Alih-alih mendapat pujian karena kualitas grafis, Niu Lai justru ramai dibicarakan karena animasinya dianggap sangat sederhana hingga disebut lebih buruk daripada hasil buatan artificial intelligence (AI).
Menariknya, film tersebut juga disebut memiliki kemiripan dengan Merah Putih: One for All, film animasi Indonesia yang sebelumnya ramai diperbincangkan karena kualitas visualnya.
Melansir dari laman Mariviu, film yang awalnya mendapat banyak cibiran tersebut justru berubah menjadi fenomena setelah viral di media sosial.
Seperti Apa Film Niu Lai?
Niu Lai merupakan film animasi China yang disutradarai Xin Yumeng dan ditulis oleh Sun Lifang. Film ini diproduksi Dalian Jingyuan Culture Film and Television Media.Cerita film berawal dari seekor burung yang melintasi gurun dan bertemu dengan anak sapi bernama Niu Lai. Setelah mendengar lagu pengantar tidur dari anak sapi tersebut, sang burung tertidur.
Dalam tidurnya, burung tersebut melihat perjalanan hidup Niu Lai hingga tumbuh dewasa. Ceritanya membawa penonton mengikuti pengalaman Niu Lai mengenai cinta, keberanian, pengorbanan, hingga perjuangannya menghadapi kematian.
Film berdurasi 86 menit ini hanya memiliki empat karakter. Menariknya, pengisi suara sekaligus sosok yang terlibat dalam pengembangan film tersebut hanya Xin Yumeng dan Sun Lifang.
Niu Lai resmi tayang di bioskop China pada 5 Agustus 2026.
Grafis Niu Lai Jadi Bahan Olok-olok
Perhatian terhadap Niu Lai awalnya bukan datang dari cerita maupun kualitas produksinya. Visual animasi film tersebut justru menjadi pemicu viralitas.
Dengan CGI yang terlihat sederhana dan gerakan yang dianggap kaku, Niu Lai menjadi bahan candaan warganet di Weibo. Sejumlah pengguna media sosial bahkan menilai tampilannya lebih buruk dibandingkan animasi yang dihasilkan AI.
Film tersebut kemudian dibandingkan dengan Merah Putih: One for All karena sama-sama mendapat sorotan publik terkait kualitas visual animasinya.
Namun, cibiran tersebut tidak sepenuhnya membuat film kehilangan perhatian. Sebaliknya, semakin banyak orang membicarakannya, semakin besar pula rasa penasaran terhadap Niu Lai.
Dibuat Hanya dengan Dua Orang
Di balik visual yang menjadi bahan perbincangan, Niu Lai ternyata memiliki proses produksi yang cukup berbeda dari film animasi dengan tim besar.Film ini dikembangkan hanya oleh dua orang, yakni Xin Yumeng dan Sun Lifang. Proses produksinya bahkan membutuhkan waktu sekitar lima tahun.
Anggaran yang digunakan juga tergolong kecil, yakni sekitar 100 ribu yuan atau sekitar Rp264 juta.
Dengan sumber daya tersebut, Niu Lai tentu memiliki keterbatasan jika dibandingkan dengan film animasi yang diproduksi studio besar dengan ratusan kru dan anggaran fantastis.
Awalnya Sepi Penonton, Kemudian Viral
Pada awal penayangannya, Niu Lai justru mencatat angka penjualan tiket yang sangat rendah.
Tanpa promosi maupun trailer, film tersebut hanya memperoleh sekitar 7.169 yuan dari 236 penonton dalam sembilan hari pertama.
Menurut data yang dikutip Mariviu dari Maoyan Pro, angka tersebut menjadi rekor terendah untuk film animasi China sepanjang 2026 pada saat itu. Situasi ini kemudian berubah setelah visual film mulai ramai diperbincangkan di media sosial.
Cibiran yang awalnya menjadi masalah justru berubah menjadi promosi gratis. Orang-orang yang penasaran kemudian sengaja datang ke bioskop untuk melihat langsung film yang sedang ramai dibicarakan tersebut.
Viral Malah Dongkrak Box Office
Setelah menjadi bahan perbincangan, proyeksi pendapatan Niu Lai mengalami peningkatan drastis.Menurut laporan yang dikutip Mariviu dari akun X Shanghai Daily, proyeksi pendapatan film tersebut melonjak hingga 5,98 juta yuan atau sekitar Rp15,8 miliar. Pada 15 Agustus saja, film ini disebut mampu meraup sekitar 46 ribu yuan dalam satu hari.
Fenomena tersebut menjadi bukti bahwa perhatian publik di media sosial bisa memberikan dampak besar terhadap sebuah film.
Niu Lai yang sebelumnya nyaris tidak diperhitungkan justru berhasil membuat orang datang ke bioskop karena penasaran.
Dari Cibiran Berubah Jadi Apresiasi
Menariknya, respons terhadap Niu Lai tidak berhenti pada olok-olok. Sebagian warganet mulai melihat film tersebut dari sudut pandang berbeda.Di tengah maraknya penggunaan AI dalam produksi visual, ada pula yang justru mengapresiasi usaha manusia di balik pembuatan Niu Lai. Film tersebut dianggap menunjukkan kerja keras pembuatnya meskipun memiliki keterbatasan dari sisi teknologi dan anggaran.
Pada akhirnya, Niu Lai membuktikan bahwa sebuah film tidak selalu membutuhkan produksi besar untuk mendapatkan perhatian.
Awalnya dibully karena grafis yang dianggap "burik", film ini justru berhasil memanfaatkan viralitas untuk menarik penonton dan mendongkrak box office.
(Ellen Octovia Suherman)
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda