan karakter robot diperankan oleh body actor seperti Almanzo Konoralma, Rika Kenja, dan Satria Towel.
 
Produser film ini, Dendi Reynando, mengungkapkan bahwa proses produksi Pelangi di Mars bukanlah perjalanan singkat. Ia mengatakan bahwa proyek ini membutuhkan waktu lebih dari lima tahun hingga akhirnya siap tayang di bioskop.
Menurut Dendi, Mahakarya Pictures ingin menghadirkan film ini sebagai bentuk harapan bagi generasi muda Indonesia. Ia berharap kisah Pelangi dapat menginspirasi anak-anak untuk berani bermimpi besar tentang masa depan.
 
Dukungan terhadap proyek ini juga datang dari pemerintah. Deputi Bidang Kreativitas Media Kementerian Ekonomi Kreatif, Agustini Rahayu, menilai film ini sebagai langkah berani dalam mengeksplorasi genre fiksi ilmiah di industri film Indonesia.
 
Ia menyebut proyek seperti Pelangi di Mars menunjukkan bahwa industri film nasional tidak hanya berkembang dari sisi cerita, tetapi juga dari sisi teknologi produksi yang semakin maju.
 
Salah satu hal yang membuat film ini menonjol adalah penggunaan teknologi XR atau Extended Reality berbasis Unreal Engine. Teknologi ini memungkinkan proses produksi menggunakan konsep virtual production dengan kemampuan rendering secara real time.
 
Upi mengaku mulai mempelajari Unreal Engine secara otodidak sejak sekitar tahun 2020 melalui berbagai sumber di internet. Ketertarikannya muncul setelah melihat potensi virtual production yang mampu membuka kemungkinan visual baru dalam pembuatan film.
 
Bahkan pada 2023, tim produksi telah membangun studio virtual production sendiri di Jakarta untuk mendukung proses pembuatan Pelangi di Mars. Dengan teknologi ini, visual film dapat langsung terlihat saat proses syuting berlangsung sehingga memberikan kebebasan lebih besar bagi para kreator untuk mengeksplorasi ide.
 
Selain mengusung petualangan luar angkasa, film berdurasi 1 jam 52 menit ini juga mengangkat isu penting mengenai keberlanjutan lingkungan, khususnya tentang krisis air di masa depan.
 
Melalui cerita tersebut, Upi berharap penonton dapat melihat pesan bahwa kerja keras dan keberanian untuk bermimpi besar tidak akan pernah sia-sia. Ia juga berharap Pelangi di Mars dapat menjadi salah satu langkah baru bagi perkembangan film fiksi ilmiah di Indonesia.
 
(Maiza Jasmine A.R)
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(ELG)




TERKAIT

BERITA LAINNYA