Jakarta: Film terbaru persembahan Imajinari, Operasi Pesta Copet, karya debut sutradara Edy Khemod, resmi merilis official trailer terbarunya. Film ini menghadirkan kisah emosional empat anak muda yang nekat mencopet di festival musik terbesar di Indonesia, Pestapora, karena terdesak masalah ekonomi.
Operasi Pesta Copet mengisahkan Ijal (Iqbaal Ramadhan), Adut (Kristo Immanuel), Tia (Zulfa Maharani), dan Melodi (Kawai Labiba), empat sahabat yang tinggal di kawasan pinggiran kota. Sulitnya mendapatkan pekerjaan layak di tengah biaya hidup yang terus meningkat membuat mereka mengambil jalan pintas dengan menjadi pencopet di konser musik.
Salah satu hal yang menjadi daya tarik film ini adalah proses produksinya. Tim produksi menerapkan dua metode syuting, yakni mengambil gambar langsung di tengah kerumunan penonton saat Pestapora 2025 berlangsung, serta melakukan proses recreate menggunakan panggung, tata visual, dan sekitar 500 pemeran pendukung (extras) yang dibuat menyerupai suasana festival asli.
Saat sesi jumpa pers di XXI Plaza Senayan, Jakarta, pada Selasa, 22 Juli 2026, para pemain pun sempag membagikan pengalaman mereka menjalani proses syuting yang tak biasa.
Kawai Labiba menjadi salah satu pemain yang mendapat kesempatan menjalani syuting langsung di hari penyelenggaraan Pestapora. Menurutnya, tantangan terbesar datang dari situasi yang benar-benar tidak bisa dikendalikan.
"Kebetulan peranku itu kedapetan yang ada syuting di hari H Pesta Poranya. Itu rasanya memang lebih ada pressure sih karena kami bener-bener nyelem di antara penonton asli yang nggak tahu kalau ada syuting," ungkap Kawai.
Ia mengaku, tekanan itu bukan hanya soal akting, tetapi juga menjaga agar kostum maupun alur cerita film tidak bocor kepada publik. Di tengah suara musik yang menggelegar, komunikasi antarpemain dan kru pun menjadi tantangan tersendiri.
"Jadi ada rasa ketakutan kayak kira-kira ini nanti bakal bocor nggak ya kostum dan storyline-nya? Kita juga harus saling koordinasi, saling ngasih brief di tengah musik yang suaranya sangat-sangat besar, masuk-masuk ke dalam penonton segala macem itu seru banget. Memang susahnya adalah karena tidak ada janjian. Kalau sama extras kita bisa tahu kapan janjiannya. Kalau terlalu banyak ngulang take nanti bandnya keburu abis," tuturnya.
Sementara itu, Kristo Immanuel lebih banyak menjalani proses syuting saat suasana Pestapora direka ulang. Meski bukan berlangsung di hari festival, ia mengaku atmosfer yang dibangun terasa begitu nyata hingga membuat para pemain benar-benar larut ke dalam adegan.
"Kalau dari gue kebetulan pas bagian konser langsungnya tuh gue nggak kedapetan banyak. Cuman yang gue rasakan adalah saat udah di bagian recreate Pestapora itu rasanya real banget. 500 extras tuh didandanin rasanya kita kayak beneran di Pestapora," ujar Kristo.
Menurut Kristo, proses pengulangan adegan juga terasa unik. Setiap kali sutradara meminta take ulang, seluruh extras harus kembali ke posisi semula layaknya waktu yang diputar kembali.
"Jadinya setiap kali ulang take, extras-nya kan direset lagi dari awal. Itu tuh kayak time machine tiba-tiba jadi 'set ngulang lagi zrutt, balik'. Keren sih, keren banget. Terus pas udah mulai take rasanya immerse banget karena kita harus nyopet gitu kan nyopet extras-nya jadi kayak berasa deg-degannya tuh real gitu kayak ada rasa takut ketahuannya gitu sih," sambungnya.
Bagi Iqbaal Ramadhan, pengalaman syuting di tengah festival musik memberikan tantangan yang sama sekali berbeda dibandingkan produksi film yang pernah ia jalani sebelumnya. Alih-alih menciptakan situasi sesuai kebutuhan adegan, para pemain justru dituntut merespons momen yang terjadi secara spontan.
"Yang paling menarik kalau buat gue sendiri adalah biasanya kan syuting film itu menciptakan momen. Momennya tuh dibuat, saya berdiri di sini kami berempat teman-teman di sini lalu dialognya tek-tokan gitu," kata Iqbaal.
Menurutnya, situasi di Pestapora membuat mereka harus benar-benar beradaptasi dengan kondisi yang ada karena tidak mungkin meminta ribuan penonton mengulang momen yang sudah terjadi.
"Bedanya kalau syuting di Pestapora yang tadi Kawai cerita itu lebih merespon momen. Jadi kalau misalnya memang lagi ada penonton yang lagi nonton Sal Priadi terus nangis-nangis, ya kita nggak bisa minta 'Mas boleh ulang nggak mas'. Mungkin itu yang akhirnya jadi sangat berbeda saat berlangsungnya karena kita memang harus merespon momen waktunya tuh terbatas dengan pressure yang tinggi koordinasi yang apik. Nah itu yang saya nggak pernah lakukan sebelumnya di produksi lain," ungkapnya.
Di sisi lain, Zulfa Maharani justru menikmati proses syuting yang dilakukan sebelum hari penyelenggaraan festival. Menurutnya, momen tersebut menjadi kesempatan untuk mengeksplorasi adegan-adegan drama yang mustahil dilakukan ketika Pestapora sedang berlangsung.
"Kalau buat gue sih yang paling menarik tuh karena sebenarnya pas syuting sebelum hari H itu lebih ke drama-drama, dialog-dialog yang nggak mungkin kita lakukan di hari H. Karena kan teknis gitu-gitu nggak memungkinkan kita untuk dialog," kenang Zulfa.
Meski demikian, ia tetap menemukan tantangan tersendiri ketika harus mempertahankan ritme adegan, bahkan saat musik yang menjadi panduan sudah dimatikan.
"Cuman yang lucu tuh ada beberapa scene, gue sama Kristo atau ama Iqbal gitu, kita diguide dulu sama lagu gitu. Terus habis itu pas dialog, guide lagunya tuh ilang dan gimana kita harus kayak tetep goyang sesuai lagu yang udah dimatiin gitu," tutupnya.
Bagi Sobat Medcom yang penasaran dengan debut penyutradaraan Edy Khemod, film Operasi Pesta Copet dijadwalkan tayang di bioskop mulai 27 Agustus 2026.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
FOLLOW US
Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan