Film Menegangkan tentang Gunung Krakatau
Film Menegangkan tentang Gunung Krakatau

Film Ini Kisahkan Dahsyatnya Letusan Gunung Krakatau

Elang Riki Yanuar • 06 September 2026 10:56
Ringkasnya gini..
  • Di tengah perhatian terhadap aktivitas vulkanik tersebut, kisah Krakatau ternyata juga pernah diangkat ke layar lebar. Salah satunya adalah film Krakatoa, East of Java yang dirilis pada 1969.Film bergenre petualangan tersebut disutradarai Bernard L. Kowalski dan dibintangi Maximilian Schell, Diane Baker, serta Brian Keith. Berdasarkan catatan American Film Institute (AFI), film ini memiliki durasi 148 menit dan mengambil latar peristiwa menjelang letusan Krakatau pada 1883
  • Kisah film tersebut mengambil latar sejarah yang memang pernah terjadi. Pada 1883, Krakatau mengalami rangkaian letusan besar yang mencapai puncaknya pada 26–27 Agustus.
  • Namun, gambaran dalam film tetap merupakan karya fiksi petualangan. Sementara kondisi aktivitas Gunung Anak Krakatau saat ini sebaiknya merujuk pada informasi resmi dari Badan Geologi dan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG).
Jakarta: Aktivitas Gunung Anak Krakatau kembali menjadi perhatian setelah gunung api di Selat Sunda itu mengalami erupsi menerus pada Sabtu, 5 September 2026. Fenomena tersebut mengingatkan kembali pada sejarah panjang Krakatau yang pernah mengalami salah satu letusan vulkanik paling dahsyat dalam sejarah.

Di tengah perhatian terhadap aktivitas vulkanik tersebut, kisah Krakatau ternyata juga pernah diangkat ke layar lebar. Salah satunya adalah film Krakatoa, East of Java yang dirilis pada 1968.

Film bergenre petualangan tersebut disutradarai Bernard L. Kowalski dan dibintangi Maximilian Schell, Diane Baker, serta Brian Keith. Berdasarkan catatan American Film Institute (AFI), film ini memiliki durasi 148 menit dan mengambil latar peristiwa menjelang letusan Krakatau pada 1883.

Kisah kapal yang mendekati Krakatau

Krakatoa, East of Java mengikuti perjalanan kapal bernama Batavia Queen yang berlayar dari Singapura menuju kawasan Krakatau. Kapal tersebut membawa sejumlah penumpang dengan tujuan mencari kapal yang tenggelam dan muatan mutiara.

Situasi kemudian berubah menjadi semakin menegangkan ketika kapal mendekati kawasan gunung api. Para penumpang harus menghadapi berbagai bencana alam, termasuk aktivitas vulkanik Krakatau.

Dalam cerita film, letusan Krakatau menjadi puncak konflik. Kapal berusaha menyelamatkan diri ketika letusan gunung api memicu gelombang besar di laut.
 

Ada kesalahan pada judul film

Meski mengangkat Krakatau, judul Krakatoa, East of Java justru memiliki kesalahan geografis.

Krakatau sebenarnya berada di sebelah barat Pulau Jawa, tepatnya di kawasan Selat Sunda. Kesalahan tersebut bahkan tercatat dalam arsip AFI. Pihak distributor disebut baru menyadari kesalahan tersebut setelah berbagai materi promosi dibuat sehingga mengganti judul dianggap terlalu mahal.

Film tersebut kemudian dirilis pada 1969 dan mendapat nominasi Academy Award untuk kategori efek visual.

Krakatau dan letusan dahsyat 1883

Kisah film tersebut mengambil latar sejarah yang memang pernah terjadi. Pada 1883, Krakatau mengalami rangkaian letusan besar yang mencapai puncaknya pada 26–27 Agustus.

Berdasarkan kronologi Badan Geologi Kementerian ESDM, aktivitas Krakatau telah meningkat sejak Mei 1883. Pada 20 Mei terjadi letusan disertai hujan abu lebat. Aktivitas kemudian terus berlangsung hingga letusan besar pada akhir Agustus.

Pada 27 Agustus 1883, terjadi beberapa letusan besar. Letusan tersebut kemudian memicu tsunami yang menghantam wilayah pesisir di sekitar Selat Sunda.

Kementerian ESDM mencatat material vulkanik yang dikeluarkan dalam peristiwa tersebut mencapai sekitar 18 kilometer kubik. Abu vulkanik bahkan mencapai ketinggian sekitar 80 kilometer dan memengaruhi kondisi atmosfer serta pencahayaan matahari untuk beberapa waktu.
 

Anak Krakatau kembali erupsi

Sejarah tersebut kembali menjadi perhatian setelah Gunung Anak Krakatau mengalami peningkatan aktivitas pada 2026.

Menurut laporan resmi Badan Geologi tertanggal 5 September 2026, Gunung Anak Krakatau mengalami erupsi menerus sejak pukul 23.07 WIB. Erupsi disertai suara gemuruh dan semburan berwarna merah menyala yang terlihat secara terus-menerus.

Badan Geologi menyebut fenomena tersebut menyerupai lava fountain atau air mancur lava. Aktivitas erupsi yang berlangsung selama beberapa jam dan berkaitan dengan lava fountain disebut sebagai fenomena yang umum terjadi.

Sejak 2 Juli 2026, status aktivitas Gunung Anak Krakatau berada pada Level III atau Siaga. Badan Geologi juga menyatakan erupsi berskala rendah terus terjadi hingga 5 September 2026, dengan potensi bahaya berupa aliran lava dan lontaran batu pijar serta hujan abu lebat.

Meski demikian, Badan Geologi menyatakan tubuh Gunung Anak Krakatau yang terbentuk kembali setelah erupsi 22 Desember 2018 masih relatif kecil dan berdasarkan evaluasi saat ini tidak berpotensi mengalami keruntuhan dalam skala yang dapat memicu tsunami. Masyarakat dan wisatawan tetap dilarang memasuki radius 3 kilometer dari pusat aktivitas gunung.

Bagi pencinta film bencana, Krakatoa, East of Java dapat menjadi salah satu tontonan menarik untuk melihat bagaimana tragedi Krakatau 1883 pernah diterjemahkan ke dalam film layar lebar.

Namun, gambaran dalam film tetap merupakan karya fiksi petualangan. Sementara kondisi aktivitas Gunung Anak Krakatau saat ini sebaiknya merujuk pada informasi resmi dari Badan Geologi dan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG).

(Annisa Julinah)



Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(ELG)




TERKAIT

BERITA LAINNYA